Thursday, October 3, 2013

Punya Kita, Kewajiban Kita

Tempat itu sering kulewati, ramai kelihatannya. Akhirnya kuputuskan mampir untuk mengetahui ada apa sebenarnya, bersama teman istimewaku. Dari bagian depan, kuputuskan tempat ini keren kalau dilihat lokasinya yang jauh dari pusat kota dan tidak adanya akses kendaraan umum. Lalu kami mencoba melewati pintu masuk yang digelantungi tumbuhan merambat yang entah apa namanya. Pemandanganku langsung tertuju pada danau dengan enam lampu berbentuk bunga di dua sisinya. Danau buatan itu dikelilingi beberapa orang untuk sekedar duduk maupun mengobrol dengan orang di sebelahnya. Kulihat ada keluarga, sekelompok remaja maupun anak-anak, pasangan muda, dan beberapa orang yang memilih datang sendiri. Tempat ini mampu meraih pasar sepertinya. Lalu kulihat lagi danau itu, cokelat kelam warnanya. Padahal kukira karena tampat ini masih baru, warna airnya masih jernih. Di sisi kanannya banyak sampah mengapung, dari bungkus makanan hingga kantong plastik. Duh, malangnya tempat ini.

Kutengok bagian lain dari tempat ini, kagum aku melihat banyak tempat sampah yang disediakan dengan pemisahan organik dan non-organik. Jumlahnya mampu menampung sampah yang dibawa masyarakat di tempat ini kupikir. Aku terus berjalan menelusuri jogging track yang masih kelihatan baru dengan paving blok merah terangnya. Disini memang tidak disediakan kursi taman seperti taman-taman biasanya. Maka pengunjung memilih untuk duduk di pinggiran panggung sederhana bermaterial beton atau rerumputan yanng sengaja dibentuk dengan berbukit-bukit. Alhasil rumput terlihat rusak banyak karena sering diduduki, terlebih karena jenis rumputnya yang memang bukan tipe yang boleh diinjak seperti rumput gajah. Rumput disini pun memang belum tumbuh sempurna, lalu diduduki pengunjung. Makin menyedihkan saja kondisi rerumputannya, makin tipis, kurang perawatan. Kutemukan juga sampah bungkus snack di sekitarnya. Meski disana tidak ada peraturan tertulis untuk tidak membuang sampah sembarangan atau tidak boleh menginjak rumput, namun kita dapat mengetahui dari peletakan tempat sampah yang dekat dari jangkauan kita. Seakan mencolek kita untuk menghampirinya lalu membuang sampah. Begitu juga dengan pinggiran beton yang sebenarnya jauh lebih nyaman untuk kita duduki, dibanding rerumputan yang makin meranggas ini.

Harapanku punah untuk menyegarkan diri disini. Malah banyak bersedih saat dipertemukan dengan keadaan yang seperti ini. Fasilitas yang menyenangkan di Kota Jakarta ini luar biasa untuk warganya. Cuma kembali kepada kita bagaimana memanfaatkannya. Apabila sudah tercipta kerjasama yang baik antara pemerintah kota dengan warganya maka kenyamanan kota mungkin lebih mudah tercipta. Pemerintah sudah repot menganggarkan, merancang, dan pada akhirnya merealisasikan taman kota di sekitar kita. Dan sekarang, kembali kepada kita bagaimana menjaganya. Dengan membuang sampah pada tempatnya dan duduk di tempat yang sudah disediakan, maka semua akan terasa lebih menyenangkan dilihatnya. Akan ada harmonisasi di taman kota yang tercipta untuk kita.


Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Share with the world:

No comments:

 
Designed by Beautifully Chaotic