Thursday, May 22, 2014

Beda Empat Menit!

Hai Mister, yang lagi bagi-bagi hadiah buat jalan-jalan muterin Inggris! Salam kenal, aku Retno Andini, yang seringnya dipanggil Keke biar nggak ribet. 
Kenapa?
Kenapa Keke?
Karena gak butuh R. Kasian teman-teman yang agak susah nyebutin R, dipaksa untuk manggil "Retnooo!" Nggak suka kalo didengernya jadi "Letnooo!" :(
Oke, garing. Ada sih alasan yang sejujurnya cuma diketahui beberapa orang terdekat. Nanti Mister juga dikasih tau deh kalo kita akhirnya duduk sebangku di London Eye :3
Saat ini, aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berperang dengan waktu. Setiap mengerjakan tugas akhir yang satu itu, ada degup yang lebih keras ketika mengingat waktu. Sebentar lagi, ya sebentar lagi harus selesai. Semuanya serba memakai deadline, yang kalo diindonesiakan tanpa buka kamus artinya garis kematian. Hiii serem! Bagaimana deadline ditentukan? Jelas, dengan menjadikan waktu sebagai ukuran.
Seringkali dosen meminta mahasiswanya untuk men-submit tugas pada pukul 23.59 WIB. Orang-orang yang rajin dan tepat waktu biasanya akan mengumpulkan empat jam sebelum deadline. Orang-orang yang rajin namun memiliki koneksi internet yang buruk,  baru dapat mengumpulkan sejam sebelum deadline. Loading adalah satu-satunya alasan, ketika ukuran tugas yang harus dikumpulkan melebihi 10 MB. Lalu apa yang terjadi kepada mahasiswa yang malas dan memiliki koneksi internet yang kurang baik? Mereka mengumpulkannya tepat pukul 23.59 WIT. Bye!
Kata seseorang,
Jangan menjadi orang yang dikejar-kejar waktu, jadilah yang mengejar waktu.
Iya, kata-kata itu selalu berada di bagian paling bawah, mengendap, di alam bawah sadarku. Namun, kenyataannya untuk hal-hal yang begitu kecil saja, aku suka tidak mengindahkan waktu. Misalnya ketika berjanjian dengan seseorang. Ia adalah laki-laki yang sangat tepat waktu. Sepertinya memang dia yang Capricorn sejati, bukan aku. Setiap berjanjian dengannya, selalu aku dan lagi-lagi aku yang terlambat. Meski sudah menetapkan waktu bertemu dengan jam dan menit yang seharusnya ditepati, tetap saja tidak mempan untukku.
Suatu siang di bulan Februari, aku berjanjian dengannya di suatu tempat dengan waktu yang sengaja kutentukan sehari sebelumnya.
"Jadi besok mau ketemu jam berapa disana?"
"Enaknya jam berapa ya?"
"Kamu yang nentuin aja..."
"Kok gitu? Kamu aja."
"Kamu aja, sayang."
"Kamu..."
Begitu terus sampai lebaran kuda.
Sampai pada akhirnya, "Yaudah jam 10.15 ya disana. Jangan ngaret loh!" kataku.
"Oke deh, yang biasanya ngaret siapa emangnya?"
"...."
"Sampai ketemu besok jam sepuluh lewat lima belas. LIMA BELAS."
Suka hiperbolis ceritanya.
Keesokan harinya, aku berusaha untuk bersiap-siap lebih cepat, kemudian minta diantarkan adik ke jalan raya untuk menunggu angkot. Sayangnya, adik ternyata ada kuliah pagi. Alamat mesti jalan kaki sambil lari-lari yang membutuhkan waktu sekitar tujuh menit.
Setelah mendapatkan angkot untuk mencapai tempat bertemu, aku naik dan duduk manis di bangku enam paling pojok kesukaanku. Semilir angin lewat jendela geser yang dibuka, membuatku tidak ngeh kalau aku sudah tiga menit berada di tengah kemacetan. Deg-degan. Jangan sampai ia yang sampai duluan, batinku.
Pukul 10.09, ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya menanyakan keberadaanku saat itu. Kujawab buru-buru, dan bertanya balik apakah ia sudah sampai di tempat itu. Kutunggu jawabannya, hingga akhirnya ia menjawab pada pukul 10.12.
Jreng! Kukatakan padanya bahwa aku akan segera sampai pada waktu yang tepat, 10.15 WIB. Ketika sudah sampai, aku melihatnya yang sedang berkali-kali memandangi jam tangannya yang bukan digital. Lalu kukatakan kepadanya, "Hey, aku tepat waktu kan?'
"Enggg, di jam ini sekarang udah 10.19. Weeek!"
"Lah kok? Di handphoneku..."
"Loh?"
"Jam kamu salah kali tuh."
"Nggak mungkin sayang, ini udah sama waktunya kayak jam beberapa orang penting. Hahahaha."
"Nggak mungkin. Jam aku lah yang bener."
"Ah, masa?"
"Iya dong, ini pake standar waktu di Big Ben."
"Pret!"
"Ih beneran. Awas aja."
Kemudian kami terus melanjutkan perdebatan tidak penting mengenai selisih waktu yang kami yakini. Semenjak itu, aku sering melihat waktu di jam yang digunakan orang lain. Semakin bingung, ada yang beda 10 menit, 5 menit, bahkan 1 menit, dengan waktu yang kuyakini. Dengan itu, aku ingin membuktikan bahwa waktu yang ter-setting di ponselku adalah benar dengan standar dunia. Hahahaha...
Mister, ajak aku ke Big Ben yah. Biar kalo janjian sama dia lagi, aku bisa punya pendapat yang gak bisa dibantah kalo dibilang ngaret lagi :3
 Anyway, salam dari keluargaku yang suka banget nyemilin Smax VIlle & Mister Potato hihihihi
Share with the world:

1 comment:

bharaaawr said...

Keke! foto lo yang kecil bawah itu lucu banget! yeay! ternyata lo ekspresif kalo foto ama ciki ya :") yang kecil bawah doang tapi.......... yang kecil atas mah foto lo kayak biasanya huuuuuuuuft.

btw, ceritanya lucu juga huahahaha semoga beruntung, Ke :)

 
Designed by Beautifully Chaotic