Tuesday, March 15, 2011

:''')

Untuk pertama kalinya, gue bakal cerita tentang apa yang gue lihat, dengar, dan rasakan ketika sepulang kuliah tadi. Mungkin ini terlihat biasa bagi kebanyakan orang. Namun menurut gue, ini gak biasa. Soalnya gue jarang banget ngerasain ini secara langsung. Langsung aja ya....
Siang tadi, seperti biasa gue naik k40 untuk sampai ke rumah. Di dalam angkot, ada beberapa penumpang. Tapi, yang paling menarik perhatian gue adalah seorang anak SD dengan mamanya. Entah kenapa, gue langsung berfikir “kok sekolah SD aja pake jauh-jauh naik angkot ya. Kok dianterin mamanya ya. Kok bla bla bla”. FYI: k40 itu start dari kampung rambutan, jadi menurut gue, anak SD tadi belajar di sekolah yang lumayan ‘berjarak’ dari rumahnya. Mungkin gue berfikir seperti ini karena gue sekolah di SD yang Cuma berjarak 100m dari rumah waktu itu, dan boro-boro deh dianterin sama nyokap -_-. Anak SD itu diam seribu bahasa loh sejak gue naik tadi. Gue makin heran. Emang sih guenya aja yang terlalu pengen tau. Anak itu cuma diem sambil ngusap-ngusap kepalanya, terus mamanya bilang “udah jangan diacak-acak terus, berantakan kan”
Beberapa menit kemudian
Ada suara “au...a...u...a” ditambah beberapa isyarat tangan, dari arah anak kecil tadi. Gue baru tau, baru kali ini gue ngeliat langsung penggunaan bahasa isyarat, yang beberapa hari yang lalu ada temen kuliah gue cerita ttg mata kuliah belanja yg dia ambil ‘bahasa isyarat’. Takjub sekaligus heran. Biasanya gue ngeliat contoh penggunaan bahasa isyarat seperti itu di acara-acara semacam kick andy atau semacamnya. Tapi sebetulnya bukan itu yang pengen gue bahas disini.
Entah kenapa gue ngerasa sedih banget, waktu anak SD itu belajar menghitung dengan isyarat dan suara khasnya itu, Ibunya setia banget dengerin, seakan-akan dia mengerti apa yang dimaksud anaknya. Anak itu terus bercerita tentang hal yang dialaminya tadi di sekolah, si Ibu dengan sabar mencoba mengartikannya dan juga menggunakan bahasa isyarat. Rasanya hati gue teriris saat melihat komunikasi antar ibu dan anak tadi. Gue gak habis pikir, si Ibu bener-bener menyayangi anaknya tanpa memperdulikan bahwa anaknya seorang tuna rungu. Tapi kenapa ya masih banyak Ibu-ibu lain di luar sana yang dengan tega membuang bayinya dalam karung di depan tempat pembuangan sampah, seakan tidak mengenal dosa. Miris banget. Sepanjang jalan pulang tadi, rasanya dada gue penuh sesak. Baru kali ini gue ngeliat ketulusan Ibu seorang tuna rungu yang sepertinya tidak perlu syarat. Yang paling bikin sedih adalah ketika gue mendengar anaknya bercerita dengan lafal yang kurang jelas, terbata-bata, namun si Ibu selalu mengangguk dan memberi respon positif, maksudnya selalu mengerti apa yang diceritakan anaknya.
Hal tadi membuat gue berfikir tentang arti bersyukur. Tentang arti bagaimana cara mengartikan hidup. Tentang bagaimana meresapi apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Karena sebenarnya kita bisa belajar dari berbagai hal, yang terkadang kita sendiri gak menyadarinya :’’’)
Share with the world:

3 comments:

bharaaawr said...

iya ya ke, coba nyokap gua baca :")

fakhriadhista said...

terhuraaa.......

Keke said...

@bharaaawr hahaha :)


@fakhriadhista terlalu

 
Designed by Beautifully Chaotic