Sunday, August 31, 2014

Wisuda UI

Waktu, mengapa begitu buru-buru?
Mungkin kata-kata itu yang paling sering mengitari pikiran belakangan ini. Semakin banyak momentum yang terlewat, semakin terasa waktu begitu cepat meninggalkan dengan tega. Dua hari yang lalu, aku baru saja resmi menyandang gelar Sarjana Humaniora di Balairung, Kampus UI Depok. Suasana yang begitu khidmat ketika upacara berlangsung, membuatku merasa nostalgia, memutar waktu, mengingat-ingat awal pertama menginjakkan kaki di Balairung UI.

Empat tahun yang lalu, aku adalah mahasiswa baru yang menggunakan setelan kemeja dan rok putih serta jaket kuning kebanggaan. Bertepatan dengan bulan ramadhan, aku dengan ribuan mahasiswa baru lainnya bertugas untuk menyanyikan para wisudawan, senior yang belum kukenal. Namun ada cinta yang begitu besar pada kampus ini, sehingga aku rela bangun pagi setiap hari untuk latihan paduan suara sampai benar-benar menyanyikan untuk para wisudawan.

Saat itu, aku belum benar-benar peka terhadap perasaan bangga menjadi wisudawan. Euphoria menjadi maba UI mengalahkan semuanya. Aku begitu sibuk selfie --saat itu belum ada istilah ini-- sana-sini dan mencari buku tuntunan bernyanyi beberapa lagu untuk acara wisuda. Namun, dalam hati aku berjanji ketika itu untuk menjadi salah satu yang bertoga makara putih empat tahun lagi, dan alhamdulillah terwujud kemarin.

Banyak sekali hal yang terbayang malam ini. Tentang perkuliahan, persahabatan, dan tentu cinta yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Ketiga hal tersebut melebur menjadi satu rangkaian cerita selama menjadi mahasiswa. Sebelumnya, aku tidak pernah berharap untuk mendapatkan banyak sahabat dan teman spesial ketika kuliah. Hidupku berjalan dengan begitu saja, mengalir dengan sedikit riak agar lebih seru. Dengan itu, aku mendapatkan banyak pelajaran tentang hidup.

Selama kuliah, aku menyadari bahwa hidup tidak akan selalu seperti apa yang kita inginkan. Ada masanya kita diberikan sesuatu yang sangat indah di luar dugaan atau bahkan sangat buruk seperti layaknya kutukan. Aku sudah merasakannya. Selalu ada yang pergi dan ada yang datang. Sesuatu yang pergi adalah penanda bahwa ada sesuatu yang jauh lebih baik untuk menggantikan posisinya. Titik balik hidupku terjadi tepat di momen itu. Momen ketika aku harus merelakan sesuatu yang saat itu berarti bagiku, pergi. Alhamdulillah, ikhlas dapat menghempaskan gundah. Sayangnya, ada teman yang belum bisa melewati tahap ini dengan baik. Namun aku selalu berdoa untuk itu.

Setelah melewati masa itu, aku dapat menjadi diriku sendiri. Rasanya takjub sekali. Allah selalu paham bagaimana membuat mahluknya selalu bersyukur kepadanya. Awalnya seperti berada dalam labirin. Aku berusaha mendapatkan jalan terbaik menuju pintu keluar. Lucunya, di saat aku sedang santai tidak memikirkan pintu keluar, arah berjalanku benar. Aku tidak tersesat sama sekali.
Maaf, ini bukan tentang cinta. Hahaha.

Bagiku, memiliki sahabat saat kuliah adalah kebahagiaan tersendiri. Dengan awal yang tidak disangka-sangka, aku mengenal beberapa orang di kelasku yang ternyata sungguh aneh dan menyebalkan. Serius. Namun, mungkin itu yang membuat kami akhirnya jadi sering berkumpul, mengerjakan tugas bersama, jalan-jalan, hingga akhirnya beberapa dari kami memakai toga bersama.
Yes, they are!

Foto di atas adalah salah satu foto yang diambil setelah gladi resik wisuda sarjana. Sayangnya ada beberapa orang yang belum datang hingga tidak ikut berfoto. Emosi bahagia rasanya tidak mampu disembunyikan salah satu di antara kami. Pertemanan kami mungkin tidak seunyu-unyu pertemanan pada umumnya. Kita tidak selalu ingat tanggal ulang tahun, apalagi memberi kado satu sama lain. Namun selalu berusaha menyempatkan waktu untuk makan bersama setiap salah satu dari kita baru berulang tahun. Bahagia sesederhana itu.

Ketika hari wisudaku, beberapa orang di foto tersebut orang menyempatkan datang meski Depok sedang dilanda hujan lebat. Balairung chaos. Karena sudah memiliki janji dengan beberapa orang, aku sengaja membiarkan keluargaku untuk kembali duluan ke parkiran. Sedangkan aku tetap menunggu di Balairung. Menunggu mereka salah satunya. Mereka datang dengan baju yang agak basah dan senyum yang seperti biasa. I expect nothing from them. Serius. Soalnya mereka belum pernah memberikan hadiah apapun selama ini. Eh ternyata...

Aku mendapat boneka, figura foto, dan bunga....... rose petal. Tahu apa itu? Bunga tabur.
Aku ditaburi bunga di bawah hujan yang kian deras. Jadi pusat perhatian para wisudawan dan orang tua di sekitarku. Sebal. Kukira mereka bercanda akan membawakan bunga tabur, eh ternyata serius. Mereka mencetak salah satu foto kami saat pergi ke Bogor beberapa tahun yang lalu. Kata temanku yang diberi figura juga, ada pesan di balik figura itu. Iseng kubuka, dan ya aku sedih membacanya. Rahasia.

Hal yang paling kusesalkan adalah mereka yang datang adalah mereka yang tidak jadi wisuda di hari yang sama denganku. Semoga semester depan adalah waktu terbaik untuk kalian, sahabat. Terima kasih untuk waktu yang berharga.

Share with the world:

3 comments:

  1. coklat dari gue ga dipamerin keh? oke bhay! hahahaha congraduation keh, i'll missing you absolutely! :"3

    ReplyDelete
  2. @Bhara cek flipagram di tumblr eke dong sist, eksis kok :3 i'll be missing you too bhar

    ReplyDelete
  3. hahaha kereeen banget wisudanyaa .. selamat yaa selamat jadi sarjana muda ,wkwk

    ReplyDelete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic