Wednesday, December 16, 2015

Kenapa Bulan Harus Terbelah di Langit Amerika?

Assalamualaikum, bloggers!

Menghitung hari menuju pergantian tahun, nih. Kayaknya seru ya kalau diisi dengan menonton film-film Indonesia yang berkualitas. Dalam bulan ini, ada beberapa film Indonesia yang resmi ditayangkan di bioskop-bioskop. Salah satunya adalah sekuel dari 99 Cahaya di Langit Eropa, yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sounds good, rite?

Bulan Terbelah Crew and Artists
Karena berkesempatan untuk nonton di Gala Premiernya tanggal 15 kemarin, aku mau cerita-cerita sedikit soal film ini. Sejujurnya, aku belum pernah nonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Padahal waktu itu sempat booming banget ya, sampai mencetak lebih dari 2 juta penonton. Aku lupa saat itu sedang sibuk apa, sampai nggak sempat nonton. Makanya untuk kali ini, gak mau banget deh ketinggalan lagi.

Sebelum menonton trailernya di Youtube, aku sempat dengar sedikit soal isu yang dibahas melalui film ini. Ya, tentang islamophobia dan dunia. Tentu sangat berkaitan ya dengan beberapa kejadian di dunia yang terjadi belakangan ini. Film ini berusaha menjawab sebuah pertanyaan besar, yang mungkin ada di benak tidak sedikit orang di dunia: Would the world be better without Islam?
photo from seleb.co.id


Apa jadinya? 

Hanum, seorang jurnalis muslim ditugaskan oleh atasannya untuk mewawancarai salah satu keluarga korban 9/11 yang dianggap sebagai pelaku di balik tragedi tersebut. Awalnya Hanum merasa keberatan dengan tugas tersebut. Namun akhirnya, ia tetap mengiyakan karena merasa tugas ini luar biasa dan dekat sekali dengan identitas dirinya sebagai muslimah. Dalam waktu yang bersamaan, Rangga, suami Hanum, juga memiliki tugas untuk mewawancarai Philipus Brown di AS, sebagai salah satu syarat untuk dapat meraih gelar doktornya.

Dengan latar Amerika Serikat, film ini mampu memberikan gambaran bagaimana kehidupan kaum yang dianggap minoritas. Selain itu juga sedikit menyentil perbedaan antara budaya timur dan barat.

Film ini memiliki alur yang tidak membingungkan, sehingga penonton dapat fokus menebak-nebak what's next tanpa harus blunder dengan arah penceritaan yang berbelit-belit. Begitu juga dengan porsi cerita yang ditampilkan dalam film ini, menurutku sangat seimbang. Meskipun film ini mengangkat tema yang cukup serius, namun tetap ada bumbu-bumbu yang membuat penonton merasa dekat dan related dengan apa yang terjadi di kehidupan pada umumnya.

Awalnya aku benar-benar expect nothing dari film ini. Namun pada akhirnya, aku malah terasa tersentuh di beberapa adegan yang disuguhkan. Sebagai muslim, aku jadi merasa harus lebih banyak belajar. Terutama belajar untuk bangga atas identitasku sebagai muslimah.

Film ini tidak akan membuatmu berubah drastis menjadi lebih baik. Namun, film ini dapat membuatmu berpikir berkali-kali soal apa yang kamu ragukan. Kemudian membuatmu lebih berani dalam mendapatkan jawaban. 

Terima kasih Indonesia Hijab Blogger untuk kesempatannya mengikuti gala premier film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Yuk, kita sebarkan unsur kebaikan dengan menonton film ini. Tayang perdana pada 17 Desember 2015. Pssst... Januari 2016 bakal tayang di Malaysia loh, jangan sampai kalah cepat ya nontonnya!

Ini trailernya:



Wasalamualaikum :)
Share with the world:

12 comments:

Hana Bilqisthi said...

Keren retno reviewnya :D suka :D

Retno Andini said...

Makasih Hana :'D

Anggi Swastika said...

Hai mbak Retno salam kenal, kemarin nggak sempat kenalan kita :(
Informatif mbak review nya :) sampai bertemu di event selanjutnya ya ^^

Edis Jun said...

Makasih Reviewnya...
Makin mantap buat Nonton neh...

Retno Andini said...

Halo Mbak Anggi! Iya, aku telat datengnya huhu :( iya sampai ketemu lagi ya :)

Retno Andini said...

Sama-sama... Iya, insya Allah gak nyesel hihi

NiaNastiti said...

Yg mau nonton musti bawa tissue ya Mba :D

Justisia Nafsi YuNITA said...

Hai Retno... Salam kenal.. :D

Retno Andini said...

Hai Nita, Salam kenal :D

Retno Andini said...

Hihi iya mbak, mesti siap sembab juga :"D

Adhy Nugroho said...

aku udah nonton, ini lebih "film" ketimbang 99 cahaya di langit eropa

Retno Andini said...

iya, banyak yang bilang begitu sih :D

 
Designed by Beautifully Chaotic