Monday, February 5, 2018

Ada Waktunya

Ada waktunya, yang kamu inginkan akhirnya datang. Tanpa perlu berhitung waktu yang tepat, karena takdir-Nya jauh lebih dari cermat.

Ada waktunya, masalah yang memusingkanmu akhirnya selesai. Tanpa sadar, tanpa permintaan lanjutan untuk bisa diselesaikan melalui doa-doa yang cukup lelah dipanjatkan.

Ada waktunya, ketakutanmu akan hilang sendiri. Karena ada penawar yang datang tanpa dugaan, hanya ingin membantu lukamu kering segera.

Ada waktunya, sesuatu yang kamu simpan lama-lama menjadi berharga. Nilainya naik tiba-tiba padahal kamu tidak pernah membayangkannya.

Ada waktunya, sikap baikmu masa lalu menolongmu kini. Melalui tangan orang lain yang tidak pernah kau kenal, namun akan selalu kamu ingat.

Ada waktunya, hari yang kamu nantikan tiba. Dengan segala rencana serta doa yang bertemu di atas langit lalu diamini oleh semesta.

--- 11.45 WIB 5/2/18 menuju pagi

Sunday, January 14, 2018

Museum MACAN: Destinasi Kesenian Baru di Jakarta

Halooo..assalamualaikum!

Sudah lama banget nggak bahas soal jalan-jalan ya di blog ini. Berhubung memang belum jalan-jalan lagi ke luar kota, jadi aku akan share jalan-jalan di dalam kota yang tentunya worth it banget untuk kamu coba lagi. Sabtu kemarin, aku berencana untuk pergi dadakan ke Museum Macan. Kenapa dadakan? Karena baru direncanakan kemarin pagi, sebelum aku berangkat kerja. Iyaaa kerja, alias lembur. lol. Aku berangkat dari Jakarta Timur, sekitar jam 15.30. Baru kali ini nih ke museum sore-sore.
Bagian Depan Museum MACAN

Monday, January 1, 2018

Memahami Arti Rupiah dari Ibu

Menyimpan banyak lembaran rupiah di dalam dompet dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan. Melalui rupiah, saya dapat mengenal pahlawan-pahlawan Indonesia yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Selain itu juga, berkat rupiah, tempat-tempat eksotis di Indonesia serta rumah adat yang juga pernah tergambarkan dalam lembaran uang kertas menjadi lebih dikenal. Banyak sekali pesan serta pengetahuan yang dapat kita ketahui melalui selembar pecahan rupiah yang kita miliki. 


Jauh sebelum dapat menghasilkan uang sendiri, saya sudah belajar mengenal rupiah dari Ibu. Ketika itu saat duduk di bangku Sekolah Dasar, ada mata pelajaran yang menginformasikan tentang jenis hobi. Salah satunya adalah filateli. Sebuah hobi yang terdengar paling menarik bagi saya. Kemudian saya menceritakan tentang filateli ke Ibu saya di rumah. Beruntungnya, ternyata Ibu saya juga seorang filateli sejak muda. Ia mengumpulkan banyak perangko dan uang kertas. 

Perangko dan uang kertas yang ia koleksi tersimpan rapi pada stamp album di lemari buku rumah saya. Hingga saat ini, stamp album tersebut masih dalam kondisi baik. Begitu juga dengan koleksi di dalamnya. Berikut tampilan koleksi uang kertas yang masih tersimpan rapi di stamp album milik Ibu.




Semenjak hari itu, saya belajar tentang bagaimana rupiah begitu berharga hingga harus diperlakukan dengan baik. Uang kertas itu terjejer rapi puluhan tahun dalam stamp album. Sehingga saya jadi merasa perlu melakukan hal yang sama dengan uang kertas yang saya miliki. Sejak SD, saya menjadi terbiasa untuk tidak melipat uang kertas. Diawali dengan pilihan dompet yang panjang sesuai dengan ukuran uang kertas.

Dikarenakan adanya kesadaran untuk menjaga uang kertas, saya jadi prihatin saat melihat ada orang lain yang memperlakukan uang kertas dengan tidak layak. Misalnya dengan dilipat, dicoret-coret, dan distaples. Karena saya yakin sekali uang kertas di Indonesia sudah didesain dan diproduksi sedemikian rupa agar dapat digunakan sebagai alat transaksi yang layak dan tahan lama. Jangan sampai hal itu malah ternodai oleh penggunanya sendiri.

Rupiah adalah salah satu "aset bangsa". Kewajiban untuk menggunakan rupiah di seluruh wilayah Indonesia, secara tidak langsung telah mengingatkan kita kalau rupiah merupakan salah satu bentuk identitas kita sebagai Warga Negara Indonesia. Penetapan rupiah sebagai mata uang orang Indonesia dilakukan pada tahun 1949, 4 tahun setelah kemerdekaan negara ini.

Setelah mengetahui arti rupiah, ada baiknya kita juga mulai tergerak untuk memperlakukannya dengan baik. Sesimpel dengan tidak melipat dan mencoret-coretnya saja. Karena mencintai rupiah bisa dimulai dari hal terkecil yang kita bisa.

Saturday, December 30, 2017

2017 Life Update: Resign dari Kantor

Assalamualaikum!

Semacam udah lama banget mau ngepost soal life update di tahun ini. Akhirnya sempat juga dipost saat 2017 hampir berakhir. 😅 Mohon maaf, ini dikarenakan terlalu banyak kejadian mengejutkan yang bikin aku merasa "duh nanti aja lah ditulisnya, nunggu endingnya dulu." Seakan-akan bakal beneran ada ending dari drama perpindahan kantor di tahun ini. Mari kita urutkan cerita awal resign dari kantor.

Selepas kuliah, aku dapat rejeki pekerjaan di sebuah media cetak which is ini merupakan salah satu jawaban dari mimpi sejak sekolah untuk bisa masuk ke dunia jurnalistik. Meskipun bukan sebagai jurnalis di sana, aku tetap merasa happy bisa support kebutuhan data dan dokumentasi untuk keperluan penulisan. Bekerja di media menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan dan menurutku perlu banget dilalui dengan penuh rasa syukur. Karena di sana, aku yang malas baca ini jadi perlu keep update banget sama informasi dan berita terkini dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, juga bisa merasakan dunia media yang sangat dinamis, termasuk orang-orang di dalamnya yang selalu muda secara pikiran dan energi.
 
Designed by Beautifully Chaotic