Friday, October 30, 2015

Terus Berlayar

Ketika diminta untuk memilih "Gunung atau laut?"

Tentu aku akan menjawab laut dengan yakin. Banyak alasan yang tidak kamu tahu soal alasanku memilih laut sebagai tempat berdiam diri sementara waktu.

Laut lebih dari sekadar tempat wisata dan mencari uang. Di tengah laut, aku merasakan ada makna yang lebih dalam soal kehidupan.

Untuk berkenalan dengan laut, aku perlu bersahabat dahulu dengan kapal. Banyak macamnya, tapi hari itu aku mendapatkan kesempatan untuk mempercayai kapal kayu sebagai sarana migrasi.

Kapal kayu mungkin tidak mampu membuatmu nyaman akan fasilitas yang ditawarkan. Tapi ia mampu memberikan sensasi lain yang tidak kamu harapkan.


Butuh pengecekan berulang untuk memastikan mesin kapal tidak akan mati di tengah laut yang luas. Premium dan oli menjadi makanan tetap si kapal yang sebagian kayunya hampir keropos.

Meskipun sudah diberi makan, performa kapal belum tentu bisa sebaik yang kamu pikir. Ternyata ia tetap saja lambat dalam lomba lari di karpet bernamakan laut. Selalu saja ada kapal yang lebih cepat. Tapi perjalanan bukan berarti perlombaan. Pemenangnya adalah mereka yang bertahan dan sampai di tempat tujuan dalam keadaan baik. Hingga akhirnya, kapal terparkir tenang di dermaga sebuah pulau tak berpenghuni.


Tepi Pulau
Di salah satu tepi pulau, kutemui dermaga kayu yang hampir rusak. Mungkin ombak yang datang terlalu kuat. Hingga kayu melapuk kemudian patah. Lalu turun ke laut untuk bermuara. Biar ia menjadi bangkai.

Lalu aku duduk di salah satu sisi dermaga yang masih agak kokoh. Sayangnya kakiku tidak menyentuh permukaan laut. Jadilah aku duduk saja dan membiarkan suara angin serta ombak bergantian memasuki telinga dan hati.

Ada damai yang luar biasa saat aku diam sejenak. Laut seakan berkonspirasi dengan langit untuk membiarkanku tenang. Biar aku berbicara dengan bagian terdalam dari diriku.



Dermaga
Tapi, dermaga terlalu nyaman untuk dijadikan tempat berlama-lama. Go on. Seperti hari susur pantai. Ternyata pulau tak berpenghuni ini memiliki banyak sisi lain.

Lagi-lagi aku bertemu dengan pantai di hari kedua. Pantai yang ini beda. Jauh lebih sepi dibanding yang kemarin. Eksotismenya meradang. Memanggil kedua kaki kembali untuk berkenaan.

Siapa yang tidak tergoda atas godaan pasir yang terlalu halus dan karang yang menepi. Khusus dua hari itu, aku membiarkan sebagian tubuhku belang karena sengatan matahari.

Setelah merasa cukup, aku kembali menggunakan kapal kayu. Kamu tahu, setiap perjalanan, sesingkat apapun, akan membawa bekas. Mungkin itu yang membuatku sampai ingin menuliskan sedikit darinya melalui postingan ini. 

Selamat siang dan terus berlayar! :)
Kapal Kayu

Share with the world:

5 comments:

  1. tempatnya indah ya,bisa menghilangkan segala kepenatan,salam kenal,blog nya bagus

    ReplyDelete
  2. walopun kalo boleh jujur aku gabisa pilih salah satu antara gunung dan laut. Tapi laut emang punya keeksotisan sendiri. Rasanya kecil aja gitu kalo udah di hadapan laut luas :D

    ReplyDelete
  3. gue juga suka laut karena kalau liat laut ngerasa gue kecil sekali, ngga ada apa2nya dan tiba2 masalah yang gue hadapi juga terasa kecil :D
    gambarnya bagus retno :D

    ReplyDelete
  4. Gunung di tengah laut aja mbak hehehe. Nice (y)

    ReplyDelete
  5. @Ojik: iya nih seru banget, bisa ngilangin penat sementara
    @Nindya: hehe aku juga ngerasain hal yg sama ketika berada di laut
    @Hana: iyaaaa banget, han! Thank you anyway
    @Adbi: Thanks! :D

    ReplyDelete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic