Sunday, September 20, 2015

Cinca, cinca?

Mari bicara soal cinta meskipun hari masih terlalu pagi. Belum lama ini, banyak sekali perayaan yang katanya beralaskan cinta. Dari mulai yang umum sampai yang terlihat tidak masuk akal bagi sebagian orang. Sebegitukah cinta? Ia punya efek yang tidak kecil bagi diri seseorang, bahkan bagi seluruh dunia akhir-akhir ini.

Anggaplah cinta memang punya power. Selanjutnya mari kita sebut cinta sebagai C. Supaya tidak terlalu banyak satu kata itu berkeliaran di box postingan blog saya pagi ini.

Tahun ini sepertinya menjadi tahun yang luar biasa untuk saya dan sebagian teman dekat. Karena sama-sama berurusan dengan si C yang tidak biasa itu.

Siapa yang tidak pernah direpotkan oleh kehadiran C? Rasanya tidak akan ada yang tidak pernah. Setiap yang baru lahir pun pasti ada andil si C sebagai perantara Allah.


Umur-umur segini, 20-something, adalah umur yang menyenangkan untuk jadi sasaran empuk virus C. Ia menjadikan manusia bermandikan endorphin. Jatuh cinta yang menurut sebagian adalah anugerah, menjadi peristiwa yang begitu luar biasa. Bisa menghilangkan rasa sakit akan masa lalu. Ditambah lagi, laki-laki pada umur ini sedang berkenalan dengan testoteron. Bisa dibayangkan, bagaimana pergolakan dalam diri yang jatuh cinta di umur 20 awal.

Sayangnya endorphin tidak menetap, ia hanya singgah dalam tubuh manusia untuk sementara. Kemudian ia pergi apabila dirasa cukup. Lalu manusia yang tadi dihinggapinya bertanya "Apa rasa cinta sudah hilang? Secepat inikah?"

Damn. Manusia dipermainkan hormon. Sebagian yang sudah paham, dapat mengontrol dirinya dengan iman. Sebagian lagi memancing endorphin datang kembali dengan caranya sendiri. Jatuh cinta bukan lagi anugerah ketika itu.

Ternyata cinta tidak sesimpel itu, bagi yang belum siap. Ia bisa begitu merusak apa yang sudah baik. Tapi bisa juga menambah baik apa yang sudah baik, bagi mereka yang sudah siap.

Cinta dapat dengan jahatnya menutup mata yang awalnya terbuka. Iya, sejahat itu. Sampai nurani ikut dalam rekayasanya. Sebagian orang memilih jalan yang mereka yakini benar untuk melanjutkan hidupnya atas nama cinta. Padahal mereka lupa, kalau orang-orang di sekitarnya dapat melihat dari kacamata yang masih jernih. Belum berdebu seperti apa yang mereka pakai.

Mungkin benar, jatuh cinta memang anugerah. Tapi, anugerah bukan berarti mudah dan murah. Cinta perlu diistimewakan, agar terasa menjadi anugerah. Maka lebih baik jatuh cinta ketika sudah benar-benar siap. Sehingga ia menjadi istimewa dan sakral.
Share with the world:

2 comments:

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic