Sunday, May 11, 2014

Cerita 30 Menit

Senang.
Setiap kegiatan, peristiwa, tragedi yang pernah kulalui selalu meninggalkan bekas di pikiran. Kali ini, aku akan menceritakan salah satu, sebagian kecil, atau bahkan sangat kecil dari apa yang pernah rutin kulalui terjadi hampir setiap pagi dan sore. Jadi, apa yang ingin kutulis?
Satu.
Dua.
Tiga.
Ya, cukup!
Sore itu, di angkutan umum berwarna oranye. Penumpang yang duduk di bangku yang paling pojok dekat jendela adalah aku. Bukan jendela, tapi kaca yang menghadap ke belakang maksudku. Senang bisa se-angkot dengan banyak orang berpakaian formal, seperti baru pulang bekerja. Wajah mereka tidak jarang yang kusut, laki-laki maupun perempuan. Meski para pekerja perempuan sepertinya sudah touch up sebelum pulang bekerja. Tetap usapan bedak tebal dan teman-temannya itu tidak dapat menutupi rasa penat para wanita pekerja itu.
Baru saja aku memilih tempat duduk, sudah terdengar dua orang perempuan bercerita. Ya, angkot adalah tempat mendengar cerita gratis. Kukira perempuan yang kelihatannya sudah berumur tiga tahun di atasku memiliki lebih banyak persoalan lain dari anak-anak seumurku. Ternyata, mereka masih menjadikan cinta sebagai masalah yang didiskusikan di dalam angkot yang penuh penumpangnya itu. Bahasannya pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dibahas dengan teman-teman. Tentang laki-laki, pengharapan, dan yah tebak saja selanjutnya. Seseorang yang menjadi pendengar, memberikan saran seperti apa yang pernah kuberikan juga dengan seorang teman. Meskipun ini tidak penting, namun rasanya lucu saja untuk diingat-ingat. Sampai akhirnya si pemberi saran itu turun dari angkot, kemudian perempuan yang sedang butuh pencerahan itu berdiam memandangi jalan yang tak kunjung sepi.
Tidak lama setelah itu, penumpang perempuan lainnya berhasil mengalihkan pandanganku. Jelas, karena ia berada tepat di depanku. Awalnya ia sibuk menggunakan beberapa gadgetnya, kemudian menggunakan salah satunya untuk menelepon. Ternyata, ia menelepon salah satu hotel tempat yang diinapi beberapa waktu yang lalu. Wajahnya merah padam, kata-katanya tertahan meski kesal. Ia meminta konfirmasi tentang barang-barangnya yang sudah dilaporkan bahwa ketinggalan saat menginap. Beberapa orang terkait diteleponnya, namun tidak ada  yang melegakan hasilnya. Kupikir, kehilangan gadget dan perhiasan bukan menjadi masalah bagi perempuan yang terlihat menawan di balik kemeja dan blazernya itu. Kehilangan tetaplah kehilangan.
Berbeda dengan laki-laki tua putih kurus yang duduk di satu bangku yang sama. Dengan telepon yang sengaja ditempelkan dekat telinga, aku menjadi tahu banyak hal tentang usaha pertambangan. Terutama tentang kehidupan laki-laki itu dan usaha yang tidak selalu mulus akhirnya, meski sudah memiliki pengalaman berpuluhan tahun di bidang itu.
Duh, orang dewasa beragam sekali urusannya, masalahnya. Setiap orang hidup dengan masalah yang sudah diporsikan masing-masing, kupikir. Rasanya tidak lagi perlu kukeluhkan setiap masalah yang muncul tiba-tiba, atau hal-hal yang sebenarnya tidak penting diketahui banyak orang. Karena masih ada yang lebih sulit. Masih ada yang mengira masalah kita hanya sehempas angin. Dibanding dengan apa yang sedang sedang mereka jalani.
30 menit cukup membuatku pusing untuk membayangkan aku berada di posisi mereka ketika perjalanan pulang Selasa lalu.
Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic