Saturday, October 27, 2012

Senjaku


Menginjak senja. Aku masih terduduk pasrah di lorong yang terasa begitu kosong ini, koridor gedung VIII FIB. Mataku berlarian melihat sekelebatan orang berlalu lalang dengan santainya tanpa memperhatikanku. Sudah limaratusan hari kuhabiskan dengan menyender di tembok berbatubata merah ini. Sulit rasanya ketika harus mengingat ratusan hari yang lalu, ketika kita sama-sama menatap senja dari celah pohon besar yang aku lupa nama ilmiahnya. Disini juga, kita pernah saling menunggu siapa yang ingin berbicara lebih dulu, menebak-nebak apa yang sebenarnya ada di pikiran kita. Suatu kesempatan yang menyenangkan bisa berbagi dunia denganmu, terlepas dari kondisi kita saat itu.
Mengenai pertanyaan siapa yang paling benar dan yang paling salah selalu saja berkeliaran pada rongga otakku. Apakah wajar bila sungai yang kering mengharap dialiri air terus-menerus pada hujan yang hanya datang 6 bulan dalam setahun? Apa mungkin sungai terlalu menaruh harapan kepada apa yang sebenarnya tidak bermaksud memberi harapan, hanya memang sudah kepastiannya seperti itu? Aku benar-benar tidak paham tentang ini. Sungguh. Naluri kadang terhambat dengan egoku sendiri. Membuat kemungkinan-kemungkinan menyenangkan atas kejadian-kejadian sederhana denganmu. Tenggelam dalam ilusi ciptaanku sendiri.
Aku masih terduduk pasrah di lorong yang terasa begitu kosong ini, koridor gedung VIII FIB. Melihatmu jalan berdampingan dengan sahabatku. Kukira drama seperti ini hanya ada di kotak ajaib bernama televisi, nyatanya sekarang aku memainkan peran dari cerita ini. Hilang sudah dalam kamusku arti ‘sakit hati’. Aku sudah begitu mati rasa menyaksikan pemandangan yang sama di setiap senja. Ratusan hari duduk disini membuatku mengerti, hanya senja yang menjadi saksi atas perasaanku.
Flash Fiction ini dipersembahkan untuk NBC UI

Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic