Tuesday, October 8, 2013

Rumput kepada Hujan

Perang itu, kapan datang lagi? Aku ingin digempur terus-terusan. Lokasiku kian buruk. Di tengah himpitan tembok abu-abu raksasa, sesekali berteriak pun tidak didengar. Tubuhku makin kecil saja, bagian ujungnya berubah warna, kering, lalu rapuh dan terbang bersama angin. Pasrah rasanya jauh lebih baik, ketika berusaha pun nihil hasilnya. Beberapa kali aku tergerus benda berbahan semacam karet yang lagi-lagi raksasa, sakit, berkali-kali. Air mataku kering sudah.
Hewan-hewan kecil itu menengok keadaanku setiap hari, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih. Harapan itu makin sedikit. Semakin pada sibuk sendiri, aku pun sibuk meminta pertolongan siapa pun yang mendengar isakanku. Terhempas aku oleh angin. Meninggalkan sedikit bagian tubuhku yang masih terjepit tembok abu-abu raksasa itu. Andai ada pilihan selain berpisah, aku akan memilihnya. Sayangnya, ini adalah yang terbaik meskipun terburuk. Seperempat bagianku yang masih tinggal terus menangis, meminta hal yang sama denganku. Perang itu kapan datang lagi? Aku butuh air.
Semakin aku terbang, bisa kulihat rumahku yang dulu. Di tengah himpitan dua paving block abu-abu yang seringkali diinjak manusia. Aku memang kecil, makanya jarang yang menghargai. Hujan, datanglah. Beri seperempat bagian tubuhku yang masih tinggal itu kesempatan untuk merasakan apa yang tidak sempat kurasakan, diperangi ribuan tetes air yang membahagiakan.



Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic