Sunday, December 29, 2013

Proses

Setiap momen punya makna, baik ataupun buruk, pasti ada maksudnya. Saya selalu mempercayai hal itu. Masih ingat sekali, ketika hari Minggu kemarin disibukkan masalah Laporan PKL. Mencari, mencetak, menunggu janin berupa kertas-kertas kenangan yang akhirnya menjadi bayi putih cantik berhardcover tinta emas. Ya, semenghargai itu.
Sampai sekarang, masih suka terharu sendiri ketika melihat lembaran-lembaran ketikan beserta gambar didalamnya. Ada tawa bahagia, kerinduan, bahkan air mata di setiap kata yang terketik. Terhitung sejak Maret 2013, kami sudah sibuk mengurus perizinan untuk bisa PKL di tempat istimewa itu. Fluktuatif sekali rasanya mendapat respons yang seringkali mengagetkan dari beberapa pihak. Entah dari teman, orang tua, ataupun dinas pemerintahan setempat. Titik terendah pertama yang dialami ketika, pihak pemerintah kota itu meminta surat rekomendasi dari provinsi dimana Universitas kami berada. Jadi kami harus ke Bandung dahulu sebelum kesini? Saat itu, kuliah sedang banyak-banyaknya tugas. Namun, tetap disempatkan untuk beberapa hari mengurus perizinan disana (sekalian main-main sih). Pada akhirnya, kami pulang dengan senyum puas. Percayalah, niat yang baik selalu terbantu dari manapun. Jangan pernah berhenti, sebelum benar-benar mencapai. Itu yang kami rasakan disana. Ketika putus asa hanya untuk sekadar dilewatkan, hidup harus tetap berjalan.
Destinasi tercapai. Sekitar 30 hari berada disana, dan banyak hal yang saya pelajari tentang apapun. Ternyata, kita bisa belajar setiap langkah kaki kita bergerak. Apapun yang kita lihat sekarang, bisa jadi merupakan hal penting yang harus dimaknai sedalam-dalamnya. Saat itu, harga sebuah perhatian sangatlah mahal. Seringkali saya menangis ketika mendapat telepon dari orang rumah. Padahal sedang tidak membicarakan hal yang penting. Seperti misalnya saya bercerita tentang jari saya yang sedikit melepuh terkena panas setrikaan. Orang tua saya hanya bilang, "kamu kenapa ga laundry aja?". Lalu saya tersedak menangis. Ibu saya bilang "kamu pilek ya? kok serak?". Karena saya takut ibu sedih mengetahui saya menangis, saya hanya bilang "iya nih, udah dulu ya mah" lalu saya lanjut mencuci baju lagi di kosan. Haus perhatian sekali saya saat itu. Padahal, ketika di rumah biasanya saya sering mengabaikan ayah ibu saya saat mengingatkan makan atau minum susu. 
 
Designed by Beautifully Chaotic