Sunday, September 16, 2012

Tentang Perasaan

Ketika hati diintai harapan. Dipuja melalui kata-kata yang sebenarnya merupakan senjatamu. Sulit rasanya mengelak dari perasaan yang menyenangkan. Terlebih kamu adalah sebabnya. Sulitkah untuk kamu mengetahui apa yang sebenarnya kurasa? Yang mungkin saja sama seperti apa yang kamu rasakan dalam beberapa bulan belakangan ini. Sebenarnya aku benci tentang 3 menit sebelum tidurku yang selalu ada sekelebatan kamu, kamu yang sedang menatapku di beberapa waktu yang lalu. Entah bagaimana caranya agar aku tidak perlu lagi mengalami itu, hingga akhirnya kamu tidak lagi masuk ke scene bagian berapa di mimpi yang seharusnya tidak ada kamu. Dan sebenarnya aku juga benci ketika tiba-tiba rindu menyelinap di pikiranku, rasanya ingin langsung aku mengetikkan "hey, aku kangen" lalu mengirimnya ke nomor ponselmu, namun rasanya tidak mungkin.
Aku mencintai harapan. Ya manusia memang ditakdirkan mencintai harapan, sejauh harapan yang melahirkan kebaikan  pada ujungnya. Namun apa perlu aku mencintai harapan yang aku pun tak tahu bagaimana cerita pada ujungnya. Boleh saja kan aku lelah? Menyerah atas ketidakjelasan yang kamu ciptakan sendiri? Oh, mungkin aku termasuk dalam pendukung ketidakjelasan itu. Lalu, apa alasanmu? Kau bilang aku absurd dalam menunjukkan? Mungkin kamu saja yang belum paham tentangku. Atau mungkin memang wanita yang selalu ingin dimengerti, selalu merasa benar walaupun sebenarnya tak tahu apa yang telah Ia lakukan. Lalu kau bilang aku egois? Huh, terserah saja.
Untuk kamu yang sedang di depan layar lalu menebak-nebak untuk siapa aku menuliskan beberapa kalimat yang terlihat ditujukan untuk seseorang yang entah siapa. Aku mohon jangan percaya diri terlebih dahulu kalau tulisan ini untuk kamu, mungkin saja aku memang hanya sedang ingin menulis. Tapi untuk siapa?

22:11 Dalam keadaan terinspirasi lagu 'Sewindu'
Share with the world:

No comments:

 
Designed by Beautifully Chaotic