Tuesday, October 1, 2013

Rindu Langit Biru

Pagi memintaku menemani untuk jalan-jalan di bawah langit yang kata orang lagi bersih-bersihnya, matahari pun baru muncul ketika itu. Kususuri jalan dengan bolak-balik melirik langit, mencari biru muda yang kuharapkan sejak bangun tidur. Lalu ku menunduk. Kali ini aku hanya berjalan melewati kavling demi kavling perumahan yang rasanya membuat aku makin sulit berjalan. Jalan ini sesak akan kendaraan yang diam, mungkin sebentar lagi akan dinyalakan mesinnya, lalu meluncur dengan ribuan kendaraan lainnya.
Aku tetap menunggu lukisan itu berwarna biru, meski tidak mungkin rasanya. Semakin dimakan menit, lukisan itu makin putih kusam. Kendaraan semakin menyeruak ke jalan raya, asap mengepul. Beberapa kali kututup hidungku saat kepulan abu-abu itu menghampiri udara, padahal tadinya hanya sekumpulan oksigen yang bakal kuhirup. Tertunduk aku pada kenyataan. Pagi ini bising serta menyesakkan. Merah, putih, hitam, abu-abu, begitulah warna kendaraan yang kulihat mondar-mandir mengantar manusia didalamnya. Volume kendaraan yang berlebihan ini begitu menyesakkan. Kepulan asapnya yang membuat langitku enggan menjadi biru lagi.
"Langit, tidakkah dirimu ingin kupandang dengan mata yang berbinar-binar? Bisakah kita bicara sebentar, langit?" Aku menatapnya lebih lama, berharap dia ingin menjawab pertanyaanku. Kutunggu sambil melihat awan yang terus bergerak. Terdengar sayup-sayup suara "Aku pun ingin masih bisa terlihat biru. Namun kamu dan teman-temanmu bukan yang membuatku menjadi seperti ini? Polusi mengajakku untuk bergandengan, lalu menularkan warnanya padaku. Aku ingin menangis, ketika kulihat kau dengan teman-temanmu berbondong-bondong menyemprotku dengan Co2 yang luar biasa banyaknya. Aku batuk. Makin tua saja aku rasanya dibuatmu."
Aku kaku dibuatnya. Seperti digelitiki habis tubuhku oleh pohon kaktus dengan duri-durinya bikin ampun sakitnya. Bodoh sekali, aku kan juga manusia. Sama seperti mereka yang menggunakan kendaraan, membantu menghasilkan karungan Co2 setiap harinya. Namun, aku selalu berusaha untuk tidak begitu menyakiti langit dengan cara sederhana yang aku mampu. Menggunakan kendaraan umum, yang secara tidak langsung meminimalisir gas Co2 yang dihasilkan berbeda apabila menggunakan kendaraan pribadi. Apa salahnya? Apabila setengah dari orang-orang yang menggunakan kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum, banyak masalah yang bisa sedikit dikurangi. Yang pertama tentu kemacetan. Dengan berkurangnya volume kendaraan, maka jalan raya pun tidak perlu sulit menampung banyak kendaraan yang bersesakkan ingin maju terlebih dahulu. Selain itu, polusi pun bisa sedikit diminimalisir. Udara maupun suara. Tidak heran makin banyak masker yang diperjualbelikan, begitu juga dengan orang-orang bermasker di sekitar kita. Begitupun aku, yang takut dengan udara kotor. Karena penyakit pun dengan mudahnya terpupuk ketika udara yang kita hirup bukanlah udara bersih. Andai kendaraan tidak sebanyak ini, mungkin keadaan manusia tidaklah se-insecure ini. Ditambah lagi dengan bunyi klakson sana-sini. Di saat semua orang merasa sangat terburu-buru, maka tombol yang bisa memekakkan telinga itu ditekan terus menerus. Sadarkah apabila ratusan suara klakson yang mengganggu itu merupakan polusi suara, ditambah suara mesin kendaraan yang menyala.
Aku rindu menari di bawah langit biru. Dan suatu saat nanti, ingin kudongengi anak-anak di bawah langit yang masih biru. Bukankah kita sama, teman? Memiliki mimpi yang sama? Langit 10 tahun yang lalu, kuingin hadir kembali melalui usaha kita yang sederhana, mulai menggunakan kendaraan umum. Tidakkah menyenangkan berada di 1 mobil yang sama dengan belasan orang. Bertemu dengan berbagai macam orang setiap harinya, semakin menghargai perbedaan yang ada di antara kita. Dan tentunya, membantu langit pulih dengan cara yang kita mampu.
Langit, bisakah bersabar? Aku sedang berusaha untukmu, untuk kita semua pada akhirnya. Aku rindu birumu, langit.

Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Share with the world:

1 comment:

Arif Munandar said...

Tidakkah menyenangkan berada di 1 mobil yang sama dengan belasan orang. Bertemu dengan berbagai macam orang setiap harinya, semakin menghargai perbedaan yang ada di antara kita. :)

Keren. Selain nyelametin lingkungan, kita kembali ke hakikat kita sebagai makhluk sosial.

 
Designed by Beautifully Chaotic