Sunday, January 17, 2016

Review Jodoh - Fahd Pahdepie

Adakah yang sedang menjemput jodoh? Aku baru saja berhasil menjemput jodohku sekitar sebulan yang lalu. Alhamdulillah jodoh bisa dikirimkan ke rumah dalam keadaan aman. Mau tau bagaimana review tentang jodohku? Haha. Tenang. Keep reading ya. :)

Tergerak buat beli buku satu ini karena dapat info dari seorang teman soal pembukaan pre-order. Dengan harapan bisa dapat buku ber-TTD sekaligus tote bag yang bertuliskan Man Jadda wa Jodoh. Tentunya aku excited banget menunggu kapan buku itu bisa dikirimkan, sampai sempat bertanya lagi ke tokbuk online soal waktu pengiriman.

Suatu malam sepulang kerja, aku menemukan paket di atas meja ruang tamu. Terlihat dari bungkusnya, paket ini berasal dari parcelbuku.net. YEAY!

Akhirnya aku mencoba membuka bungkusan paket itu cepat-cepat. Eng ing eng....... Aku nggak menemukan tote bag yang dijanjikan. Setelah itu aku segera konfirmasi ke penjual soal ini. Kemudian pihak penjual menjelaskan kalau tote bag hanya didapatkan mereka yang melakukan transfer pembayaran lebih awal. Oh, dropped.

Rasanya aku langsung nggak mood buat baca buku ini. Sampai akhirnya aku merasa butuh untuk membaca buku. Sekitar seminggu setelah buku ini dikirim, aku mulai membacanya.

Buku ini menggunakan alur flashback atau maju mundur. Fahd, pengarang buku ini, menceritakan kisah yang dirasa terlalu awal untuk dimulai. Siapa sangka perasaan cinta bisa tumbuh subur sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD?

Sepertiga awal buku ini menceritakan kisah malu-malu anak di bawah umur yang merasa tertarik dengan teman lawan jenisnya. Kebetulan setting waktu yang digunakan tidak jauh berbeda dengan apa yang telah kualami. Aku bisa membayangkan bagaimana deg-degannya menelepon dan ditelepon melalui telepon umum. Kehabisan koin, gugup, diganggu teman, bahasa pembuka formal. Semuanya pernah kualami. Hingga aku merasa terhubung dengan cerita yang dituliskan Fahd. 

Sayangnya aku merasa bagian flashback soal masa kecil diceritakan terlalu lambat. Sampai aku merasa agak bosan untuk melanjutkan membaca buku ini. Jadi, aku hanya membaca sedikit-sedikit setiap hari ketika sempat. Buku ini selalu ada di dalam tas. Lihat saja, ujung atas kanan buku ini jadi agak terlipat karena harus bersesakan dengan banyaknya barang di dalam tas.

Setelah melewati 1/3 buku ini atau ketika Sena dan Keara memutuskan untuk berhubungan lebih dekat, minat membacaku jadi meningkat. Somehow, aku mulai merasa terbawa oleh tulisan filosofis Fahd. Disini lah aku mulai merasa kekuatan kepenulisannya.

Aku bisa dibilang senang sekali berkesempatan membaca buku ini. Karena pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalaku soal pola pikir laki-laki selama ini bisa terjawab sedikit-sedikit. Novel ini jujur menceritakan usaha laki-laki dalam menahan hawa nafsunya kepada perempuan yang disayanginya.

Juga tentang perasaan merasa berjodoh. Perasaan yang berbahaya buat sebagian orang. Kadang kita merasa berjodoh dengan sesorang. Sehingga menutup mata akan segala hal yang kita pikir menjadi penghalang. Nyatanya, jodoh masih urusan Tuhan. Kita tidak perlu repot untuk mencari pembenaran. Pada akhirnya jodoh yang sempurna adalah kematian. Iya.

Saat membaca sepertiga terakhir buku ini, aku menangis. Akhirnya aku bisa menangis lagi. Serius, lupa kapan menangis terakhir kali karena baca buku. Entah karena gaya penceritaan yang bagus, atau kebetulan mirip dengan beberapa kejadian yang aku alami, yang jelas aku tersentuh.

Salah satu dialog yang aku suka dari novel ini adalah ketika Sena memberi penjelasan kepada Keara:
Tuhan Mungkin tidak menuliskan cerita-ceritanya. Tuhan tidak menentukan kehidupan seseorang dari A sampai Z yang membuatnya tak bisa melakukan dan memutuskan apa-apa dalam hidupnya sendiri.
Novel ini aku beri rating 4/5 di goodreads. Diawali dengan kekecewaan, berakhir dengan kepuasan. Senang sekali Fahd telah menuliskan cerita yang terlihat jujur seperti ini.

Share with the world:

2 comments:

Hana Bilqisthi said...

hahaha bener banget retno :D membaca novel ini diawali dengan kekecewaan, berakhir dengan kepuasan. :D

ceria said...

Wah jadi pengen baca Mbak:)

 
Designed by Beautifully Chaotic