Tuesday, October 8, 2013

Lebih Kecil Lagi

Di pojokan dekat tiang listrik, kulihat tumpukan plastik warna-warni berserakan, sesekali ada binatang yang mampir lalu mengoyak-ngoyak plastik tersebut hingga tampak tidak jelas bentuknya. Tumpukannya semakin tinggi, setinggi rasa perihatin setiap orang yang melewatinya. Padahal ada kotak yang terbuat dari adukan semen dan pasir dengan batu-bata sebagai pondasinya, namun tetap tidak cukup.
Semenjak SD, aku diajarkan seseorang teman tentang melipat sampah plastik untuk menjadi lebih kecil. Ketika, itu, aku tidak paham maksudnya. Hanya saja aku senang melakukannya dikarenakan bentuknya menjadi lucu seperti pita yang dijual di abang-abang depan sekolah. Beberapa waktu lalu, saat ada seminar tentang lingkungan, ada seorang pembicara datang dari sebuah Universitas di Jepang, dibantu dengan translatornya, beliau menyampaikan tentang kesadaran masyarakat Jepang akan sampah. Selesai dipaparkannya masalah sampah, translatornya ternyata pernah melakukan penelitian tentang sampah di Bantar Gebang. Beliau mengamati kebiasaan masyarakat dari cara membuang sampah dengan keadaan yang tidak dipisahkan terlebih dahulu antara organik dan non-organik. Setelah menjelaskan panjang lebar, beliau mengatakan bahwa sebelum plastik dimasukkan ke dalam tempat sampah, maka perlu dipastikan terlebih dahulu mengenai ukuran yang diperkecil sehingga tempat sampah dapat menampung volume sampah yang lebih banyak. Semenjak itu, aku menjadi paham tentang cara melipat yang kubilang sangat lucu karena bentuknya ternyata ada manfaatnya juga. Berikut caranya:
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Share with the world:

1 comment:

Rian Nofitri said...

Kreatif! Pertahankan! :D

 
Designed by Beautifully Chaotic