Thursday, September 17, 2015

Review Dilan - Pidi Baiq



Jadi, siapa sih yang akhir-akhir ini denger soal karyanya Pidi Baiq yang berjudul Dilan? Pasti pernah deh. Aku sendiri banyak sekali menemukan postingan di media sosial soal Dilan. Akhirnya penasaran, dan jadilah aku baca juga cerita dari Pidi Baiq dengan gaya bahasanya yang sederhana tapi indah itu.

Ekspektasi awal: duh, cerita masa SMA. Paling gitu-gitu ajah...

Akhirnya aku mulai membacanya di tengah jam-jam jenuh hampir pulang kantor, di rumah saat akhir pekan, dan di jalan menuju rumah dan kantor. 

Novel ini kaya akan ilustrasi. Dari chapter awal yang merupakan bab perkenalan, kita diajak membayangkan tokoh-tokoh novel tersebut dalam beberapa ilustrasi muka bahkan full body yang digambarkan. Kebayang kok, Milea itu cantiknya gimana, Dilan gentle-nya kayak apa, dan Bi Asih selucu apa.


Halaman demi halaman yang kubaca, membuat sebuah rasa takut muncul. Iya, jadi takut delusional! Asli, Dilan ini ngeri banget untuk cowok seumuran anak SMA pada umumnya. Dia bisa memperlakukan perempuan, seakan-akan paham banget perempuan itu sukanya diperlakukan seperti apa. Tipikal cowok keren jaman SMA yang banyak digilai perempuan gitu ya... Tapi salutnya, Dilan ini nggak ganjen. Udah ganteng, terus nggak ganjen. Ya, dia gak mainin perasaan perempuan. Kalau nggak suka, nggak bakal ditanggepin sama sekali. Dia gak mengoleksi fans, padahal punya potensi besar banget kesitu. Kemampuannya ditunjukkan untuk melumpuhkan Milea. Halah! Aku #teamDilan banget pokoknya. 

Aku suka banget cara Dilan menunjukkan kalau ia benar-benar sayang sama Milea, bukan lewat hal-hal yang 'apa banget' kalau kata anak jaman sekarang mah. Gimana Milea gak nerima dia? 

Dari novel ini, kita diajarkan juga loh kalau setiap orang itu punya dark side. Kayak Dilan yang anggota geng motor. Dark side itu belum tentu bisa diterima semua orang kan awalnya. Begitu juga, dengan Milea yang agak sulit menerima. Sampai akhirnya Milea sadar kalau banyak hal baik dari Dilan yang bisa menghapus statusnya sebagai anggota geng motor. Walaupun geng motor saat itu terpandang keren gitu yah di Bandung....

Cerita di novel ini terbilang tenang alurnya, tapi tetap ada banyak hal yang bikin gregetan banget!

Walaupun cerita tentang kisah anak SMA, tapi cerita ini tetap terkenang bertahun-tahun sampai si tokoh punya pasangan dan anak. Wah! Kacau nih. 

Cerita yang indah, tapi harus disesalkan. Kurang lebih begitu deh. Rasanya ingin menceritakan semuanya, tapi nanti malah pada gak beli bukunya lagi :P

Selamat mencari Dilan di rak best seller toko buku. :)



Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” ― Pidi Baiq, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Share with the world:

No comments:

Post a Comment

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic