Thursday, February 20, 2014

Alasan Pulang

"I won’t be happy ‘till I’m with you
Home for me is where you are.
These four walls are nothing without you.
Home for me is where you are"

Us- Take Me Home
Beberapa baris lirik diatas adalah bagaimana perasaan saya yang masih sulit diluapkan ketika bertemu dengannya, setelah pergi menjauh beberapa lama. Jarak memang bukan sekadar ukuran, namun juga berkas-berkas harapan yang terus memanjang sepanjang jarak yang terus bertambah. Bila dihitung menggunakan satuan kilometer, rasanya saya memang tidak pernah sanggup untuk berpisah meski untuk sementara waktu. Saya yang selalu kalah dalam perpisahan, pada akhirnya harus bersugesti kalau ada yang indah setelah perpisahan. Yaitu pertemuan, yang sungguh jauh lebih menyenangkan apabila terus diingat-ingat sampai saat ini.
Bagi saya, menjauh sejenak itu penting bagi mereka yang ingin menemukan diri sendiri, melihat dunia baru, dan berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya bagai alien dari planet asing. Berada di suatu tempat yang baru merupakan hal yang agak menakutkan sekaligus memberi tantangan bagi anak manja seperti saya. Untuk pertama kalinya, saya memberanikan langkah untuk memulai perjalanan jauh sendirian. Jogja, tidak begitu jauh memang --bagi sebagian orang--. Namun, begitu banyak yang harus ditinggalkan sementara. Keluarga, sahabat, dan seseorang lainnya yang spesial dalam hidup saya. Pergi jauh kali ini tentu bukan untuk main-main, melainkan karena bagian dari inisiatif saya dalam merampungi salah satu perkuliahan.

Jujur, keadaan dan masyarakat di Jogja sangat membuat saya nyaman hingga rasanya ingin terus berada disana. Mereka sangatlah ramah, tidak segan untuk menanyakan apa yang sedang saya kerjakan, melemparkan guyonan, dan mengajak makan siang bersama. Keadaan seperti ini yang membuat saya terkadang merasa di rumah sendiri. Dan, suasana kota itu jauh lebih membuat saya merasa aman dibanding ketika berada di Jakarta. Namun, ketika mendapat telepon dari orang-orang yang sedang saya tinggalkan ketika itu, ada sesuatu yang menggugah ketika mereka meminta saya untuk pulang. Diharapkan untuk pulang, sementara saya sedang betah-betahnya di kota yang memiliki slogan "Jogja Berhati Nyaman". Bingung sekali.
Setiap ada telepon masuk, selalu ada kata-kata pulang. Lagi-lagi saya hanya mengiyakan dan mulai berpikir untuk mempercepat kepulangan saya ke rumah yang sebenarnya. Sampai pada suatu hari, ketika itu saya sedang asik duduk di bangku panjang angkringan sambil menyuap sesendok nasi kucing dan sate telur puyuh ke dalam mulut. Tidak lama kemudian ada getaran keras yang bisa dirasakan hingga membuat es teh manis dalam gelas bergerak kencang. Banyak orang keluar ruangan. Beberapa orang meneriakkan doa-doa sambil ketakutan. Gempa, 24 Januari 2014. Mungkin saya terlalu cengeng kalau langsung menangis saat itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa dalam hati, dan berharap tidak ada gempa susulan atau bencana lainnya dalam waktu dekat. Rasa takut mulai merasuk ke dalam diri seseorang yang sok berani, siapa lagi kalau bukan saya. Selama 2 jam setelah terjadinya gempa, saya hanya bisa diam terpaku di salah satu bangku TAMARA (Taman Masyarakat Sambung Rasa) Perpustakaan Kota Yogyakarta. Hilang pikiran, hanya terbayang-bayang kemungkinan buruk yang bisa terjadi ketika saya disana saat itu. Seketika saya ingat kalau saya tidak punya siapa-siapa disana, saya hanya memiliki perlindungan atas diri sendiri oleh diri sendiri. Pahit. Beberapa orang yang saya cintai langsung saya hubungi saat itu. Respons mereka datar, biasa saja, hanya mengingatkan untuk berdoa. Mungkin mereka takut membuat saya tambah panik. Sampai beberapa hari berikutnya, gempa terjadi ketika saya sedang terlelap tidur di kasur kosan yang tidak begitu baik tripleksnya. Untungnya saya sedang tidak sadar merasakan, sehingga level paranoid tidak menambah begitu banyak. Informasi terus saya serap meski dipilah-pilah dulu, mengenai berita-berita berbau geografi yang link-nya bertebaran di social media dengan ikon burung biru itu. Namun, apalagi yang bisa saya lakukan selain cemas sambil berdoa sebanyak mungkin?
Bantal kapuk yang kian kempes itu mungkin sedikit basah karena tangis ketika tidur. Saya pun tidak sadar kalau sempat menangis, namun bangun-bangun hidung terasa agak mampet begitu saja. Menangis sambil tidur, entah itu model ketakutan tingkat berapa. Mungkin jiwa saya juga sedang terasa ditakut-takuti saat itu, sehingga berkompromi dengan lakrimalis untuk memproduksi air mata dalam raga yang beristirahat.
Rumah, saya butuh itu. Bukan dalam bentuk bangunan berpondasi batu kali. Namun dengan pondasi yang jauh lebih kuat dari itu, yaitu rasa memiliki dan peduli sepanjang usia. Didalamnya ada beberapa manusia penuh perbedaan dengan beberapa kesamaan. Orang-orang yang secara tidak sadar selalu menjaga saya, memastikan keselamatan saya, meragukan keberanian saya, ternyata pada akhirnya adalah yang paling saya rindukan. Tanggal kepulangan ke rumah selalu saya hitung setiap hari, tinggal berapa lama lagi, terus dihitung.
Sesampainya di rumah, banyak hal yang baru saya sadari. Tentang orang-orang yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan saya, namun berusaha melepas saya pergi jauh untuk memberikan kesempatan belajar. Orang-orang yang sangat merindukan saya, namun berusaha untuk tidak menyiksa saya dengan memperlihatkan kerinduan mereka. Dan orang-orang dengan kasih sayang tak terbatas yang sering saya batasi waktu pertemuannya.
Pulang memiliki banyak definisi, baik ataupun buruk, pulang selalu menjadi dahaga bagi saya yang tengah kehausan di tengah jalan pencarian kehidupan. Terima kasih karena selalu menjadi alasan saya untuk pulang.
Retno Andini
20 Februari 2014
Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic