Monday, February 8, 2016

Sepasang Mata


Langit baru saja menghentikan tangisannya. Tapi tanah tetap saja basah, menyisakan bau petrichor yang tidak kusenangi. Aku benci hujan. Seperti seorang ibu yang tidak jauh berjarak dari tempatku berdiri. Sepertinya ia baru mulai membenci hujan. Dagangannya basah. Sayuran matang, gorengan, serta sambal merahnya menjadi basah tak berharga. Akibat hujan yang datang terlalu tiba-tiba sore ini. Ah, aku tidak tega melihat wajahnya yang murung seketika.

Sedangkan aku. Masih menunggu kopaja tua 502. Kata teman, buat apa aku naik kopaja di hari Jumat setelah hujan ini? Ia pikir aku takut dengan kemacetan. Padahal aku malah sedang rindu bukan main dengannya.

Pinggiran stasiun masih riuh. Beberapa pedagang berusaha menggelar dagangannya kembali. Pekerja kantoran lari-lari masuk entry gate sambil mengeluarkan uang elektronik dari dalam tasnya. Setiap orang yang kulihat tampak bersemangat mengejar waktu. Mungkin hanya aku yang ingin mengulur waktu dengan menikmati kemacetan dari atas kopaja.

Tidak lama, kopaja pun datang dengan semburan asap knalpot yang menyebalkan bagi kendaraan yang membuntutinya. Tapi aku tetap menyambutnya dengan gempita. Lalu kupilih kursi yang menurutku paling nyaman untuk menyandarkan tubuh. Kursi paling depan seberang kiri supir. Fuhh, senangnya dapat duduk.

Setelah seminggu rutin naik commuter line, akhirnya aku bertemu dengan hari ini. Naik kopaja dan melewati Cikini sehabis hujan. Kedai kopi sekitaran Cikini terlihat ramai oleh orang-orang berpakaian rapi. Mungkin kopi merupakan teman yang baik selepas hujan. Banyak kendaraan terparkir di sisi jalan. Membuat lalu lintas menjadi agak macet. Aku melihat jalanan depanku melalui kaca besar khas kopaja. Kemudian aku melihatnya lagi.

Sepasang mata.

Bayangannya terpantul pada kaca yang tengah kuperhatikan. Matanya masih sama, meneduhkan bagi siapa saja yang bertemu tatap.

"Hai, ternyata kita bertemu lagi," sapaku dalam hati.

Kemudian hujan kembali turun. Kaca kopaja kembali dibasahinya sedikit-sedikit. Akhirnya wiper terpaksa kembali bekerja. Aku merasakan hujan tidak hanya terjadi di luar kopaja. Hatiku ikut gerimis, karena pertemuan ini.

5 Februari 2016. Dadaku sesak, napasku menjadi tak beraturan. Untung saja sudah kukenakan masker sebelum naik kopaja ini. Semoga saja tidak ada yang ngeh dengan kondisiku saat ini. Kalaupun ada, anggap saja aku sedang tersedu karena lagu yang sedang dibawakan pengamen sangatlah menyayat hati. Padahal, lebih cocok memekakkan. Tak apa.

Aku ingat setahun lalu, kita sedang menikmati perjalanan sore di atas kopaja. Berharap hujan tidak membuat Jakarta macet. Lalu kamu bercerita tentang promosi jabatan yang baru saja diterima siangnya. Kemudian kamu ingin membayariku makan di salah satu kafe bilangan Cikini.

Tapi sayang, sesuatu yang tidak kita inginkan lebih dahulu hadir. Seorang pengamen yang suaranya tidak indah, menghampirimu. Meminta tas cokelatmu. Lalu kamu berusaha mencegahnya. Padahal aku sudah tahu laki-laki itu sedang mabuk berat. Badannya bau sekali alkohol. Namun kamu tidak mengalah, Rose. Kamu keras sekali, masih sama seperti delapan tahun lalu sejak kita berkenalan.

Kemudian kita tidak jadi makan malam untuk merayakan kenaikan pangkatmu. Malam itu menjadi malam tersendu, Rose. Aku tidak lagi mampu mendengar bisingnya kendaraan yang lalu lalang di sekitaran Cikini.

Sama seperti sore ini, Rose.


Flash Fiction---479 words.
Share with the world:

12 comments:

  1. Sedih.. Y____Y
    Sukses bikin gue mewek, oh rose..

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh serius sampe nangis? :') makasih ya udah baca :)

      Delete
  2. embak bikin FF keren euy....terharu biru membacanya nih :)

    ReplyDelete
  3. This is an awesome flash fiction ka reandine ^^
    aku awalnya baper, aku kira itu ketemu sepasang mata mantan atau gimana.
    Ternyata rose.
    Tapi aku masih mikir. sebenernya 'AKu' dalam FF ini cewe apa cowo ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kak Laili :D bebas sih mau intepretasiinnya cewek apa cowok, yang jelas mereka sahabat dekat :D

      Delete
  4. Aaaaaakh Mbak :D Flashfictionmu gila mba :") baguuuuus :)) aku sukaaa banget :3 AJARIIIIN :3 bahasanya enak :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai, makasih ya Febri :D aku juga masih belajar, yuk belajar bareng :D

      Delete
  5. Pas baca-baca komen di atas, gue baru ngeh kalo ternyata ini flash fiction x_x
    Keren mbak, aku suka. Hmm, kenapa gak coba bikin akun wattpad aja? Di wattpad flashfiction macam ini dilindungi sama hak cipta loh, mbak. Daripada nulis di blog... nanti karya mbak malah dicuri karena kan kalo di blog gak dilindungi hak cipta :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya emang fiksi, sorry ya udah bikin ngira kalo ini true story :D wah thank you sarannya, cuss deh bikin akun wattpad :D

      Delete
  6. Cakep banget dah. Ikut terbawa suasana ini hati ogut. Btw, Rose kemana saat ini ya?

    ReplyDelete
  7. WIIH keren banget flash fictionnya... terharu akuu =')

    ReplyDelete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic