Sunday, October 13, 2013

Berobat kepada Alam

Untuk setiap hati yang sedang sunyi, berbaringlah di atas sekawanan daun hijau
Kata orang, padang rumput namanya
Lalu menataplah ke atas, dimana lampu-lampu bumi berasal
Oh ya, kekelaman pun bermula dari sana
Jangan berhenti, terus menatap dan diam sejenak
Lihatlah ada sesuatu yang cerah di sela-sela kapuk putih keabu-abuan
Silau bukan?
Meskipun tidak sebagus warna kuning yang berasal dari cangkang telur

Angin menarik daun-daun tua bersamanya
Ada ikhlas di setiap yang terbang
Memberi kesempatan yang muda bergantian
Benang sari bahagia melayang-layang
Beberapa bersujud kepada angin
Sedikit banyak bantuannya menghidupkan generasinya

Awan menggulung-gulung
Doaku terus meluncur dengan papan harapan
Agar sesak ini tidak membusuk di dada
Gusar terus memerangi
Hingga burung-burung terbang pulang ke rumahnya
Terima kasih atas telinga serta keindahanmu
Obat gundah yang kuakui malu-malu

Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)

Tuesday, October 8, 2013

Lebih Kecil Lagi

Di pojokan dekat tiang listrik, kulihat tumpukan plastik warna-warni berserakan, sesekali ada binatang yang mampir lalu mengoyak-ngoyak plastik tersebut hingga tampak tidak jelas bentuknya. Tumpukannya semakin tinggi, setinggi rasa perihatin setiap orang yang melewatinya. Padahal ada kotak yang terbuat dari adukan semen dan pasir dengan batu-bata sebagai pondasinya, namun tetap tidak cukup.
Semenjak SD, aku diajarkan seseorang teman tentang melipat sampah plastik untuk menjadi lebih kecil. Ketika, itu, aku tidak paham maksudnya. Hanya saja aku senang melakukannya dikarenakan bentuknya menjadi lucu seperti pita yang dijual di abang-abang depan sekolah. Beberapa waktu lalu, saat ada seminar tentang lingkungan, ada seorang pembicara datang dari sebuah Universitas di Jepang, dibantu dengan translatornya, beliau menyampaikan tentang kesadaran masyarakat Jepang akan sampah. Selesai dipaparkannya masalah sampah, translatornya ternyata pernah melakukan penelitian tentang sampah di Bantar Gebang. Beliau mengamati kebiasaan masyarakat dari cara membuang sampah dengan keadaan yang tidak dipisahkan terlebih dahulu antara organik dan non-organik. Setelah menjelaskan panjang lebar, beliau mengatakan bahwa sebelum plastik dimasukkan ke dalam tempat sampah, maka perlu dipastikan terlebih dahulu mengenai ukuran yang diperkecil sehingga tempat sampah dapat menampung volume sampah yang lebih banyak. Semenjak itu, aku menjadi paham tentang cara melipat yang kubilang sangat lucu karena bentuknya ternyata ada manfaatnya juga. Berikut caranya:
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)

Rumput kepada Hujan

Perang itu, kapan datang lagi? Aku ingin digempur terus-terusan. Lokasiku kian buruk. Di tengah himpitan tembok abu-abu raksasa, sesekali berteriak pun tidak didengar. Tubuhku makin kecil saja, bagian ujungnya berubah warna, kering, lalu rapuh dan terbang bersama angin. Pasrah rasanya jauh lebih baik, ketika berusaha pun nihil hasilnya. Beberapa kali aku tergerus benda berbahan semacam karet yang lagi-lagi raksasa, sakit, berkali-kali. Air mataku kering sudah.
Hewan-hewan kecil itu menengok keadaanku setiap hari, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih. Harapan itu makin sedikit. Semakin pada sibuk sendiri, aku pun sibuk meminta pertolongan siapa pun yang mendengar isakanku. Terhempas aku oleh angin. Meninggalkan sedikit bagian tubuhku yang masih terjepit tembok abu-abu raksasa itu. Andai ada pilihan selain berpisah, aku akan memilihnya. Sayangnya, ini adalah yang terbaik meskipun terburuk. Seperempat bagianku yang masih tinggal terus menangis, meminta hal yang sama denganku. Perang itu kapan datang lagi? Aku butuh air.
Semakin aku terbang, bisa kulihat rumahku yang dulu. Di tengah himpitan dua paving block abu-abu yang seringkali diinjak manusia. Aku memang kecil, makanya jarang yang menghargai. Hujan, datanglah. Beri seperempat bagian tubuhku yang masih tinggal itu kesempatan untuk merasakan apa yang tidak sempat kurasakan, diperangi ribuan tetes air yang membahagiakan.



Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)

Friday, October 4, 2013

2050

Retno Andini 10/4/2013


Meringkuk
Diam sendiri
Temaram lampu malam ini gila
Sakit mata aku dibuatnya
Makin sulit menggores tinta
Kertasku tercoret-coret asal
Tidak jelas

Komputer?
Apa itu?
Hilang guna benda itu
Kembali ke jaman purba
Hanya ada air dan api
Habis semua
Karena kau!
Kalian
Kita semua

Thursday, October 3, 2013

Punya Kita, Kewajiban Kita

Tempat itu sering kulewati, ramai kelihatannya. Akhirnya kuputuskan mampir untuk mengetahui ada apa sebenarnya, bersama teman istimewaku. Dari bagian depan, kuputuskan tempat ini keren kalau dilihat lokasinya yang jauh dari pusat kota dan tidak adanya akses kendaraan umum. Lalu kami mencoba melewati pintu masuk yang digelantungi tumbuhan merambat yang entah apa namanya. Pemandanganku langsung tertuju pada danau dengan enam lampu berbentuk bunga di dua sisinya. Danau buatan itu dikelilingi beberapa orang untuk sekedar duduk maupun mengobrol dengan orang di sebelahnya. Kulihat ada keluarga, sekelompok remaja maupun anak-anak, pasangan muda, dan beberapa orang yang memilih datang sendiri. Tempat ini mampu meraih pasar sepertinya. Lalu kulihat lagi danau itu, cokelat kelam warnanya. Padahal kukira karena tampat ini masih baru, warna airnya masih jernih. Di sisi kanannya banyak sampah mengapung, dari bungkus makanan hingga kantong plastik. Duh, malangnya tempat ini.

Semerdu Kita, Katamu

Bahagia, masihkah sederhana? Seperti ketika terbangun dari tidur, lalu mendengarkan banyak ocehan burung khas pagi hari? Atau ketika menjaga anak-anak ayam yang sedang menunduk mencari-cari cacing tanah? Mungkin sudah jarang dirasakan kebanyakan orang, karena hidup tidaklah sesederhana itu sekarang. Ketika gaya hidup adalah segalanya. Maka, kenyamanan akan tempat tinggal jadi prioritas. Kegiatan yang harus dimulai sejak dini hari, bangun, siap-siap, sarapan, lalu berangkat ke sekolah/kampus/kantor. Waktu begitu mahal rasanya apabila terbuang untuk memperhatikan suara-suara binatang sekian menit, untuk sebagian orang.
Sadarkah apabila binatang yang menggemaskan di sekitar kita butuh perhatian lewat suara-suara lucunya? Ada yang "ngeong", "cuitcuitcuit", atau "moooo". Andai bisa memahami makna keindahan suara mereka, mungkin akan kudatangi mereka setiap pagi lalu menanyakan apa kabarnya pencarian makan hari kemarin. Seperti kemarin, di saat lagi berada di tengah kemacetan menuju kampus, kulihat seekor kucing di kiri jalan sedang menarik-narik ilalang. Mungkin kelaparan, lalu berusaha makan apa saja yang bisa dimakan. Bisa dibayangkan? Makhluk karnivora satu itu berusaha menjadi herbivora dikarenakan keadaan. Badannya kurus kering, semacam butuh pertolongan. Suaranya lemah, hilang tenaga. Jujur, aku bukan penyuka binatang. Namun apabila melihat binatang yang sedang terlihat lapar, tidak segan rasanya membagi makanan yang sedang kunikmati di atas piring meja kantin fakultasku. 

Tuesday, October 1, 2013

Rindu Langit Biru

Pagi memintaku menemani untuk jalan-jalan di bawah langit yang kata orang lagi bersih-bersihnya, matahari pun baru muncul ketika itu. Kususuri jalan dengan bolak-balik melirik langit, mencari biru muda yang kuharapkan sejak bangun tidur. Lalu ku menunduk. Kali ini aku hanya berjalan melewati kavling demi kavling perumahan yang rasanya membuat aku makin sulit berjalan. Jalan ini sesak akan kendaraan yang diam, mungkin sebentar lagi akan dinyalakan mesinnya, lalu meluncur dengan ribuan kendaraan lainnya.
Aku tetap menunggu lukisan itu berwarna biru, meski tidak mungkin rasanya. Semakin dimakan menit, lukisan itu makin putih kusam. Kendaraan semakin menyeruak ke jalan raya, asap mengepul. Beberapa kali kututup hidungku saat kepulan abu-abu itu menghampiri udara, padahal tadinya hanya sekumpulan oksigen yang bakal kuhirup. Tertunduk aku pada kenyataan. Pagi ini bising serta menyesakkan. Merah, putih, hitam, abu-abu, begitulah warna kendaraan yang kulihat mondar-mandir mengantar manusia didalamnya. Volume kendaraan yang berlebihan ini begitu menyesakkan. Kepulan asapnya yang membuat langitku enggan menjadi biru lagi.
 
Designed by Beautifully Chaotic