Monday, June 9, 2014

Bersoal Dunia Maya

Jadi, apa pentingnya dunia maya?
Mengapa banyak hal yang dilakukan di dunia nyata perlu diketahui di dunia maya?
Kedua pertanyaan tersebut terus memutari otak saya yang tidak jenius ini. Lalu, bagaimana kemudian saya bisa menerka-nerka dan memunculkan hipotesis dari penelitian hore ini? Ya dari menjadi satu dari sekian juta orang yang berpopulasi di dunia maya. Bagi saya, dunia maya bukan lagi sekadar media untuk mendapatkan hiburan dan kesenangan di kala suntuk dalam kehidupan dunia nyata. Dunia maya sudah lebih dari itu. Menjadi tempat berinteraksi, bekerja, belajar, berbagi, dan masih sangat banyak lagi.
Dunia maya memiliki fungsi yang berbeda bagi banyak orang. Fungsi tersebut didorong kebutuhan dasar. Pada postingan kali ini, penulis hanya akan membahas empat dari delapan kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori Maslow. Yang pertama, kebutuhan fisiologis. Kebutuhan satu ini jelas hanya bisa didapatkan di dunia nyata, contohnya seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis seperti bernapas. Lalu apakah internet memiliki peran? Melihat perkembangannya sekarang ini, internet menjadi sarana untuk mendapatkan beberapa di antara kebutuhan tersebut. Namun, hanya sebatas sarana ya. Pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah yang benar-benar bisa terlihat fisiknya.
Kebutuhan dasar manusia yang kedua adalah keamanan dan keselamatan. Bagaimana bisa seseorang dapat merasa aman? Karena ada hal-hal yang diyakini dapat melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Saat masih kecil, saya selalu dianjurkan untuk tidur siang di rumah. Sampai saat ini, saya masih terbayang akan pola pikir ketika itu. Kata seseorang yang lebih tua, apabila melihat orang yang tidak dikenal, lebih baik menjauh. Dan beberapa pikiran seperti "duh kan orang yang bawa karung dan besi tajem itu (re: pemulung) suka masukin anak-anak nakal ke dalam karung", dan ada lagi "ih ada mobil je*p, pasti didalemnya ada penculik, kayak di sinetron yang kemarin aku tonton." Pikiran-pikiran semacam itu hidup di dalam diri saya belasan tahun lalu. Bersebab dari televisi dan kata-kata orang di sekeliling yang terus teringat dan menjadi doktrin ketika itu. Ya, anak-anak memang mudah menyerap informasi tanpa ada kemampuan lebih untuk memvalidasi, khususnya saya. Hahaha. 
Hal-hal demikian tentu membuat orangtua saya senang. Mengapa? Karena saya jadi mengikuti anjurannya untuk tidur siang ketika pulang sekolah, bukan bermain di luar. Kemudian alam bawah sadar saya mendapat suatu keyakinan yang baru ketika itu: di luar rumah adalah tempat yang tidak aman. Kemudian rumah dijadikan satu-satunya tempat berlindung dari segala hal yang bagi saya menyeramkan ketika siang hari. Jadi, waktu yang aman untuk bermain adalah sore hari ketika itu, meski sesekali saya tetap nakal bermain ke luar rumah ketika siang. Lalu, bagaimana definisi rasa aman di umur 20-an seperti sekarang? Rasa aman memiliki definisi yang lebih luas. Semakin banyak aktivitas seseorang, khususnya perempuan, semakin ia merasa perlu meningkatkan proteksi terhadap dirinya.
Aman di dunia maya, bagaimana? Dunia maya, segala hal di dalamnya berkaitan dengan informasi. Termasuk tentang rasa aman seseorang ketika berada di dunia maya. Sebagian orang memilih informasi apa tentang kehidupannya yang perlu dibagikan di dalam dunia maya. Semakin merasa tidak aman, ia berusaha memproteksi informasi tersebut dengan opsi-opsi yang tersedia, atau memilih untuk tidak membagikan informasi sama sekali. Kaitan rasa aman di dunia maya dengan dunia nyata menjadi semakin erat, seiring dengan perkembangan jenis media yang meminta kita untuk berbagi informasi. Harusnya kita tahu apa yang perlu dan tidak perlu dibagikan di dunia maya ini.
Selain dua kebutuhan diatas, masih ada kebutuhan ketiga, yaitu kebutuhan cinta dan rasa memiliki. Kebutuhan ini tidak kalah pentingnya, karena ada dampak yang besar ketika kebutuhan satu ini dapat terpenuhi. Siapa yang tidak butuh cinta? Tidak mungkin bila tidak ada. Setiap orang butuh, bayi yang baru lahir pun. Ya, seluruh makhluk hidup di dunia pasti butuh. Cinta adalah salah satu alasan mengapa seseorang memilih untuk bertahan hidup. Bagaimana bisa seorang manusia tumbuh dari bayi hingga dewasa dan akhirnya tua? Tentu karena ada cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Semakin seseorang merasa banyak orang yang menyayanginya, semakin ia merasa memiliki kekuatan untuk terus menghidupi dirinya dalam kebaikan. Begitu pula dengan rasa memiliki. Jujur, dengan adanya rasa memiliki dan dimiliki, saya menemukan suatu kenyamanan dalam hidup. Setiap individu memang perlu pegangan dan semangat dari individu lainnya.
Di dunia maya, cinta dan rasa memiliki muncul melalui citra, teks, dan video. Kelihatannya nyata namun tidak begitu. Internet mampu membuat orang tersenyum melalui pesan cinta yang dikirimkan seseorang lainnya. Interaksi terjadi dimana-mana dengan siapa saja. Begitu pun cinta yang kuantitasnya bisa lebih banyak didapatkan dalam satuan menit dibanding di dunia nyata. Namun, hanya begitu. Kehadiran tetap paling juara, setidaknya untuk saya.
Kebutuhan selanjutnya adalah rasa dihargai. Setiap pencapaian yang baru saja dilakukan, secara tidak sadar ada perasaan untuk minta dipuji, karena ada rasa kepuasan yang sama terhadap hasil yang baru saja didapatkan. Kebutuhan ini dibagi menjadi dua bagian (Maslow, 2000). Yang pertama adalah kebutuhan untuk kekuatan, prestasi, kecukupan, atas kepercayaan dalam menghadapi dunia, dan untuk kemerdekaan dan kebebasan. Yang kedua adalah keinginan akan diakui, dibanggakan, diperhatikan, prestise (penghormatan dan penghargaan dari orang lain).
Rasa dihargai tersebut dapat diperoleh melalui dunia nyata maupun dunia maya. Bicara soal kuantitas, tentu dunia maya masih juaranya. Kalau soal kualitas, kembali kepada pribadi masing-masing dalam menanggapi dan merasakannya.
Dunia nyata adalah tempat sebenar-benarnya tempat. Sedangkan, dunia maya adalah tempat singgah orang-orang yang biasa berada di dunia nyata. Porsi seseorang dalam memilih untuk lebih banyak 'melakukan kehidupan' di antara keduanya adalah berbeda. Semua kembali pada kebutuhan, anggapan, dan kepuasan dalam diri seseorang. Bagi saya, dunia nyata masih jauh lebih menyenangkan dibandingkan dunia maya. Meskipun kedua dunia tersebut sama-sama berperan dalam menyediakan kebahagiaan untuk hidup saya.

Terima kasih sudah membaca sampai habis racauan siang hari ini. Sampai bertemu lagi.

Referensi:
Martin, D., & Joomis, K. (2007). Building Teachers: A Constructivist Approach to Introducing Education. Belmont, CA: Wadsworth.
Maslow, A.H. (2000). A Theory of Motivation. http://downloads.joomlacode.org/trackeritem/5/8/7/58799/AbrahamH.Maslow-ATheoryOfHumanMotivation.pdf

Share with the world:

2 comments:

bharaaawr said...

keke semenjak semester 8 jadi teoritis nan kritis ya, terharu :")

Ila Rizky said...

rasa aman memang harus diciptakan, baik di dunia maya maupun nyata. karena kita ga tau siapa orang yang kita temui, dari mana asalnya, bagaimana sifatnya. waspada jauh lebih baik menurutku.

 
Designed by Beautifully Chaotic