Thursday, March 26, 2015

Mandi Hujan

Pagi yang tidak begitu cerah, namun tidak berarti mendung. Itu yang kulihat melalui jendela kamar dengan tirai belum tersibak seluruhnya. Hawa middle seperti ini menyenangkan, tidak perlu membuatku repot-repot menutupi wajah karena takut kena pancaran sang matahari.
Karena perjalanan menuju kantor terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur, aku mencoba mengambil ponsel dari saku dan mencari simbol burung biru pada layar. Burung biru merupakan salah satu jejaring yang membuatku merasa tidak perlu takut ketinggalan informasi, terutama soal perkiraan cuaca dan moda transportasi. Salah satu akun terpercaya memuat sebuah kicauan tentang perkiraan cuaca. Mataku fokus terhadap wilayah Jakarta Pusat, yang katanya akan berawan seharian. Alhamdulillah, pikirku. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan, mengeringkan, dan kembali melipat payung.
Tidak lama setelah membaca kicauan itu, aku memperhatikan kaca Transjakarta yang mulai basah. Butiran-butiran air itu turun sambil membantah ramalan cuaca yang baru kubaca. Baiklah, cuma gerimis. Suara gerimis tidak menggelitik penumpang yang terlelap pada kursinya masing-masing. Mereka tetap asyik tidur dengan posisi miring ke kiri, kanan, atau sambil menengadah (Ups, pakai masker lho!). Mungkin mereka kekurangan waktu tidur kemarin malam, karena harus pulang larut dari kantor. Sedangkan aku duduk santai saja sambil menikmati kondisi Traja yang lengang pagi ini.
Di tengah kesibukanku bersantai, suara keras tiba-tiba terdengar. Beberapa penumpang yang awalnya tidur, satu-persatu mulai terbangun. 
Hujan deras. 
Deras sekali.
Kondisi jalanan menjadi sepi seketika. Para pengendara motor langsung meminggirkan kendaraannya. Ada yang langsung menggunakan jas hujan. Ada juga yang hanya diam karena tidak membawa jas hujan, sambil berharap hujan cepat berhenti. Sayangnya tidak. Hujan makin deras.
Hawa dingin dengan nakalnya masuk melalui celah-celah pintu Traja, mengusik mereka yang tidak menggunakan baju hangat. Sial.
Traja tetap melaju melewati shelter demi shelter. Ketika mulai mendekati Masjid Istiqlal, yang artinya juga mendekati Lapangan Banteng, aku melihat sesuatu. Laki-laki dengan kaos buntung yang bermain basket di tengah derasnya hujan. Ya, ia memang sedang olahraga. Supaya sehat, kan? Tapi apakah ia perlu diingatkan kalau hujan dapat membuatnya tidak dapat berolahraga besoknya? Manusia kadang suka lucu.
Seturunnya aku dari Traja, hujan antusias sekali memberi penyambutan. Buru-buru kubuka payung biru lalu berjalan dengan hati-hati melewati jalanan yang cukup licin. Ditambah alas kakiku yang terbuat dari karet. :(

Ketika sudah sangat berusaha menjaga bagian depan tubuh beserta tas, ternyata bagian belakang malah basah parah. Selamat menuju akhir pekan! :D
Share with the world:

No comments:

 
Designed by Beautifully Chaotic