Monday, September 29, 2014

Absurd Post #1

When everything like going wrong, time want you to ask
To someone who already knew what the very best version he could give to make it right
To someone who actually know what parts that should be repaired
To someone who doesn't know that he able to make it (almost) perfect

Who someone is?
Someone is you
Yourself
Yes, myself too

It's never too late to change
Even days replaced
But opportunities doesn't
It's growing bigger
Even doesn't wait for any longer

Sorry for my bad english, i still do practice hehe..

Sunday, August 31, 2014

Wisuda UI

Waktu, mengapa begitu buru-buru?
Mungkin kata-kata itu yang paling sering mengitari pikiran belakangan ini. Semakin banyak momentum yang terlewat, semakin terasa waktu begitu cepat meninggalkan dengan tega. Dua hari yang lalu, aku baru saja resmi menyandang gelar Sarjana Humaniora di Balairung, Kampus UI Depok. Suasana yang begitu khidmat ketika upacara berlangsung, membuatku merasa nostalgia, memutar waktu, mengingat-ingat awal pertama menginjakkan kaki di Balairung UI.

Empat tahun yang lalu, aku adalah mahasiswa baru yang menggunakan setelan kemeja dan rok putih serta jaket kuning kebanggaan. Bertepatan dengan bulan ramadhan, aku dengan ribuan mahasiswa baru lainnya bertugas untuk menyanyikan para wisudawan, senior yang belum kukenal. Namun ada cinta yang begitu besar pada kampus ini, sehingga aku rela bangun pagi setiap hari untuk latihan paduan suara sampai benar-benar menyanyikan untuk para wisudawan.

Saturday, August 23, 2014

Random Me

You have what others don't
You can do what others can't
You can choose while others only have one option
You complained something while others feel enough for what they got, even nothing
You happily played a game while others were tried to sleep
You slept while others were prayed and worked

Sometimes, i feel me...
...in that condition
Oh, yes
Human
Sure
We are human
But, it doesn't mean we should say 'oh that's ok' continously for what we've done
When i think, it's a mistake
I feel deeply down and talk to myself
 'Oh, God, sorry again'

And then i say,
Thanks God
For save me
For keep letting me awake
For always being here
For bless me

Feel grateful for anything
Seriously
Alhamdulillah

ps: sorry for my bad english, incorrect grammar, and poor vocabulary. I just randomly write all above when my neighborhood are celebrating the agustusan in front of my house. And you know the time show that it is almost midnight. Zzzzzz......

Retno Andini, 23:40

Sunday, August 10, 2014

Masa Transisi

Helloooo bloggers! So happy to be here again after a-really-long-not-productive-days to post. So, how's your day, guys? Yes, i think we are on the same boat, always feel blessed for anything happened in our life.
Oke, bahasa indonesia kembali.
Jadi begini, selama gak berkabar di blog, beberapa hal yang emeseyu emburegul terjadi dalam hidup saya. Masa-masa peralihan yang masih berlanjut hingga hari ini. Salah satunya adalah baru saja menyelesaikan kewajiban untuk disidang demi menjadi Sarjana Humaniora. Dan, alhamdulillah sudah terlewati dengan baik dengan beberapa hal yang sempat bikin emosi naik turun macam pendulum.
Lalu, apalagi?

Sunday, June 22, 2014

...

Titik
.
Titik satu
.
Titik dua
..
Tetap titik
.
Hanya titik
.

Sunday, June 15, 2014

Satu Masa Berbahasa

Bagiku, setiap masa adalah istimewa. Dari bayi hingga hampir dewasa, semuanya membekas rapi dalam jiwa. Meski hanya aku yang mengetahui, tidak salah apabila kubagikan disini meski sedikit saja. Masa yang terasa panjang adalah ketika aku masih suka digendong lalu diputar-putar seperti naik pesawat terbang oleh ayahku. Aku lupa sampai kapan tepatnya, yang jelas saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dulu, menjadi anak kecil itu membahagiakan. Sederhana menjadikan apa pun terlihat lebih mengejutkan dan perlu disyukuri tiap kali. Barang-barang canggih yang ku pahami ketika itu menjadi sangat biasa (mungkin) saat ini. Seperti halnya boneka Barbie dan baju serta aksesorisnya. Kamu tahu rasanya bisa menyisirkan rambut boneka saat itu? Bahagia sekali. Boneka barbie pertamaku berambut pirang super keriting. Cantik, namun tidak bisa diapa-apakan rambutnya. Sehingga yang bisa kulakukan terhadapnya adalah menggantikan baju serta sepatunya. Ibu, menjadi pendukung setia untuk mensponsori kebutuhan Barbie-ku. Kami suka pergi bersama untuk mencarikan baju yang cocok untuk si pirang. 

Wednesday, June 11, 2014

The 4th Indonesia Hijab Fest: Great Festival for Great Muslimah

Assalamualaikum, folks! 
How's your day? Wishing all of you have a lovely great day ;)
So, i wanna present you an impressive event that already passed. But the euphoria is still revolving until this calm Wednesday. Can you guess what the event was?
Yea, The 4th Indonesia Hijab Fest!
(source: http://www.http://jadwalevent.web.id/)

An annual big event was held again, yuhuuu! The three before was succeed, so how about the 4th? Yes, we will know how it was through this blog post :)
This event was held on May 29, 2014 until June 1, 2014 at Sabuga, Bandung. Becoming part of that event wasn't really difficult. We just need to paid Rp30.000,00 (public) or Rp5.000,00 (student). Moreover, we can entry for free if we bring mukenah that will be given to Mukena Charity. Yes, yes, it's so worth it. For the days, so many valuable contents and competitions were there. Including Parade Ustadz, Tulus Mini Concert, Family Fun Run, Talk Show, Fashion Show, and some competitions.

Monday, June 9, 2014

Bersoal Dunia Maya

Jadi, apa pentingnya dunia maya?
Mengapa banyak hal yang dilakukan di dunia nyata perlu diketahui di dunia maya?
Kedua pertanyaan tersebut terus memutari otak saya yang tidak jenius ini. Lalu, bagaimana kemudian saya bisa menerka-nerka dan memunculkan hipotesis dari penelitian hore ini? Ya dari menjadi satu dari sekian juta orang yang berpopulasi di dunia maya. Bagi saya, dunia maya bukan lagi sekadar media untuk mendapatkan hiburan dan kesenangan di kala suntuk dalam kehidupan dunia nyata. Dunia maya sudah lebih dari itu. Menjadi tempat berinteraksi, bekerja, belajar, berbagi, dan masih sangat banyak lagi.
Dunia maya memiliki fungsi yang berbeda bagi banyak orang. Fungsi tersebut didorong kebutuhan dasar. Pada postingan kali ini, penulis hanya akan membahas empat dari delapan kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori Maslow. Yang pertama, kebutuhan fisiologis. Kebutuhan satu ini jelas hanya bisa didapatkan di dunia nyata, contohnya seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis seperti bernapas. Lalu apakah internet memiliki peran? Melihat perkembangannya sekarang ini, internet menjadi sarana untuk mendapatkan beberapa di antara kebutuhan tersebut. Namun, hanya sebatas sarana ya. Pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah yang benar-benar bisa terlihat fisiknya.

Sunday, June 1, 2014

Sebelum Expired

Dum!
Sesuatu melesap ke dalam pikiran saya lagi. Memaksa masuk melalui celah-celah yang hampir tersumbat. Sebut sesuatu itu dengan L!
L (sesuatu) : halo! saya datang lagi ho ho ho
S (saya) : mau ngapain lagi? Heh!
L : mengganggu pikiranmu
S : pikiran udah over load begini, rajin bener mau nambahin *sigh*
L : karena saya peduli sama kamu
S : mana mungkin. Kamu tau apa tentang saya?
L : tentang apapun, melalui apa yang kamu tulis di buku maupun media sosial
S : sekali lagi ya, kamu sok tau!
L : terserah, saya yakin kamu penasaran
S : kepedean!

Sunday, May 25, 2014

Apa?

Malam, kita bertemu lagi. Meskipun tidak selalu datang saat kamu hadir, menjadi bagian darimu merupakan waktu yang selalu kutunggu-tunggu. Sekarang sudah pukul 18.12, aku sudah mulai muncul dan mengitari banyak orang. Beberapa orang ada yang sudah merasakan kehadiranku, kemudian berusaha untuk menghalangiku agar tidak terlalu mengganggu mereka. Padahal, tidak ada sama sekali niatku yang buruk kepada mereka.
Menyelimuti manusia adalah hobiku ketika malam tiba. Eits, di beberapa waktu tertentu pun aku suka juga melakukannya. Lagi-lagi, ku beritahu kalau aku tidak jahat. Hanya ingin keberadaanku disadari. Senang apabila melihat mereka yang sadar, mengambil tindakan dengan buru-buru mencari suatu benda untuk menemani. Bukan berarti aku cepat menyerah. Jiwa iseng yang hidup di dalam diriku selalu menyeruak.
Malam, jadilah teman yang baik untukku demi manusia. Kepadanya, aku ingin memberitahu kalau selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Seperti aku yang berada di balik sisi yang lebih sering terasa. Manusia mudah sekali dibuat-buat perasaannya. Apalagi dengan sisi kebalikanku. Aku datang untuk keseimbangan. Siapakah aku?

Thursday, May 22, 2014

Beda Empat Menit!

Hai Mister, yang lagi bagi-bagi hadiah buat jalan-jalan muterin Inggris! Salam kenal, aku Retno Andini, yang seringnya dipanggil Keke biar nggak ribet. 
Kenapa?
Kenapa Keke?
Karena gak butuh R. Kasian teman-teman yang agak susah nyebutin R, dipaksa untuk manggil "Retnooo!" Nggak suka kalo didengernya jadi "Letnooo!" :(
Oke, garing. Ada sih alasan yang sejujurnya cuma diketahui beberapa orang terdekat. Nanti Mister juga dikasih tau deh kalo kita akhirnya duduk sebangku di London Eye :3
Saat ini, aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berperang dengan waktu. Setiap mengerjakan tugas akhir yang satu itu, ada degup yang lebih keras ketika mengingat waktu. Sebentar lagi, ya sebentar lagi harus selesai. Semuanya serba memakai deadline, yang kalo diindonesiakan tanpa buka kamus artinya garis kematian. Hiii serem! Bagaimana deadline ditentukan? Jelas, dengan menjadikan waktu sebagai ukuran.
Seringkali dosen meminta mahasiswanya untuk men-submit tugas pada pukul 23.59 WIB. Orang-orang yang rajin dan tepat waktu biasanya akan mengumpulkan empat jam sebelum deadline. Orang-orang yang rajin namun memiliki koneksi internet yang buruk,  baru dapat mengumpulkan sejam sebelum deadline. Loading adalah satu-satunya alasan, ketika ukuran tugas yang harus dikumpulkan melebihi 10 MB. Lalu apa yang terjadi kepada mahasiswa yang malas dan memiliki koneksi internet yang kurang baik? Mereka mengumpulkannya tepat pukul 23.59 WIT. Bye!
Kata seseorang,
Jangan menjadi orang yang dikejar-kejar waktu, jadilah yang mengejar waktu.
Iya, kata-kata itu selalu berada di bagian paling bawah, mengendap, di alam bawah sadarku. Namun, kenyataannya untuk hal-hal yang begitu kecil saja, aku suka tidak mengindahkan waktu. Misalnya ketika berjanjian dengan seseorang. Ia adalah laki-laki yang sangat tepat waktu. Sepertinya memang dia yang Capricorn sejati, bukan aku. Setiap berjanjian dengannya, selalu aku dan lagi-lagi aku yang terlambat. Meski sudah menetapkan waktu bertemu dengan jam dan menit yang seharusnya ditepati, tetap saja tidak mempan untukku.
Suatu siang di bulan Februari, aku berjanjian dengannya di suatu tempat dengan waktu yang sengaja kutentukan sehari sebelumnya.
"Jadi besok mau ketemu jam berapa disana?"
"Enaknya jam berapa ya?"
"Kamu yang nentuin aja..."
"Kok gitu? Kamu aja."
"Kamu aja, sayang."
"Kamu..."
Begitu terus sampai lebaran kuda.
Sampai pada akhirnya, "Yaudah jam 10.15 ya disana. Jangan ngaret loh!" kataku.
"Oke deh, yang biasanya ngaret siapa emangnya?"
"...."
"Sampai ketemu besok jam sepuluh lewat lima belas. LIMA BELAS."
Suka hiperbolis ceritanya.
Keesokan harinya, aku berusaha untuk bersiap-siap lebih cepat, kemudian minta diantarkan adik ke jalan raya untuk menunggu angkot. Sayangnya, adik ternyata ada kuliah pagi. Alamat mesti jalan kaki sambil lari-lari yang membutuhkan waktu sekitar tujuh menit.
Setelah mendapatkan angkot untuk mencapai tempat bertemu, aku naik dan duduk manis di bangku enam paling pojok kesukaanku. Semilir angin lewat jendela geser yang dibuka, membuatku tidak ngeh kalau aku sudah tiga menit berada di tengah kemacetan. Deg-degan. Jangan sampai ia yang sampai duluan, batinku.
Pukul 10.09, ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya menanyakan keberadaanku saat itu. Kujawab buru-buru, dan bertanya balik apakah ia sudah sampai di tempat itu. Kutunggu jawabannya, hingga akhirnya ia menjawab pada pukul 10.12.
Jreng! Kukatakan padanya bahwa aku akan segera sampai pada waktu yang tepat, 10.15 WIB. Ketika sudah sampai, aku melihatnya yang sedang berkali-kali memandangi jam tangannya yang bukan digital. Lalu kukatakan kepadanya, "Hey, aku tepat waktu kan?'
"Enggg, di jam ini sekarang udah 10.19. Weeek!"
"Lah kok? Di handphoneku..."
"Loh?"
"Jam kamu salah kali tuh."
"Nggak mungkin sayang, ini udah sama waktunya kayak jam beberapa orang penting. Hahahaha."
"Nggak mungkin. Jam aku lah yang bener."
"Ah, masa?"
"Iya dong, ini pake standar waktu di Big Ben."
"Pret!"
"Ih beneran. Awas aja."
Kemudian kami terus melanjutkan perdebatan tidak penting mengenai selisih waktu yang kami yakini. Semenjak itu, aku sering melihat waktu di jam yang digunakan orang lain. Semakin bingung, ada yang beda 10 menit, 5 menit, bahkan 1 menit, dengan waktu yang kuyakini. Dengan itu, aku ingin membuktikan bahwa waktu yang ter-setting di ponselku adalah benar dengan standar dunia. Hahahaha...
Mister, ajak aku ke Big Ben yah. Biar kalo janjian sama dia lagi, aku bisa punya pendapat yang gak bisa dibantah kalo dibilang ngaret lagi :3
 Anyway, salam dari keluargaku yang suka banget nyemilin Smax VIlle & Mister Potato hihihihi

