Thursday, March 26, 2015

Mandi Hujan

Pagi yang tidak begitu cerah, namun tidak berarti mendung. Itu yang kulihat melalui jendela kamar dengan tirai belum tersibak seluruhnya. Hawa middle seperti ini menyenangkan, tidak perlu membuatku repot-repot menutupi wajah karena takut kena pancaran sang matahari.
Karena perjalanan menuju kantor terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur, aku mencoba mengambil ponsel dari saku dan mencari simbol burung biru pada layar. Burung biru merupakan salah satu jejaring yang membuatku merasa tidak perlu takut ketinggalan informasi, terutama soal perkiraan cuaca dan moda transportasi. Salah satu akun terpercaya memuat sebuah kicauan tentang perkiraan cuaca. Mataku fokus terhadap wilayah Jakarta Pusat, yang katanya akan berawan seharian. Alhamdulillah, pikirku. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan, mengeringkan, dan kembali melipat payung.

Friday, March 13, 2015

Yang Kembali Terbangun

Kata orang, kita harus punya mimpi
Kata orang, kalo bisa yang setinggi langit
Kata orang, nggak ada kata terlambat

Yah, kata orang. Kalau kata kamu gimana? Hehe.
Sepertimya aku pernah beberapa kali memuat tulisan soal mimpi-mimpiku, dan ada mimpi yang belum juga terwujud sampai hari ini. Jadi bakal kutulis lagi disini, mungkin sampai benar terwujud.
Tahun lalu, aku diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan. Dan disini, aku bertemu dengan Hana, teman sedivisi yang ternyata berasal dari perguruan tinggi yang sama. Secara tidak sadar, ia telah membangunkan sebuah mimpi yang telah sengaja kukubur dalam-dalam beberapa kali.
Sampai hari ini ternyata aku masih memiliki keinginan yang kuat untuk yang satu ini. Silakan buka tulisan-tulisanku yang sebelumnya dengan tag: dream untuk mengetahui apa itu.

Terlambat Lagi

Beberapa pagi yang lalu, emosiku dibuat campur aduk saat menunggu bus di salah satu shelter Transjakarta. Shelter tersebut adalah shelter pertama untuk menaikkan penumpang, artinya bus yang datang dipastikan kosong dan siap menampung calon penumpang yang buru-buru berangkat ke kantor. Setelah menunggu sekitar 15 menit, bus yang ditunggu pun datang. Buru-buru aku masuk sambil berkompetisi dengan ibu-ibu untuk mendapatkan bangku yang bukan bangku prioritas. Pada saat yang bersamaan, bapak-bapak dan ibu-ibu yang menunggu dari antrean laki-laki marah-marah karena pintu belakang tidak bisa terbuka. How comes? :(

 
Designed by Beautifully Chaotic