Sunday, May 25, 2014

Apa?

Malam, kita bertemu lagi. Meskipun tidak selalu datang saat kamu hadir, menjadi bagian darimu merupakan waktu yang selalu kutunggu-tunggu. Sekarang sudah pukul 18.12, aku sudah mulai muncul dan mengitari banyak orang. Beberapa orang ada yang sudah merasakan kehadiranku, kemudian berusaha untuk menghalangiku agar tidak terlalu mengganggu mereka. Padahal, tidak ada sama sekali niatku yang buruk kepada mereka.
Menyelimuti manusia adalah hobiku ketika malam tiba. Eits, di beberapa waktu tertentu pun aku suka juga melakukannya. Lagi-lagi, ku beritahu kalau aku tidak jahat. Hanya ingin keberadaanku disadari. Senang apabila melihat mereka yang sadar, mengambil tindakan dengan buru-buru mencari suatu benda untuk menemani. Bukan berarti aku cepat menyerah. Jiwa iseng yang hidup di dalam diriku selalu menyeruak.
Malam, jadilah teman yang baik untukku demi manusia. Kepadanya, aku ingin memberitahu kalau selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Seperti aku yang berada di balik sisi yang lebih sering terasa. Manusia mudah sekali dibuat-buat perasaannya. Apalagi dengan sisi kebalikanku. Aku datang untuk keseimbangan. Siapakah aku?

Thursday, May 22, 2014

Beda Empat Menit!

Hai Mister, yang lagi bagi-bagi hadiah buat jalan-jalan muterin Inggris! Salam kenal, aku Retno Andini, yang seringnya dipanggil Keke biar nggak ribet. 
Kenapa?
Kenapa Keke?
Karena gak butuh R. Kasian teman-teman yang agak susah nyebutin R, dipaksa untuk manggil "Retnooo!" Nggak suka kalo didengernya jadi "Letnooo!" :(
Oke, garing. Ada sih alasan yang sejujurnya cuma diketahui beberapa orang terdekat. Nanti Mister juga dikasih tau deh kalo kita akhirnya duduk sebangku di London Eye :3
Saat ini, aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berperang dengan waktu. Setiap mengerjakan tugas akhir yang satu itu, ada degup yang lebih keras ketika mengingat waktu. Sebentar lagi, ya sebentar lagi harus selesai. Semuanya serba memakai deadline, yang kalo diindonesiakan tanpa buka kamus artinya garis kematian. Hiii serem! Bagaimana deadline ditentukan? Jelas, dengan menjadikan waktu sebagai ukuran.
Seringkali dosen meminta mahasiswanya untuk men-submit tugas pada pukul 23.59 WIB. Orang-orang yang rajin dan tepat waktu biasanya akan mengumpulkan empat jam sebelum deadline. Orang-orang yang rajin namun memiliki koneksi internet yang buruk,  baru dapat mengumpulkan sejam sebelum deadline. Loading adalah satu-satunya alasan, ketika ukuran tugas yang harus dikumpulkan melebihi 10 MB. Lalu apa yang terjadi kepada mahasiswa yang malas dan memiliki koneksi internet yang kurang baik? Mereka mengumpulkannya tepat pukul 23.59 WIT. Bye!
Kata seseorang,
Jangan menjadi orang yang dikejar-kejar waktu, jadilah yang mengejar waktu.
Iya, kata-kata itu selalu berada di bagian paling bawah, mengendap, di alam bawah sadarku. Namun, kenyataannya untuk hal-hal yang begitu kecil saja, aku suka tidak mengindahkan waktu. Misalnya ketika berjanjian dengan seseorang. Ia adalah laki-laki yang sangat tepat waktu. Sepertinya memang dia yang Capricorn sejati, bukan aku. Setiap berjanjian dengannya, selalu aku dan lagi-lagi aku yang terlambat. Meski sudah menetapkan waktu bertemu dengan jam dan menit yang seharusnya ditepati, tetap saja tidak mempan untukku.
Suatu siang di bulan Februari, aku berjanjian dengannya di suatu tempat dengan waktu yang sengaja kutentukan sehari sebelumnya.
"Jadi besok mau ketemu jam berapa disana?"
"Enaknya jam berapa ya?"
"Kamu yang nentuin aja..."
"Kok gitu? Kamu aja."
"Kamu aja, sayang."
"Kamu..."
Begitu terus sampai lebaran kuda.
Sampai pada akhirnya, "Yaudah jam 10.15 ya disana. Jangan ngaret loh!" kataku.
"Oke deh, yang biasanya ngaret siapa emangnya?"
"...."
"Sampai ketemu besok jam sepuluh lewat lima belas. LIMA BELAS."
Suka hiperbolis ceritanya.
Keesokan harinya, aku berusaha untuk bersiap-siap lebih cepat, kemudian minta diantarkan adik ke jalan raya untuk menunggu angkot. Sayangnya, adik ternyata ada kuliah pagi. Alamat mesti jalan kaki sambil lari-lari yang membutuhkan waktu sekitar tujuh menit.
Setelah mendapatkan angkot untuk mencapai tempat bertemu, aku naik dan duduk manis di bangku enam paling pojok kesukaanku. Semilir angin lewat jendela geser yang dibuka, membuatku tidak ngeh kalau aku sudah tiga menit berada di tengah kemacetan. Deg-degan. Jangan sampai ia yang sampai duluan, batinku.
Pukul 10.09, ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya menanyakan keberadaanku saat itu. Kujawab buru-buru, dan bertanya balik apakah ia sudah sampai di tempat itu. Kutunggu jawabannya, hingga akhirnya ia menjawab pada pukul 10.12.
Jreng! Kukatakan padanya bahwa aku akan segera sampai pada waktu yang tepat, 10.15 WIB. Ketika sudah sampai, aku melihatnya yang sedang berkali-kali memandangi jam tangannya yang bukan digital. Lalu kukatakan kepadanya, "Hey, aku tepat waktu kan?'
"Enggg, di jam ini sekarang udah 10.19. Weeek!"
"Lah kok? Di handphoneku..."
"Loh?"
"Jam kamu salah kali tuh."
"Nggak mungkin sayang, ini udah sama waktunya kayak jam beberapa orang penting. Hahahaha."
"Nggak mungkin. Jam aku lah yang bener."
"Ah, masa?"
"Iya dong, ini pake standar waktu di Big Ben."
"Pret!"
"Ih beneran. Awas aja."
Kemudian kami terus melanjutkan perdebatan tidak penting mengenai selisih waktu yang kami yakini. Semenjak itu, aku sering melihat waktu di jam yang digunakan orang lain. Semakin bingung, ada yang beda 10 menit, 5 menit, bahkan 1 menit, dengan waktu yang kuyakini. Dengan itu, aku ingin membuktikan bahwa waktu yang ter-setting di ponselku adalah benar dengan standar dunia. Hahahaha...
Mister, ajak aku ke Big Ben yah. Biar kalo janjian sama dia lagi, aku bisa punya pendapat yang gak bisa dibantah kalo dibilang ngaret lagi :3
 Anyway, salam dari keluargaku yang suka banget nyemilin Smax VIlle & Mister Potato hihihihi

Sunday, May 18, 2014

Agenda Mimpi

Halo! Salam ini ditujukan untuk siapa pun yang sedang mengunjungi halaman ini. Terima kasih untuk membaca lebih lanjut tulisan rutin Minggu pagi blog saya. Mari berbicara tentang mimpi, harapan, dan apa pun yang terkesan konyol namun selalu minta untuk dicapai. 
Pagi ini, ada lembaran ms. word yang minta terus dibuka dan ditambah isinya. Iya, kewajiban saya memang untuk mengerjakannya. Tapi sebentar dulu, saya ingin mengisi blog sebentar. Lama-lama pusing juga, resah juga, mengingat tenggat waktu yang semakin dekat. Rasanya seperti ditakut-takuti badut tinggi besar dengan tutul-tutul merah di kedua pipinya. Kemudian badut tersebut ingin menyergap saya dan memasukkan ke dalam kantong depan baju polkadotnya. AH! Namun, ini artinya segala tanggung jawab saya akan dan harus segera selesai! :')

Seruput Ide




Kata mudah diucapkan bagi mereka yang terbiasa bicara, mudah dituliskan bagi mereka yang selalu mendapatkan inspirasi. Layar 14’’ ini menjadi teman penuh perhatian ketika tuts keyboard ditekan satu persatu penuh irama. Tetap menyala terang selama kabelnya tetap terhubung dengan saklar. Tidak ada screensaver, hanya hitam sekejap ketika beberapa menit didiamkan. Namun tetap tidak berubah, ditekan satu tombol, menyala seperti sedia kala. Ketika layar menghitam, ada sekat dalam pempaparan ide. Berhenti, seperti butuh sesuatu.
Dapur menjadi harapan untuk menemukan sesuatu yang mampu menggeser sekat ini. Beberapa sachet hijau panjang kutemukan di atas microwave milik ibuku. Rasanya tidak perlu menimbang-nimbang, ujung sachetnya kusobek, lalu kupindahkan isinya ke dalam cangkir pemberian seorang teman. Kutuang air panas kedalamnya, aduk sebentar, lalu kuletakkan di samping teman penuh perhatian yang sedang gelap layarnya. Kuberanikan lagi untuk membuatnya menyala kembali. Sambil kuseruput sedikit-sedikit japanese green tea latte, ada perasaan tenang yang membuatku bisa berpikir lebih jernih.
Foam lembut pada minuman ini membuatku bisa menemukan keindahan melalui isi sebuah cangkir. Terlebih dengan pencampuran susu yang membuatnya jauh lebih menenangkan pikiran. Di samping kandungan green tea yang memiliki banyak manfaat, japanese green tea latte memberi kandungan lebih berupa penyegar ide bagi peminumnya yang sedang terhenti menulis skripsi seperti apa yang tengah dilakukan saat ini. (13/02/2014)

tulisan ini merupakan best 20 story telling esprecielo

Sunday, May 11, 2014

Cerita 30 Menit

Senang.
Setiap kegiatan, peristiwa, tragedi yang pernah kulalui selalu meninggalkan bekas di pikiran. Kali ini, aku akan menceritakan salah satu, sebagian kecil, atau bahkan sangat kecil dari apa yang pernah rutin kulalui terjadi hampir setiap pagi dan sore. Jadi, apa yang ingin kutulis?
Satu.
Dua.
Tiga.
Ya, cukup!
Sore itu, di angkutan umum berwarna oranye. Penumpang yang duduk di bangku yang paling pojok dekat jendela adalah aku. Bukan jendela, tapi kaca yang menghadap ke belakang maksudku. Senang bisa se-angkot dengan banyak orang berpakaian formal, seperti baru pulang bekerja. Wajah mereka tidak jarang yang kusut, laki-laki maupun perempuan. Meski para pekerja perempuan sepertinya sudah touch up sebelum pulang bekerja. Tetap usapan bedak tebal dan teman-temannya itu tidak dapat menutupi rasa penat para wanita pekerja itu.

Sunday, May 4, 2014

Maaf dan Terima Kasih

Selamat pagi hitam abu-abu! Aku tahu, kamu sedang senyum-senyum sendiri ketika sadar sedang dibicarakan olehku di sini. Tolong bersabar dulu, aku tidak ingin memuji-mujimu. Tidak juga ingin mencercamu yang sebenarnya tidak banyak bersalah. Hanya saja, tulisan ini dibuat untuk mengingat-ingat seberapa banyak cerita hidupku yang diam-diam diketahui dan ditertawakanmu. Semoga kamu berkenan wahai lembaran besi ajaib yang sudah baret-baret.
Sebenarnya aku tidak tahu pasti awal pertama kita bersahabat. Kamu datang karena kebutuhanku, aku ingat sekali. Waktu itu, ketika memiliki status baru sebagai mahasiswa (baru), kamu sudah hadir dengan kondisi sehat sempurna. Menemani menghabiskan waktu mengerjakan tugas orientasi fakultas dan universitas. Melalui kamu, informasi mengenai denah fakultasku dapat ditemukan. Melalui kamu, banyak teman baru sesama maba (mahasiswa baru) kudapatkan informasinya. Melalui kamu, aku mendapatkan pertolongan untuk mengubah foto selfieku menjadi terlihat karikatur, lagi-lagi untuk tugas orientasi. Iya, banyak sekali yang sudah kamu berikan sejak awal perkuliahan dulu. Bahkan, sudah hampir empat tahun. Kamu masih setia menemaniku untuk menyelesaikan tugas akhir.
 
Designed by Beautifully Chaotic