Tuesday, April 8, 2014

Perjalanan ke Freedom Institute

Tepat pukul 11.00 WIB, soal serta Lembar Jawaban Komputer (LJK) kutinggalkan di atas meja. Mengenai apa yang telah kukerjakan, rasanya tidak ada yang benar-benar meyakinkan jawabannya. Kepalaku pusing, sudah lama tidak menyentuh puluhan soal bahasa inggris semacam itu. Aku adalah orang kedua terakhir yang keluar dari ruangan itu. Sulit sekali, aku kekurangan waktu untuk membulatkan jawaban pada nomor-nomor soal listening yang sulit kutangkap suaranya. Semoga saja hasilnya tidak terlalu buruk, sehingga tidak begitu mengecewakan orang-orang di rumah, pikirku. Seharusnya, ada sesi yang masih bisa kuikuti, yaitu oral test, meski cuma sebagai option. Aku memilih untuk segera keluar dari gedung berlantai empat itu, lalu cepat-cepat mencari angkutan kota 26 yang dapat mengantarkan ke Kampung Melayu.
Matahari sepertinya membuka cabang di sekitaran Kalimalang, karena panasnya yang tidak kira-kira membakar kulitku yang tidak putih ini. Setelah menyetop salah satu angkot berwarna biru telur asin itu, aku memilih untuk duduk di paling depan, samping supir. Handphone ternyata terus bergetar, ada beberapa panggilan dan pesan yang berasal dari orang yang sama. Ya, kami memang berjanjian. Namun, aku sudah bilang sebelumnya kalau aku akan menyusul. Ragu-ragu, ada rute serta transportasi yang yang dijelaskan temanku, di LINE, yang jelas bukan di handphone yang nada deringnya masih poliponik ini. Segera kuambil gadget putih itu dari dalam tasku. Cepat-cepat ku membuka LINE, serta membalas apa yang perlu dibalas, dan mengingat apa yang harus diingat. Tiba-tiba supir disebelahku bertanya:
“De, aipetnya bisa buat nonton tivi ya?”
“Eh? Nggak bisa pak.”
“Itu namanya aipet apa?”
“Galaxy tab pak samsung. Bisa sih nonton tv tapi pake internet.”
“Oh gitu ya.”
Kemudian kumasukan kembali apa yang disebut aipet oleh pak supir, agar Ia tak bertanya-tanya lebih lanjut mengenai fitur-fitur selain bisa nonton tv. Tidak lama kemudian, ada dua orang berpakaian rapi menaiki angkot itu. Salah satu dari mereka, laki-laki, menegur pak supir. Kemudian mereka mengobrol asik mengenai mobil-mobil angkot. Ternyata penumpang itu adalah pihak leasing mobil yang menerima angsuran bapak supir dalam pelunasan mobil yang ketika itu kunaiki. Mereka mengobrol panjang lebar meski tidak bertatap muka. Di tengah obrolan yang tidak singkat itu, bisa-bisanya pak supir meminta maaf kalau-kalau angsurannya agak terlambat dibayar. Kemudian kedua penumpang berpakaian rapi itu minta diturunkan karena sudah sampai di depan kantornya. Pak supir tidak mau diberikan ongkosnya.
“Nih pak,” kata penumpang sambil memberikan uang ke pak supir dari dalam angkot
“Ah gak usah lah, bawa aja.”
Penumpang itu malah tidak sengaja melempar uangnya lalu turun dari angkot.
Pak supir yang awalnya senyum-senyum menjadi agak kesal ketika mendapat perlakuan tersebut. Kemudian ia menghadap saya.
“Bayar sih bayar, tapi ga usah dilempar juga. Dia orang lising, saya ngangsur disana.”
“Hehe iya.”
Jalanan sepanjang Kalimalang terbilang ramai lancar. Ketika di daerah kodam, mobil dihentikan seorang nenek yang menyetop dengan aba-aba dari tangan kanannya. Nenek tersebut duduk di sampingku. Otomatis aku menggeser sedikit, agar kursi ini bisa muat untuk dua orang. Nenek ini terlihat sudah lumayan umurnya, kurus sekali, memakai bedak dan lipstik merah. Aku merasa sangatlah kucel disampingnya. Berkali-kali ia melihat ke arahku, namun aku tetap memandang ke arah depan. Akhirnya, ia hanya menatap spion, senyum-senyum melihat cerminan wajahnya sendiri.
Panasnya siang itu membuatku berkali-kali ingin mengambil botol minum dari dalam tas, namun sulit sekali dikarenakan tempat duduk yang begitu sempit. Setelah melewati lampu merah Halim, angkot mendadak berhenti, pak supir tiba-tiba berteriak ke arah penjual buah “pepaya ya 1.” Kemudian angkot melanjutkan perjalanan. Di tengah sebuah komplek daerah Cawang, ada anak-anak yang baru keluar dari sekolahnya. Ada seorang anak laki-laki yang tinggi berseragam pramuka dengan seorang perempuan berseragam yang sama dan seorang perempuan lainnya yang berseragam putih abu-abu. Kelihatannya, perempuan yang berbeda sendiri seragamnya itu sedang didekati oleh anak laki-laki, sedangkan perempuan yang berseragam pramuka sebagai mak comblang.  Angkot penuh, sebagian diisi oleh penumpang berseragam sekolah. Hampir sampai di Kp. Melayu, kedua perempuan yang berseragam itu turun, namun tidak membayar ongkos. Kata anak laki-laki dari dalam angkot “belakang bang.”
Sesampainya di tempat pemberhentian terakhir, Terminal Kampung Melayu, satu-satu turun meninggalkan angkot dengan membayar ongkos terlebih dahulu. Begitu juga dengan anak laki-laki berseragam pramuka tadi, Ia membayar dengan uang lima ribuan.
 “Seribu lagi hei!”
 “Gak ada lagi bang.”
 “Dasar kau gengsi sekali bayar-bayari perempuan.”
Dengan sedikit tawa, aku pergi meninggalkan angkot berwarna biru telur asin itu dan mencari kopaja menuju Tugu Proklamasi. Kata teman yang sudah sibuk menghubungiku semenjak di tempat kursus, aku cukup memesan kepada abang kenek untuk turun di depan Tugu tersebut. Aku duduk di samping jendela karatan yang banyak debunya. Sambil menunggu kopajanya penuh, aku mengangkat telepon dari orang yang sama dengan informasi yang sama. Bangku sebelahku yang awalnya kosong telah dipenuhi seorang bapak yang rambutnya didominasi warna putih. Kemudian kupanggil abang kenek untuk minta diturunkan di depan Tugu Proklamasi sesuai dengan apa yang telah diberitahukan.
Jalanan tidak begitu padat, hanya saja ada sedikit masalah di Matraman, tepatnya di belokan ke arah Manggarai. Ada mobil yang berhenti tanpa supir di belokan, sehingga menyebabkan lalu lintas tersendat. Beberapa orang membuka pintunya kemudian mendorong sekuat-kuatnya, dibantu oleh pengemudi motor yang sengaja turun dari motornya. Aku sebal sambil tertawa. Ada-ada saja kelakuan warga ibukota. Bersamaan dengan itu, temanku menanyakan posisiku sekarang, dan memberitahukan kalau aku akan sampai lima menit lagi.
Ketika melihat sebuah lapangan yang ramai, aku segera bilang ke kenek kopaja.
“Bang, ini ya Tugu Proklamasi?”
“Iya neng. Sini ya?”
“Iya deh.”
“Mau ikut demonstrasi ya?”
“Nggak.”
Tampaknya memang sedang ada ramai-ramai di sekitar Tugu Proklamasi. Warna merah dimana-mana, begitu juga dengan bendera bergambar banteng yang dipasang hampir di setiap jengkal lapangan itu. Aku masih bingung, mencari dimana perpustakaan yang ingin kutuju itu. Akhirnya, aku bertanya kepada abang penjual minum yang bengong sejak tadi kuperhatikan.
“Bang, tau freedom institute gak?”
“Apaan tuh? Tempat yang lagi dipake itu ya?” Katanya sambil menunjuk ke arah Tugu Proklamasi.
“Bukan bang, perpustakaan.”
“Oh gatau saya, kesana kali,” katanya sambil menunjuk ke berbagai arah.
Tidak ada yang bisa dipercaya, selain bertanya kepada kedua temanku. Namun, mereka sama sekali tidak membalas smsku. Akhirnya aku mencoba mencari-cari sendiri sampai tersadar kalau tempat yang kucari sejak tadi itu sudah ada di depan mata. Perjuangan memang jarang yang mudah.
Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic