Friday, November 20, 2015

Meet Hana

Heran. Sering sekali aku disebut kepo. Padahal, kupikir kepo yang kulakukan itu banyak manfaatnya. Mirip-mirip kayak multivitamin ya. Hahaha.

Setahun lalu, setelah selesai menandatangani kontrak kerja, naluri itu muncul. Rasanya penasaran sekali dengan suasana kerja kantorku nantinya. Kemudahan akses internet membantuku untuk mencari tahu.

Halaman depan Google menyapa hangat. Ku ketik beberapa keyword untuk mencari tahu work culture kantorku yang sekarang ini. Di halaman pertama hasil pencarian, aku malah menemukan link tumblr seseorang yang terlihat mendeskripsikan informasi yang kubutuhkan. Wah, senang sekali. Akhirnya kutelusuri halaman tumblrnya.

Yes, She is. Namanya Hana Bilqisthi. Ternyata dia calon teman sedivisi. Suka bercerita di tumblr dan blog. Sama-sama anak UI. Penampilannya seperti anak-anak rohis yang biasa kulihat. Itulah informasi awal yang kudapatkan melalui halaman mayanya.
Melalui header blog dan tumblrnya, terlihat tulisan “The Luckiest”. Jujur, aku agak heran dan sangat penasaran dengan perempuan ini dan keberuntungannya. Terlebih, aku belum pernah sama sekali bertemu walaupun kita pernah belajar di lingkup area yang sama.

Aku tidak sabar menyambut hari pertama bekerja dan bertemu Hana. Apakah ia seperti apa yang kubayangkan melalui tulisan-tulisannya? Atau malah aku dikelabui ekspektasiku sendiri? Entahlah.
Hingga hari pertama bekerja tiba juga. Aku bertemu dengan real Hana. First thing I get, I was wrong at all. Ternyata dia tidak seperti yang kubayangkan. Hahaha.

Kupikir ia tipikal muslimah kalem yang pendiam. Nyatanya tidak. Seringkali ia menghampiri rekan kerja di meja yang lain, mengobrol, atau bergumam sendiri. Bahkan, ia punya ciri khas yang tidak dimiliki orang-orang lain yang pernah kutemui. Tiap kali memasuki ruangan riset, ia selalu mengucapkan “Assalamualaikum...” Selain itu, ia juga sangat ekspresif terhadap apapun. Dalam sehari, ia mengucapkan beberapa kali “Jeng...jeng”. Awalnya aku tidak mengerti akan maksudnya. Sampai akhirnya aku tahu kalau itu merupakan ekspresi wajar dari seorang Hana.

Berganti hari dan bulan, aku semakin mengenal Hana.

Hana mengubah perspektifku soal cover seseorang. Karena selama ini, aku jarang sekali bisa dekat dengan seseorang yang penampilan hijabnya sudah hampir sempurna. Kemudian Allah mempertemukan aku dengan Hana. Kupikir ia merupakan salah satu muslimah yang open minded. Ia tidak hanya terbuka terhadap ilmu agama, tapi juga pengetahuan umum. Sehingga pandangannya tidak menyudut di satu bagian.

Kami suka mengobrol ngalor-ngidul berdasarkan teori. Sebagai orang dengan short term memory, aku senang sekali bisa bertemu dengan Hana yang memiliki memori jangka panjang. Ia masih mengingat banyak hal yang telah dipelajarinya semasa kuliah. Apalagi, aku juga punya ketertarikan akan dunia psikologi. She helps me a lot.

Sekilas, aku memiliki banyak sekali perbedaan dengan Hana. Namun, tidak menutup kemungkinan kami tetap melahirkan banyak topik untuk dibicarakan. Ya, karena akan selalu ada kesamaan walaupun tidak begitu banyak. Seperti suka membaca buku. Kami sering sekali saling meminjam dan meminjamkan buku. Meskipun kami tidak selalu menyukai genre yang sama. Tapi, itulah yang membantuku mempelajari hal baru, karena membaca buku yang tidak bergenre sama.

Selain buku, kami punya ketertarikan yang sama dengan salah satu penulis rubrik di majalah Time. Joel Stein. Setiap mendapatkan kiriman majalah Time, aku selalu mengecek tiap halaman. Ketika menemukan ada rubrik yang ditulis Joel Stein, aku langsung reflek bilang “Hanaaaaaaaaa, ada Joel Steiiiin haa.”

Anyway, di ruangan kami membebaskan ekspresi banget. Jadi, aku pun merasa bebas untuk bersahut-sahutan alias ngobrol jarak jauh. Rasanya jadi seperti berada di rumah kedua.

Pertemuan dengan Hana membuatku menyadari akan fungsi kepo dunia maya yang tidak 100% akurat. Untuk mengenal seseorang, memang cara yang paling baik adalah berbicara tatap muka, bukan. Ya, walaupun kepo tetap membuahkan banyak manfaat sih. :))

Terima kasih Hana sudah baik selama setahun ini. Keep positive dan menularkan semangat yah.

Semangat! :)

Baca tulisan Hana tentang saya disini: Retno Effect


Dalam rangka mengikuti #CeritaBerdua
Share with the world:

7 comments:

  1. Terharu gue :') Jazakillah khair Retno :D

    ReplyDelete
  2. akhirnya ketemu sama temen yg klop yak. hahaha
    yah, terkadang emang gtu sih, niatnya peduli tapi diartikan kepo oleh orang lain. serba salah.

    penasaran gue sama rubik yg d tulis oleh joe taslim itu, ntar gue baca deh.
    eh, namanya beneran joe taslim kan ya? mirip kyak pemain the raid yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya, pergeseran banget hehe. Anyway, nama penulisnya Joel Stein, bukan Joe Taslim :D Silakan dicari di majalah Time hihi

      Delete
  3. Uwww gemas banget sama persahabatan kalian. Semoga selalu kompak dan temenan sampe oma-oma yah:D
    Yuk kapan kapan kita nongki bareng~~~~

    cheers,
    ifa

    ReplyDelete
    Replies
    1. aah.. alhamdulillah.. makasih pujiannya iffah :D
      amin..
      btw, mau ketemuan kapan? :)

      Delete
  4. baca ulang postingan ini dan sukaaa :D tetep terharu :') makasih banyak Retno :D

    ReplyDelete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic