Sunday, April 27, 2014

Asal Berkata

Ha ha ha
Tawa getir yang terus terdengar lirih dari orang yang berada di pantulan cermin. Mengingat kembali apa yang sedang terjadi, kemudian membuat korelasi terhadap kata-kata yang keluar dari mulut dan pikiran beberapa waktu yang lalu. Tuhan menjadi sangat usil kadang-kadang. Nyatanya memang selalu ada yang memperhatikan kita. Mulai dari tingkah laku, perbuatan, pikiran, bahkan perasaan yang tersembunyi sekalipun. Sementara itu kita, saya, suka seenaknya bertindak bodoh seakan-akan tidak ada yang lihat dan dengar. Cara Tuhan membuat korelasi antar kejadian mungkin sebagai penanda atas rasa perhatian-Nya, yang suka dirasa kurang oleh saya suatu waktu.

Sunday, April 20, 2014

Nasi dan Kambing

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar frase 'nasi goreng'? Apakah sepiring nasi berwarna kecoklatan yang teraduk bersama telur, potongan cabai, dengan teman-temannya? Atau berbeda dari itu? Tidak masalah sih, karena nasi goreng yang pernah kita makan tidak selalu sama. Pengetahuan kita tentang nasi goreng tidak pernah sama. Apalagi saya yang seringnya hanya makan nasi goreng gerobakan yang sukanya buka di malam hari. Selebihnya? Mungkin nasi goreng buatan ibu, ataupun nasi goreng restoran, ya itu pun sangat jarang untuk dijadikan sebagai menu pilihan saya. Sementara itu, ada seseorang yang setiap ingin makan, hampir selalu memesan nasi goreng. Dimanapun ketika tulisan nasi goreng tercetak di daftar menu yang disediakan. Seringkali saya menebak-nebak menu apa yang akan ia pilih setelah diam cukup lama mengamati daftar makanan yang berentet. Setelah itu, ia berkata "nasi goreng."

Sunday, April 13, 2014

Perempuan

Susunan kata yang berbeda dengan maksud yang sama. Itulah yang kutemukan di direct message twitter pagi ini. Masih suka aneh ketika kita memiliki kesamaan maksud, pikiran, ataupun perasaan pada waktu yang bersamaan. Baiknya dibiarkan saja untuk tetap menjadi misteri. Kali ini aku diminta untuk menulis untuknya (jelas), tentangnya, dan sesuatu yang sulit untuk dideskripsikan ke dalam tulisan hahaha. 

Setiap orang tentu memiliki kecenderungan perasaan untuk diapresiasi, dinilai, dan dipuja-puji. Berbeda dengan kritik, saran, kecaman yang malah sering datang begitu saja tanpa diminta terlebih dahulu. Lalu bagaimana denganku yang diminta untuk menuliskan salah satu diantaranya? Oh, bukan itu seutuhnya. Namun sesuatu yang membentuk mengapa tiga hal itu bisa ada hingga sekarang. Kekurangan? Manusia pasti ada kurangnya, sebanyak apapun lebihnya. Manusia pasti selalu ada salahnya, sebesar apapun usahanya untuk menjadi benar di mata banyak orang. Sebenarnya aku kurang suka ketika diminta untuk menilai, yang jatuhnya malah menghakimi. Jadi, baiknya aku menceritakan siapa raga dan jiwa yang mencoba meneruskan tulisan pada halaman ini. Siapa tahu, dengan ini kamu bisa menemukan beberapa clue sebagai jawaban yang kamu pesan tadi pagi.

Tuesday, April 8, 2014

Perjalanan ke Freedom Institute

Tepat pukul 11.00 WIB, soal serta Lembar Jawaban Komputer (LJK) kutinggalkan di atas meja. Mengenai apa yang telah kukerjakan, rasanya tidak ada yang benar-benar meyakinkan jawabannya. Kepalaku pusing, sudah lama tidak menyentuh puluhan soal bahasa inggris semacam itu. Aku adalah orang kedua terakhir yang keluar dari ruangan itu. Sulit sekali, aku kekurangan waktu untuk membulatkan jawaban pada nomor-nomor soal listening yang sulit kutangkap suaranya. Semoga saja hasilnya tidak terlalu buruk, sehingga tidak begitu mengecewakan orang-orang di rumah, pikirku. Seharusnya, ada sesi yang masih bisa kuikuti, yaitu oral test, meski cuma sebagai option. Aku memilih untuk segera keluar dari gedung berlantai empat itu, lalu cepat-cepat mencari angkutan kota 26 yang dapat mengantarkan ke Kampung Melayu.
 
Designed by Beautifully Chaotic