Sunday, May 18, 2014

Agenda Mimpi

Halo! Salam ini ditujukan untuk siapa pun yang sedang mengunjungi halaman ini. Terima kasih untuk membaca lebih lanjut tulisan rutin Minggu pagi blog saya. Mari berbicara tentang mimpi, harapan, dan apa pun yang terkesan konyol namun selalu minta untuk dicapai. 
Pagi ini, ada lembaran ms. word yang minta terus dibuka dan ditambah isinya. Iya, kewajiban saya memang untuk mengerjakannya. Tapi sebentar dulu, saya ingin mengisi blog sebentar. Lama-lama pusing juga, resah juga, mengingat tenggat waktu yang semakin dekat. Rasanya seperti ditakut-takuti badut tinggi besar dengan tutul-tutul merah di kedua pipinya. Kemudian badut tersebut ingin menyergap saya dan memasukkan ke dalam kantong depan baju polkadotnya. AH! Namun, ini artinya segala tanggung jawab saya akan dan harus segera selesai! :')

Seruput Ide




Kata mudah diucapkan bagi mereka yang terbiasa bicara, mudah dituliskan bagi mereka yang selalu mendapatkan inspirasi. Layar 14’’ ini menjadi teman penuh perhatian ketika tuts keyboard ditekan satu persatu penuh irama. Tetap menyala terang selama kabelnya tetap terhubung dengan saklar. Tidak ada screensaver, hanya hitam sekejap ketika beberapa menit didiamkan. Namun tetap tidak berubah, ditekan satu tombol, menyala seperti sedia kala. Ketika layar menghitam, ada sekat dalam pempaparan ide. Berhenti, seperti butuh sesuatu.
Dapur menjadi harapan untuk menemukan sesuatu yang mampu menggeser sekat ini. Beberapa sachet hijau panjang kutemukan di atas microwave milik ibuku. Rasanya tidak perlu menimbang-nimbang, ujung sachetnya kusobek, lalu kupindahkan isinya ke dalam cangkir pemberian seorang teman. Kutuang air panas kedalamnya, aduk sebentar, lalu kuletakkan di samping teman penuh perhatian yang sedang gelap layarnya. Kuberanikan lagi untuk membuatnya menyala kembali. Sambil kuseruput sedikit-sedikit japanese green tea latte, ada perasaan tenang yang membuatku bisa berpikir lebih jernih.
Foam lembut pada minuman ini membuatku bisa menemukan keindahan melalui isi sebuah cangkir. Terlebih dengan pencampuran susu yang membuatnya jauh lebih menenangkan pikiran. Di samping kandungan green tea yang memiliki banyak manfaat, japanese green tea latte memberi kandungan lebih berupa penyegar ide bagi peminumnya yang sedang terhenti menulis skripsi seperti apa yang tengah dilakukan saat ini. (13/02/2014)

tulisan ini merupakan best 20 story telling esprecielo

Sunday, May 11, 2014

Cerita 30 Menit

Senang.
Setiap kegiatan, peristiwa, tragedi yang pernah kulalui selalu meninggalkan bekas di pikiran. Kali ini, aku akan menceritakan salah satu, sebagian kecil, atau bahkan sangat kecil dari apa yang pernah rutin kulalui terjadi hampir setiap pagi dan sore. Jadi, apa yang ingin kutulis?
Satu.
Dua.
Tiga.
Ya, cukup!
Sore itu, di angkutan umum berwarna oranye. Penumpang yang duduk di bangku yang paling pojok dekat jendela adalah aku. Bukan jendela, tapi kaca yang menghadap ke belakang maksudku. Senang bisa se-angkot dengan banyak orang berpakaian formal, seperti baru pulang bekerja. Wajah mereka tidak jarang yang kusut, laki-laki maupun perempuan. Meski para pekerja perempuan sepertinya sudah touch up sebelum pulang bekerja. Tetap usapan bedak tebal dan teman-temannya itu tidak dapat menutupi rasa penat para wanita pekerja itu.

Sunday, May 4, 2014

Maaf dan Terima Kasih

Selamat pagi hitam abu-abu! Aku tahu, kamu sedang senyum-senyum sendiri ketika sadar sedang dibicarakan olehku di sini. Tolong bersabar dulu, aku tidak ingin memuji-mujimu. Tidak juga ingin mencercamu yang sebenarnya tidak banyak bersalah. Hanya saja, tulisan ini dibuat untuk mengingat-ingat seberapa banyak cerita hidupku yang diam-diam diketahui dan ditertawakanmu. Semoga kamu berkenan wahai lembaran besi ajaib yang sudah baret-baret.
Sebenarnya aku tidak tahu pasti awal pertama kita bersahabat. Kamu datang karena kebutuhanku, aku ingat sekali. Waktu itu, ketika memiliki status baru sebagai mahasiswa (baru), kamu sudah hadir dengan kondisi sehat sempurna. Menemani menghabiskan waktu mengerjakan tugas orientasi fakultas dan universitas. Melalui kamu, informasi mengenai denah fakultasku dapat ditemukan. Melalui kamu, banyak teman baru sesama maba (mahasiswa baru) kudapatkan informasinya. Melalui kamu, aku mendapatkan pertolongan untuk mengubah foto selfieku menjadi terlihat karikatur, lagi-lagi untuk tugas orientasi. Iya, banyak sekali yang sudah kamu berikan sejak awal perkuliahan dulu. Bahkan, sudah hampir empat tahun. Kamu masih setia menemaniku untuk menyelesaikan tugas akhir.

Sunday, April 27, 2014

Asal Berkata

Ha ha ha
Tawa getir yang terus terdengar lirih dari orang yang berada di pantulan cermin. Mengingat kembali apa yang sedang terjadi, kemudian membuat korelasi terhadap kata-kata yang keluar dari mulut dan pikiran beberapa waktu yang lalu. Tuhan menjadi sangat usil kadang-kadang. Nyatanya memang selalu ada yang memperhatikan kita. Mulai dari tingkah laku, perbuatan, pikiran, bahkan perasaan yang tersembunyi sekalipun. Sementara itu kita, saya, suka seenaknya bertindak bodoh seakan-akan tidak ada yang lihat dan dengar. Cara Tuhan membuat korelasi antar kejadian mungkin sebagai penanda atas rasa perhatian-Nya, yang suka dirasa kurang oleh saya suatu waktu.

Sunday, April 20, 2014

Nasi dan Kambing

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar frase 'nasi goreng'? Apakah sepiring nasi berwarna kecoklatan yang teraduk bersama telur, potongan cabai, dengan teman-temannya? Atau berbeda dari itu? Tidak masalah sih, karena nasi goreng yang pernah kita makan tidak selalu sama. Pengetahuan kita tentang nasi goreng tidak pernah sama. Apalagi saya yang seringnya hanya makan nasi goreng gerobakan yang sukanya buka di malam hari. Selebihnya? Mungkin nasi goreng buatan ibu, ataupun nasi goreng restoran, ya itu pun sangat jarang untuk dijadikan sebagai menu pilihan saya. Sementara itu, ada seseorang yang setiap ingin makan, hampir selalu memesan nasi goreng. Dimanapun ketika tulisan nasi goreng tercetak di daftar menu yang disediakan. Seringkali saya menebak-nebak menu apa yang akan ia pilih setelah diam cukup lama mengamati daftar makanan yang berentet. Setelah itu, ia berkata "nasi goreng."

Sunday, April 13, 2014

Perempuan

Susunan kata yang berbeda dengan maksud yang sama. Itulah yang kutemukan di direct message twitter pagi ini. Masih suka aneh ketika kita memiliki kesamaan maksud, pikiran, ataupun perasaan pada waktu yang bersamaan. Baiknya dibiarkan saja untuk tetap menjadi misteri. Kali ini aku diminta untuk menulis untuknya (jelas), tentangnya, dan sesuatu yang sulit untuk dideskripsikan ke dalam tulisan hahaha. 

Setiap orang tentu memiliki kecenderungan perasaan untuk diapresiasi, dinilai, dan dipuja-puji. Berbeda dengan kritik, saran, kecaman yang malah sering datang begitu saja tanpa diminta terlebih dahulu. Lalu bagaimana denganku yang diminta untuk menuliskan salah satu diantaranya? Oh, bukan itu seutuhnya. Namun sesuatu yang membentuk mengapa tiga hal itu bisa ada hingga sekarang. Kekurangan? Manusia pasti ada kurangnya, sebanyak apapun lebihnya. Manusia pasti selalu ada salahnya, sebesar apapun usahanya untuk menjadi benar di mata banyak orang. Sebenarnya aku kurang suka ketika diminta untuk menilai, yang jatuhnya malah menghakimi. Jadi, baiknya aku menceritakan siapa raga dan jiwa yang mencoba meneruskan tulisan pada halaman ini. Siapa tahu, dengan ini kamu bisa menemukan beberapa clue sebagai jawaban yang kamu pesan tadi pagi.

Tuesday, April 8, 2014

Perjalanan ke Freedom Institute

Tepat pukul 11.00 WIB, soal serta Lembar Jawaban Komputer (LJK) kutinggalkan di atas meja. Mengenai apa yang telah kukerjakan, rasanya tidak ada yang benar-benar meyakinkan jawabannya. Kepalaku pusing, sudah lama tidak menyentuh puluhan soal bahasa inggris semacam itu. Aku adalah orang kedua terakhir yang keluar dari ruangan itu. Sulit sekali, aku kekurangan waktu untuk membulatkan jawaban pada nomor-nomor soal listening yang sulit kutangkap suaranya. Semoga saja hasilnya tidak terlalu buruk, sehingga tidak begitu mengecewakan orang-orang di rumah, pikirku. Seharusnya, ada sesi yang masih bisa kuikuti, yaitu oral test, meski cuma sebagai option. Aku memilih untuk segera keluar dari gedung berlantai empat itu, lalu cepat-cepat mencari angkutan kota 26 yang dapat mengantarkan ke Kampung Melayu.

Sunday, March 30, 2014

Rumah Impian

Memiliki sebuah rumah tentu menyenangkan bagi setiap orang, ya kalau di buku IPS kelas 3 SD pun dikatakan kalau rumah (papan) adalah kebutuhan pokok manusia setelah sandang dan pangan. Aku pun pasti ingin memiliki rumah suatu saat nanti, setelah hampir 22 tahun dibesarkan di lima rumah yang berbeda. Banyak ya, ternyata keluargaku hobi berpindah-pindah ketika itu. Mengalami banyak perpindahan membuatku 'dipaksa' untuk cepat beradaptasi dengan orang baru. Ingat sekali ketika masih pra TK, aku sedang hobi bermain dokter-dokteran di lantai dua rumah seorang teman. Namun, orangtua tiba-tiba memberitahuku kalau kita akan segera pindah.

Sunday, March 23, 2014

Mata?

