Wednesday, May 9, 2012

Review Three Weddings and Jane Austen - Prima Santika

Hai hai hai makasih buat yang udah bolak-balik buka blog ini nungguin postingan terbaru gue, tapi yang ditunggu malah gak muncul-muncul huehehe maaf kepedean :p Oke, kali ini gue bakal nge-review sebuah novel yang beberapa waktu lalu baru aja gue selesain, dan cukup membuat gue mikir, deg-degan, bahkan parno. Novelnya berjudul Three weddings and Jane Austen, terbitan Gramedia. 

Ceritanya tentang? Tentang seorang ibu penggemar novel roman klasik karya Jane Austen yang memiliki kisah kurang lebih sama seperti novel-novel Jane Austen. Ibu Sri memiliki 3 anak perempuan yang sudah dalam usia matang namun belum ada satupun yang menikah. Kebayang gak sih gimana pusingnya ibu satu ini? Was-was, khawatir, cemas lah ya pasti. Ketiga anaknya yang diberi nama  hasil adaptasi dari tokoh-tokoh novel Jane Austen pun merasa cemas, tapi jauh lebih pusing melihat Ibu mereka yang terlihat sibuk sendiri dalam merencanakan perjodohan untuk mereka. Ketiga anak perempuan ini bernama Emma, Mary, dan Lisa.
Emma, anak pertama Ibu Sri yang bisa dibilang paling cantik, sabar, dan paling dewasa lah ya tentunya. Kisahnya yang menurut gue agak tragis dibanding kedua adiknya. Udah pacaran 8 tahun, dijanjiin bakal dinikahin sama si calon suaminya, even mereka beda suku. Pihak keluarga besar cowoknya yang agak ribet sama masalah persukuan. Tapi si cowok teteup kekeuh buat nikahin Emma. But you never know what will
happen someday. Ada sesuatu yang begitu aja terjadi dan membuat Emma gak jadi dinikahin sama pria itu. Kebayang gak gimana sakitnya? Dengan proses yang sangat dewasa menurut gue, Emma bisa menerima keputusan itu. Karena dia tau, si cowok itu (maaf gue lupa namanya haha) dan dia memiliki perasaan yang sama. Mereka berpisah karena suatu hal, yang bukan lahir dari mereka, melainkan dari pihak keluarga si cowok itu. Untungnya Emma dilahirkan dengan sifatnya yang ikhlas. Ibunya aja sampe bingung bisa punya anak sesabar itu. Tapi yah, susah juga move on-nya. Gak berasa setaun dua tahun lama-lama umurnya masuk ke area 30. Ibu Sri dengan segala pengetahuannya mengenai kisah percintaan dari buku-buku Jane Austen selalu memberikan nasihat kepada Emma dengan sabarnya. Merefleksikan kisah-kisah yang ada di roman klasik ke kehidupan pada saat ini. Sampai pada akhirnya dengan proses yang rumit, Emma menemukan seseorang lainnya yang mungkin saja menggantikan posisi si cowok yang gagal menikahi Emma tadi.

Berbeda dengan anak kedua Ibu Sri, Meri. Perselingkuhan rasanya bukan menjadi sesuatu yang sulit baginya. Tanpa disadari, kerenggangan dia dengan pacarnya malah membuka pintu yang cukup lebar untuk seseorang yang tidak lain adalah teman pacarnya sendiri. Gak disengaja sih, tapi kalo dibiarin bakal makin keterusan dan bisa fatal akhirnya. Konflik pun sudah selayaknya akan segera muncul. Ibu Sri lagi lah yang turun tangan membantu Meri yang kalut dalam masalahnya, tentunya dengan dibarengi kisah-kisah novel Jane Austen.
Yang menurut gue paling menarik adalah kisah anak ketiga Ibu Sri, Lisa. Gayanya yang agak cuek dan tidak begitu memikirkan pernikahan akibat melihat kakak-kakaknya yang belum juga menikah, membuat dia merasa tambah masa bodoh dengan pernikahan. Jatuh cinta dalam hidupnya bisa dihitung dengan jari oleh Lisa. Ia bersahabat dengan Gery dan seorang cewek (lupa lagi namanya) sejak  SMA. Menyukai orang yang sama dengan sahabat mungkin sudah biasa. Lisa menyimpan rapat-rapat perasaannya demi sahabatnya, menangis dalam diam sudah jadi rutinitas. Hanya Ibu Sri yang tahu gimana perasaan anaknya yang satu ini. Gery pun seringkali mendapati curhatan Lisa tentang cowok yang sebenernya dia idam-idamkan itu. Namun seiring berjalannya waktu, Gery menghilang karena harus bersekolah di benua seberang. Lisa tetap berhubungan dengan sahabat perempuannya (maaf banget lupa namanya-_-). Suatu hari, si SS menikah dan memiliki anak, beberapa tahun kemudian bercerai. Inilah yang membuat Lisa semakin takut untuk menikah. Layaknya hidup yang penuh dengan suatu yang tidak pernah kita duga, Gery pun hadir kembali. Datang dengan kerisauan mencari teman hidup, seakan-akan ingin menikah secepatnya. Lisa tetap menganggap Gery seperti Gery yang dulu, teman curhat yang paling asik. Hari-hari mereka pun kembali terisi dengan penuh kesenangan dan gelak tawa. Kenyamanan yang sudah tercipta sejak mereka SMA itu pun semakin terasa. Bisa ketebak ujungnya? Em.
Cerita diatas gak semudah itu mengalir. Semuanya berjalan dengan bantuan Ibu Sri. Prosesnya pun berjalan secara amat bertahap. Dengan pendalaman setiap masalah yang dihadapi ketiga anak itu, pendewasaan pun senantiasa tumbuh. Novel ini membuat kita tenggelam dalam kisah klasik percintaan dalam kemasan yang berbeda. Gue yang tadinya gak begitu tertarik, jadi antusias banget pas ngeliat halaman pertama-kedua sampai akhirnya berhenti di halaman terakhir. Dan yang paling mengagetkan, pengarangnya adalah cowok! Prima Santika, salut banget sama beliau yang hobi membaca kisah roman klasik lalu menumpahkan apa yang sudah dia dapatkan ke novel karyanya sendiri. Ini bukan novel standar pada umumnya, beda banget! Malah menurut gue, cewek wajib banget baca buku ini. Cowok juga ada baiknya baca, biar bisa lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan. Halah! Yaudahlah segitu aja. Tidur dulu ah daaaaaah!

Share with the world:

1 comment:

Leadership Developmant Training said...

kunjungan gan .,.
Belajarlah untuk bisa menerima sesuatu yang baru.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

 
Designed by Beautifully Chaotic