Friday, October 16, 2015

White Lies

Saat lagi berdiri di tengah sesaknya Transjakarta, tiba-tiba saja suka bermunculan pikiran-pikiran random di kepalaku. Kebanyakan dari pikiran itu berupa pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menghinggapi pikiranku belakangan ini adalah "Bagaimana kalau seluruh orang dunia ini berani jujur?"

Bagaimana ya kira-kira? Sejauh ini insya Allah, aku selalu berusaha untuk jujur. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga lho aku nggak melakukan white lies untuk beberapa kebaikan. Sementara itu aku masih kerap berpikir kalau semua orang tidak lagi melakukan white lies supaya dunianya benar-benar diselimuti kejujuran, it will be good? Are you sure?

Secara nggak sadar, kita, dalam hal ini aku, pasti pernah secara tidak sengaja melakukan kejahatan berbalut kebaikan bernama white lies itu. Contohnya seperti anak rantau yang tinggalnya jauuuuh dari rumah orangtuanya. Suatu ketika anak itu mendapat telepon dari ibunya "Assalamualaikum, nak. Kamu gimana? Sehat? Uang masih ada kan?"



Simply anaknya akan menjawab "Waalaikumsalam, bu. Alhamdulillah sehat, bu. Masih cukup lah sampai akhir bulan."

Pada sepenggal percakapan itu, banyak kemungkinan kalau ada white lies yang tersimpan rapi dari setiap hela nafas yang dilakukan anak saat menjawab. Tapi, siapa yang perlu tahu? Ibu mungkin hanya perlu tahu kalau anaknya baik-baik saja, sehingga tidak perlu khawatir berlebih hingga menyebabkan migrain, sampai harus berobat ke rumah sakit, dan mengeluarkan banyak biaya.

Ibu tidak perlu tahu kalau kontrakan anaknya baru saja kecurian. Untung saja, laptop tidak sempat dibawa. Tapi seperempat uang bulanan yang sebenarnya untuk bayar kontrakan, terbawa oleh orang tak diundang tersebut.

Ibu tidak perlu tahu.

Biar anak berusaha sendiri pinjam uang sana-sini, atau berusaha sekeras mungkin untuk menambal hidup selama di perantauan.

Kebohongan kecil yang menyelamatkan.


source: http://www.picturequotes.com/lie-quotes/3

Atau ketika suatu hari ada perayaan ulang tahun perusahaan yang dihadiri para petinggi perusahaan serta partner. Pemotongan kue dilakukan oleh salah satu petinggi. Beliau mengambil pisau berpita itu dengan semangat, karena bangga telah diberi kesempatan menjadi pemotong kue di acara yang istimewa itu.

Salah satu hadirin yang datang terlihat ekspresinya tidak biasa. Ternyata ia lekat-lekat memperhatikan pisau yang digunakan si peninggi itu. Mulutnya seperti ingin berucap, tapi tertahan. Begitu terus. Sedangkan hadirin lainnya terus menyanyikan lagu yang kurasa seluruh orang di dunia tahu, lagu happy birthday. Tapi kue belum juga terpotong, meski kuenya tidak setinggi kue bolu yang dijual di toko kue pinggir jalan. Kurasa semua orang tahu apa yang kurang tepat. Pisau yang digunakan terbalik. Bagian gerigi malah berada di bagian atasnya, sedangkan yang digunakan untuk memotong adalah bagian rata nan tumpul.

Semua orang tahu itu salah, tapi tidak ada satupun yang mencegah atau diam-diam membisikkan si petinggi. They are good to use white lies.

Bayangkan kalau semua orang yang di ruangan itu adalah orang-orang yang benar-benar jujur. Satu-satu mereka meneriaki petinggi untuk membalikkan pisaunya. Mungkin si petinggi itu akan merah redam wajahnya. Malu bercampur marah. Jadi lebih baik dibiarkan saja. Toh, nantinya kue akan benar-benar terpotong. Meski mengeluarkan waktu yang lebih lama dari yang seharusnya.

Itu hanya contoh kecil dari white lies, meski katanya masih lebih banyak jenisnya. White lies can be so big thing to your life.

Demi menjaga perasaan orang yang kamu pikir perlu, sudah berapa white lies yang kamu gunakan?

Atau kuganti pertanyaannya, sudah berapa banyakkah kamu dijadikan korban white lies? 

Hahaha use your white lies wisely, but please don't comfort me with lies.
Share with the world:

3 comments:

Hana Bilqisthi said...

Hmm...
Somehow contoh kasus yang loe tulis bukan cuma masalah jujur..
menjadi jujur sama blak-blakan beda lho...
menjadi jujur dan ikut campur/peduli sama urusan orang juga beda..
loe bisa tahu seseorang salah dan memilih tidak memberi tahu

Retno Andini said...

@ Hana: iya han, dua hal itu agak gak bisa lepas menurut gue, selain itu gue belum keingetan contoh kasus yg lebih cocok. Jadilah kedua kasus itu yg ditulis karena paling melekat di ingatan gue hehe

Nindya Prayastika said...

kupikir white lies itu sah-sah aja selagi gak ada orang dirugikan. Tapi khusus di kasus ke dua, jujur pun oke. Toh gak ada salahnya kan saling mengingatkan. :DD

 
Designed by Beautifully Chaotic