Seberapa banyak kata yang membutuhkan mata? Dari mata hati hingga mata kaki. Ada puluhan bahkan ratusan kata yang menjadi lebih bermakna ketika ditambahkan mata. Sebegitu pentingkah? Iya. Bagaimana sesuatu bisa dibilang penting kalau kita tidak tahu dasarnya? Maka, lagi-lagi kita perlu mata untuk melihat seberapa besar kadar suatu hal untuk dipikirkan, dibicarakan, dan diteliti lebih dalam. Mata, bukan hanya organ, melainkan celah untuk melihat lebih banyak warna dibanding ketika mata ini dipejamkan. Hanya hitam. Serta kilatan tak tentu arah.
Warna memang banyak. Hitam dan putih juga termasuk. Namun, mengapa kita harus terpaku pada monokrom apabila ada multikrom? Mengapa harus lagi-lagi biru dongker, kalau peach dan biru muda juga bersanding di  tempat yang sama? Banyak sekali pilihan, ketika mata dibiarkan untuk terus berjelajah. Banyak sekali bentuk ketika mata dibiarkan untuk terus berjalan-jalan. Seperti deretan tuts hitam pada keyboard ini. Semuanya bisa dipilih, diketik, dirangkai, dan dijadikan berbagai catatan sesuai kesukaan.

Sunday, March 16, 2014

Mahasiswa Tingkat Akhir

Ketik dua baris. Hapus sebaris. Sudah dua alinea. Alinea pertama tidak koheren. Begitu seterusnya. Proses yang akan terus memanjang hingga deadline yang benar-benar berani membuat semuanya berhenti. Kemudian ada pertanyaan yang menggerayangi kita, seperti 'udah maksimal belum ya kemarin?' 'aduh ada yang kurang nggak ya?' dan mungkin banyak pertanyaan lainnya yang akan lebih mengganggu pikiran. Mengapa saya tidak menyebutkan semuanya? Karena saya pun belum mengalaminya hahaha. Namun, sedang dalam usaha menuju kesana. Kalau diibaratkan tokoh kartun larva, mungkin saya adalah si kuning yang hampir dehidrasi kehabisan air tanah. Masih hampir, belum sampai kehabisan sih. Apa sih saya ini. (-_-)

Monday, March 10, 2014

Benar-benar Aneh

Senin, lebih sehari dari apa yang pernah dijanjikan. Sebenarnya saya ingat kemarin malam, namun rasanya otak sedang lelah berpikir, didukung jari yang terlalu malas menyentuh dashboard blogger. Saya memang sedang malas, sampai detik ini. Malas melakukan apapun, sampai rasanya malas berharap atas apapun. Aneh. Bukan hilang motivasi, hanya sedang ingin istirahat.
Ketika menulis ini, notes kuning yang merupakan salah satu aplikasi android adalah medianya. Bukan blogger.com ataupun body e-mail. Saya malas bertemu loading. Malas berharap koneksi internet menjadi sangat cepat. Malas berharap hujan akan segera berhenti dan berganti dengan awan cerah. Malas berharap e-mail saya yang satu itu terbalas satu menit lagi. Saat ini, saya benci berharap. Kalau untuk hal-hal kecil saja sulit, apalagi untuk hal-hal besar? Kadang merasa sangat bodoh dengan apa yang ada di pikiran saya. Untuk hal-hal menyenangkan yang selalu saya harapkan bisa terjadi. Manusia bisa apa? Harapan mungkin memang sepatutnya diberi hanya untuk Sang Pencipta, yang punya kuasa penuh atas apapun. Berbeda dengan manusia yang punya bakat untuk mengecewakan.
Lebih baik saya melakukan apa yang bisa saya kerjakan sendiri. Mendengarkan musik keras-keras atau apapun yang bisa menyenangkan hati. Tulisan ini semakin aneh maksudnya, lebih baik saya sudahi saja.

Sunday, March 2, 2014

Tulisan untuk Tulus

Selamat siang penulis dibalik palawija.tumblr.com, penyanyi bersuara merdu, dan pemurah senyum dimanapun kamu terlihat. Aku adalah penikmat tulisan-tulisanmu, foto-foto hitam putih, dan apapun yang kamu masukkan sebagai postingan di palawija berbentuk digital itu. Seringkali aku merasa penasaran dengan sosokmu yang sepertinya hangat, ketika dilihat di salah satu foto hitam putih, lagi-lagi di tumblrmu. Foto ramai-ramai di dalam mobil, dan ya ada anak-anak lucu yang membuat senyummu lebih menyenangkan. Aku mulai mengenalmu 2 tahun yang lalu, ketika ada yang sebentar-sebentar membicarakan lagu sewindu-mu di kampus. Iya, aku lebih awal mengetahui suaramu dibanding wajahmu. Google adalah teman waktu itu, aku mendengarkan lagumu, dan mulai mencari-cari siapa dirimu. Lalu tenggelamlah aku pada timeline twittermu, rangkaian kata-kata sederhana yang membuatku dengan mudah untuk menekan tombol favorite. Iya, aku mengagumimu. Dan sialnya, aku mendapatkan link tumblrmu. Sudahlah, aku makin tergila-gila. Beberapa kali ku-reblog tulisanmu. Namun, sengaja tidak kufollow karena takut terlalu kecanduan.

Kenapa Bingung?

Mata segaris di minggu pagi, sudah biasa. Yang berbeda adalah, langsung membuka blogger melalui chrome gadget ini. Sungguh, ini tidak akan pernah saya lakukan kecuali dalam keadaan darurat. Hoam. Maaf sudah bangun terlambat hingga membuat tulisan-tulisan kita terlambat pula bisa dilihat satu sama lain. Tema hari ini adalah bingung. Kenapa? Mungkin karena Ia sedang bingung ketika menetapkannya. 
Saat ini terdengar sayup-sayup lagu lawas yang disetel di tape recorder tetangga sebelah. Entah lagu apa, yang nyanyi siapa, sungguh hanya menambah saya menjadi lebih mengantuk. Kipas angin yang masih dinyalakan beberapa kali anginnya membuat mata saya meram sebentar-sebentar. Terlalu banyak gangguan pagi ini. Lalu saya ingin menulis apa? Mungkin sebuah pesan untukmu.

Thursday, February 20, 2014

Alasan Pulang

"I won’t be happy ‘till I’m with you
Home for me is where you are.
These four walls are nothing without you.
Home for me is where you are"

Us- Take Me Home
Beberapa baris lirik diatas adalah bagaimana perasaan saya yang masih sulit diluapkan ketika bertemu dengannya, setelah pergi menjauh beberapa lama. Jarak memang bukan sekadar ukuran, namun juga berkas-berkas harapan yang terus memanjang sepanjang jarak yang terus bertambah. Bila dihitung menggunakan satuan kilometer, rasanya saya memang tidak pernah sanggup untuk berpisah meski untuk sementara waktu. Saya yang selalu kalah dalam perpisahan, pada akhirnya harus bersugesti kalau ada yang indah setelah perpisahan. Yaitu pertemuan, yang sungguh jauh lebih menyenangkan apabila terus diingat-ingat sampai saat ini.
Bagi saya, menjauh sejenak itu penting bagi mereka yang ingin menemukan diri sendiri, melihat dunia baru, dan berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya bagai alien dari planet asing. Berada di suatu tempat yang baru merupakan hal yang agak menakutkan sekaligus memberi tantangan bagi anak manja seperti saya. Untuk pertama kalinya, saya memberanikan langkah untuk memulai perjalanan jauh sendirian. Jogja, tidak begitu jauh memang --bagi sebagian orang--. Namun, begitu banyak yang harus ditinggalkan sementara. Keluarga, sahabat, dan seseorang lainnya yang spesial dalam hidup saya. Pergi jauh kali ini tentu bukan untuk main-main, melainkan karena bagian dari inisiatif saya dalam merampungi salah satu perkuliahan.

Wednesday, January 1, 2014

Menjadi Seseorang

Belakangan ini, saya merasa terdorong-dorong oleh sesuatu. Mungkin namanya motivasi, yang datang lewat siapa saja di sekitar saya. Takdir memang begitu. Tiba-tiba saya banyak dipertemukan oleh orang-orang hebat yang belum pernah lihat sebelumnya atau menyadari ternyata saya dikelilingi beberapa teman yang ternyata hebat. Ada sesuatu yang magis ketika saya ingin mendatangi  suatu acara, awalnya bukan karena ingin melihat sosok hebat si creator, namun pada akhirnya saya selalu dibayang-bayangi oleh kejeniusan ide pembuat objek yang ingin saya lihat. Atau ketika tiba-tiba tangan ini mengklik sebuah link  di homepage facebook, dan terbawalah kepada cerita-cerita keren milik teman saya, dan saya baru sadar. Dan, yang paling mudah, tayangan televisi yang menyajikan obrolan hangat para pemimpin, sungguh inspiratif. Di tengah parahnya tayangan televisi, kita jadi lebih mudah menyaring tayangan mana yang benar-benar berkualitas dan berguna untuk ditonton sekeluarga. Dan, alhamdulillah ada yang masih baik.
 
Designed by Beautifully Chaotic