Wednesday, January 23, 2013

Amerika

Aku merasakannya lagi, setelah baru saja kukubur dalam-dalam mimpi itu. Menginjak tanah daratan benua itu, Amerika namanya. Mimpi yang kurasa bertahan paling lama di pikiranku, di jiwaku. Lama, karena sulit menggapainya. Tiga tahun lalu, setelah membaca sebuah karya yang menurutku sangatlah berharga, karena mampu menggetarkan hatiku. Buku yang membuatku berani memiliki mimpi. Berani mencari-cari beasiswa untuk bisa hadir disana. Di tengah taman dengan pohon maple yang sedang berguguran daunnya, dengan pemandangan air terjun niagara yang begitu dekat, sangat dekat. Aku menyukai bacaan-bacaan yang berlatar luar negeri, dari Asia sampai Amerika. Begitu juga dengan buku-buku berlatar negara-negara di Eropa. Namun, sungguh aku hanya tertarik pada benua satu itu, yang ditemukan Christoper Colombus 71 tahun lalu.
Ya, aku sadar usahaku selama ini belum pantas untuk membawaku kesana. Ditambah dengan mengulur-ulur waktu. Menunggu setahun, setahun lagi, kemudian hancur lebur begitu saja. Pada semester awal kuliah, aku berniat mengikuti salah satu program pertukaran pelajar yang deselenggarakan AMINEF. Dan setelah kulihat persyaratannya, ada sepotong kalimat yang membuatku lemas, minimal peserta yang mengikuti sudah berada di tingkat dua. Sedangkan aku masih berada di tingkat satu, dengan mimpi yang keterlaluan tidak mungkin. Dalam hati aku berpikir “Oke, berarti satu tahun lagi!”. Setahun aku menunggu, mengecek website AMINEF mengenai pendaftaran program ini, membaca-baca blog yang berisi pengalaman orang-orang yang telah dahulu mengikutinya. Aku hanya bisa tersenyum dan membayangkan. Ya, hanya itu. Tanpa usaha lain, aku merasa sangat bodoh saat itu. Tepat setahun setelah penantian itu, kembali kubuka website AMINEF. Dan tahukah apa yang aku dapatkan? Websitenya tidak mengalami pengupdatean mengenai program untuk tahun 2011. Entahlah apa yang kurasakan saat itu, seperti ada yang menusuk begitu dalam. Dingin. Aku seperti kehilangan sesuatu, yang sudah kuimpikan berpuluh-puluh hari lamanya.

Beberapa waktu kemudian, aku lupa tepatnya, aku mendapatkan kembali informasi mengenai beasiswa yang bisa membawaku kesana, program belajar bahasa inggris 3 bulan melalui fullbright. Kupikir mungkin ini jalanku, setelah menunggu semester 5, tepatnya satu tahun setelah aku kehilangan semangat karena website lembaga satu itu. Aku mulai berusaha, menambah kualitas diri maupun akademik untuk memantaskan diri menjadi salah satu pendaftar beasiswa tersebut. Keantusiasanku untuk mengikuti program ini terganjal suatu hal, magang. Jurusanku memang mengharuskan mahasiswanya mengikuti magang di tengah liburan semester yang biasanya berjalan di antara semester 4 dan 5. Namun, berbeda dengan angkatanku yang masih dalam suatu pertimbangan untuk melakukan magang diantara 2 semester tersebut. Aku selalu berdoa dan berharap agar magang tetap dijalankan pada jadwal yang sudah biasanya berjalan, agar tidak mengganggu waktuku di tahun ketiga saat aku ingin merealisasikan mimpi yang satu ini. Kenyataannya, magang untuk angkatanku berbeda. Diadakan setelah semester 6 berakhir. Lagi dan lagi, ada sesuatu yang menyesakkan. Beasiswa fullbright memiliki jadwal keberangkatan pada pertengahan tahun, saat summer lebih tepatnya. Sedangkan rasanya tidak mungkin apabila -misalnya- aku diterima beasiswa fullbright kemudian berangkat begitu saja mengesampingkan magang, yang merupakan prioritas yang sudah diprioritaskan semenjak awal masuk kuliah. Tujuan pertamaku ialah kuliah dengan baik, tujuan keduaku ialah mengikuti pertukaran pelajar tanpa mengganggu banyak kuliahku. Aku belum bisa seperti anak-anak lain yang rela mempending waktu lulus mereka demi mengikuti pertukaran pelajar selama beberapa bulan. Aku belum bisa berkorban sebanyak itu. Sampai pada saatnya pendaftaran beasiswa dibuka. Beberapa minggu sebelumnya aku mengkuti TOEFL, yang sudah kupersiapkan secara belum matang. Hasilnya? Tipis dari apa yang dipersyaratkan. Mungkin takdir belum mengizinkanku untuk meninggalkan rumah sampai jutaan kilometer jauhnya.
Sudah banyak keputusasaan yang kutabung dari setiap kekecewaan atas diriku sendiri. Namun di tengah-tengah itu, selalu ada sesuatu yang membangunkanku kembali. Mendapat kiriman souvenir dari Kanada via CESI beberapa bulan lalu mengingatkanku kembali tentang mimpi . Melihat simbol daun maple berwarna merah, menyegarkan pikiranku, membawaku berada di tengah kota bernama Quebec. Seperti pernah berada disana, padahal tidak pernah, atau bakal kesana? Aku tidak tahu.
Aku merasa semakin dekat ketika melihat benda-benda dari Kanada itu di rak buku kamarku. Pernah suatu saat aku mengunjungi @america karena keperluan tugas kuliahku. Yang kulakukan disana malah memanfaatkan fasilitas meminjam iPad yang berisi informasi apapun tentang Amerika. Menyentuh peta negara bagian, melihat bagian dalam Library of Congress, melihat pidato-pidato Obama. Amerika terasa sangat dekat. Aku menginginkannya seperti penderita sakit gigi yang menginginkan permen. Sesuatu yang bisa terlaksana bila sesuatu yang lain bisa terselesaikan sebelumnya. Ya, ini beberapa bulan yang lalu.
Di tahun 2013 mimpi itu kembali kukubur hidup-hidup, tanpa alasan, tanpa mengingat harapan. Hingga pada hari ulangtahunku, aku merasa ada yang hilang. Ada harapan yang hilang, berkurang satu. Namun, hari ini, ada sesuatu yang begitu baiknya mengembalikan semuanya. Menghidupkan lagi api di lilin kecil yang sempat mati. Mungkin tulisan ini terlalu berlebihan, terlalu banyak berkhayal, tanpa ada sesuatu yang sudah bisa didapatkan. Sebenarnya aku malu menaruh tulisan ini disini, namun apabila kusimpan ini sendiri, terus-menerus, apakah ada yang mengamini doaku? Aku hanya ingin bisa mendarat di benua yang sungguh masih fana untukku. Aku ingin merasakan jauh dari orang-orang tersayangku untuk beberapa waktu. Aku ingin belajar sebentar di negeri orang. Sebentar saja. Ini semua terlalu mimpi. Namun aku percaya, kita semua berada disini ya karena mimpi :)

21:28     pemimpi yang entah sampai kapan ingin berhenti bermimpi


Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic