Saturday, April 18, 2015

Jika Saja

Hampir persis setahun yang lalu, sebuah aplikasi dikirimkan ke salah satu badan penyelenggara pertukaran pemuda. Di tengah kesibukan penelitian dan kuliah penulisan populer ketika itu, beberapa puluh menit sengaja disisihkan untuk menuliskan beberapa essay. Pengiriman pun dibatasi dengan tenggat waktu. Dengan mental mahasiswa, aplikasi itu dikirimkan pada jam dan hari terakhir. Traffic penuh. E-mail perlu mengantri cukup lama, sehingga harus singgah di outbox beberapa saat. Meski modem ketika itu masih agak waras, tapi tidak membuat e-mail itu terkirim segera.
Hampir tengah malam, namun laptop masih menyala. Sampai akhirnya e-mail itu keluar dari outbox, artinya laptop harus di-shutdown. Dan tidur secepatnya. Tidak lupa berdoa.
Beberapa hari kemudian, sebuah tweet melintas di timeline twitter. Kurang lebih isinya seperti ini: Pengumuman seleksi untuk tahap II sudah dapat diakses melalui website kami. Berikut linknya http://blablah...


Takut-takut kubuka link tersebut. Wah ternyata nama yang didaftar lebih dari puluhan. Kugeser mouse ragu-ragu sambil mencari deretan nama berawalan 'R'. Oh, tidak ada. Hatiku agak mencelos tidak jelas. Kukabari seseorang untuk membuka link yang sama. Dia agak terlihat sedih, meski awalnya tidak mendukung untuk mengikuti program ini.
Baiklah, mungkin aku harus tidur cepat dan mulai mengerjakan skripsi lagi besok. Karena masih banyak yang perlu diselesaikan. Aku bersyukur hanya sedikit yang tahu saat itu, sehingga tidak banyak yang menanyakan bagaimana hasilnya.

Setahun kemudian.
Seminggu yang lalu, aku melihat seleksi itu dibuka kembali. Wah mimpiku lagi-lagi tergoda untuk bangun setelah tidur panjang. Dengan persyaratan yang masih sama. Rasanya aku tidak ingin melepas kesempatan ini.
Kubuka e-mail dan mencari e-mail yang kukirimkan tahun lalu.
Ya, masih ada. Ku unduh file .zip berisi dua .doc dan satu .jpg itu. 
Extract files.
Hasilnya berkumpul di folder downloads.
Penasaran, kubuka file essay yang tahun lalu kukerjakan. Tidak begitu buruk, pikirku. Kemudian kubuka file data diri.

Kosong.

Aku tidak menemukan isian apapun di file data diri. Jadi, tahun lalu file data diri yang kukirimkan adalah form kosong yang hanya ku-rename. Kenapa bisa? 

Dan baru kuketahui setahun setelahnya. Aku tidak paham skenario Allah. Mungkin saat itu, yang terbaik ya seperti itu.

Jika saja file data diri yang terkirim adalah form yang terisi, aku punya kemungkinan untuk lolos tahap II.
Jika saja aku lolos tahap II, aku pasti akan meninggalkan beberapa hari atau minggu untuk mengerjakan tugas akhir dan kuliah.
Jika saja aku lolos tahap III, setelah wisuda aku akan pergi jauh. Sangat jauh.
Jika saja itu benar terjadi, hari ini aku akan berjarak ribuan kilometer dengan keluarga.
Jika saja itu pasti terjadi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat jatuh sakit seperti ini.

Ya, kita memang tidak pernah tahu.
Share with the world:

2 comments:

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic