Monday, October 29, 2012

Dunia dalam Dunia

Baru saja aku mengerti sesuatu, tentang memiliki dunia dalam dunia. Ini konyol sekali bila kujelaskan secara mendetail. Aku pun sebenarnya tidak ingin membaginya disini, namun karena hasrat untuk mengaksarakan rasa ini begitu dalam, jadi apa boleh buat.
Kamu tahu apa rasanya memiliki sesuatu di dalam suatu---kemudian sensor--? Maaf kalau aku begitu ambigu dalam mengutarakan. Aku tidak pintar dalam hal ini. Merasakan simbiosis yang berkelanjutan ini memang menyenangkan, sedikit menyiksa terkadang. Semuanya sudah begitu terlanjur, dalam kehati-hatian. Dengan tahap yang sedemikian rupa dibuat. Kurasa sama seperti seorang nenek yang sedang menaiki anak tangga. Begitu takut, hingga menatap langkah lekat-lekat, jalan sedikit-sedikit, lama tentunya. Padahal disampingnya ada pegangan yang didesain untuk membantu berjalan. Takut akan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu perlu ditakuti. Ha-ha-ha biarkan aku tertawa dalam keanehan perasaan.

Saturday, October 27, 2012

Rahasia


Kamu tahu apa yang dimaksud rahasia? Iya, sesuatu yang disimpan rapat-rapat tanpa ada yang tahu kecuali dirimu sendiri. Tapi rahasia kali ini kubagi dengan sahabatku. Apakah namanya masih rahasia?  Biarlah, bagiku ini masih rahasia. 
Ah, itu tadi hanya sebersit pikiran yang mengantarku menuju pintu masuk Fakultas yang dulunya sempat dinamakan Fakultas Sastra. Pagi ini begitu menyenangkan, sama seperti pagi-pagi sebelumnya.
Tiba sudah aku di tahun ketiga masa perkuliahan, bersama mereka yang memberikanku definisi bahagia. Aku bingung harus memulainya darimana. Yang kurasakan saat ini, kehidupan kuliah kadang begitu sulit hingga membuat kata tidak lagi mampu meredam lelah, hingga air mata pun jatuh sebagai gantinya. Namun bersama mereka, aku dapat merasakan tawa setelah tangis yang begitu panjang. Segalanya bisa terjadi dengan mereka, dari mulai yang konyol hingga yang begitu serius. Aku merasa begitu hidup. Mengenal mereka seperti menemukan oase di tengah panasnya sahara. Sungguh melegakan. Mereka adalah ritme yang membuat hidupku lebih bernada. Mengenalkanku pada keindahan melodi sederhana yang ada karena daya bersama.
Mengenal mereka, membuatku lupa dengan kata ‘sunyi’. Namun mengingatkanku tentang masa depan, yang mungkin mengharuskan kita untuk tidak bersama lagi. Kita berlari dengan arah yang berbeda, sesuai tujuan yang kita pernah bicarakan saat masih duduk di bangku semester tiga.
Aku sampai lupa dengan rahasia itu. Satu hal yang perlu kamu tahu, rahasia itu ada diantara mereka dan kepada salah satu diantara mereka. Karena yang tahu tentang ini hanya sahabatku, izinkan aku untuk kembali menyimpannya rapat-rapat.
Flash Fiction ini dipersembahkan untuk NBC UI

Senjaku


Menginjak senja. Aku masih terduduk pasrah di lorong yang terasa begitu kosong ini, koridor gedung VIII FIB. Mataku berlarian melihat sekelebatan orang berlalu lalang dengan santainya tanpa memperhatikanku. Sudah limaratusan hari kuhabiskan dengan menyender di tembok berbatubata merah ini. Sulit rasanya ketika harus mengingat ratusan hari yang lalu, ketika kita sama-sama menatap senja dari celah pohon besar yang aku lupa nama ilmiahnya. Disini juga, kita pernah saling menunggu siapa yang ingin berbicara lebih dulu, menebak-nebak apa yang sebenarnya ada di pikiran kita. Suatu kesempatan yang menyenangkan bisa berbagi dunia denganmu, terlepas dari kondisi kita saat itu.
Mengenai pertanyaan siapa yang paling benar dan yang paling salah selalu saja berkeliaran pada rongga otakku. Apakah wajar bila sungai yang kering mengharap dialiri air terus-menerus pada hujan yang hanya datang 6 bulan dalam setahun? Apa mungkin sungai terlalu menaruh harapan kepada apa yang sebenarnya tidak bermaksud memberi harapan, hanya memang sudah kepastiannya seperti itu? Aku benar-benar tidak paham tentang ini. Sungguh. Naluri kadang terhambat dengan egoku sendiri. Membuat kemungkinan-kemungkinan menyenangkan atas kejadian-kejadian sederhana denganmu. Tenggelam dalam ilusi ciptaanku sendiri.
Aku masih terduduk pasrah di lorong yang terasa begitu kosong ini, koridor gedung VIII FIB. Melihatmu jalan berdampingan dengan sahabatku. Kukira drama seperti ini hanya ada di kotak ajaib bernama televisi, nyatanya sekarang aku memainkan peran dari cerita ini. Hilang sudah dalam kamusku arti ‘sakit hati’. Aku sudah begitu mati rasa menyaksikan pemandangan yang sama di setiap senja. Ratusan hari duduk disini membuatku mengerti, hanya senja yang menjadi saksi atas perasaanku.
Flash Fiction ini dipersembahkan untuk NBC UI

Saturday, October 20, 2012

Serius, Ini Pertama Kali!

Jegeeeeeeeeeeeeer! Tiga bulan sudah risau ini meradang, menyemprotkan ragu ke ranah pikiran, lalu membuat tidur semakin hilang kualitasnya. Menjadi penanggung jawab suatu acara bukan hal yang mudah untuk orang yang cerobohnya minta ampun sepertiku. Pertama kalinya aku diminta menjadi seseorang di balik salah satu rangkaian acara yang lumayan besar di jurusanku ini. 3 bulan penuh kebingungan, ketidakjelasan, dan kecemasan bagaimana hari H akan berjalan. Dan kemarin, semua misteri atas pikiran-pikiran yang selama ini bergantungan di tiap detik waktu kosongku akhirnya terjawab sudah. Sudah dalam keadaan pasrah kurebahkan ide, pikiran, dan ego. Hanya satu harapku "Semoga ada yang datang, lebih dari 10 saja.". Pukul delapan, baru 1 peserta yang mampir ke meja registrasi.

Friday, October 12, 2012

Takut

Aku sedang takut, dengan waktu. Meringis bisa-bisanya aku sambil memejamkan mata. Sesuatu yang aneh berlari sekelebatan dalam pikiran. Semuanya berjalan begitu cepat. Begitu terburu-buru kelihatannya. Entah skenario macam apa ini, ketika semua terjadi terlalu berhimpitan, hingga rasanya tidak ada kesempatan untukku bernapas. Dalam sehari, aku bisa merasakan berbagai peristiwa dalam satu nafas. Perasaan dengan mudahnya terbolak-balik dalam beberapa jam. Sekelilingku bisa drastis berubah, senang menjadi sedih, sedih menjadi senang. Aku benci menjadi seperti ini. Tidak paham dengan perasaan, pikiran, dan perilaku yang kuciptakan sendiri. Aku hanya terlalu takut dengan waktu. Takut semuanya berantakan dalam waktu dekat. Takut semuanya lenyap tanpa sisa. :'(

11:43 dalam keadaan takut
 
Designed by Beautifully Chaotic