Friday, July 15, 2016

Cantik dari Hati: Sebuah Refleksi Diri

Cantik dari Hati: Sebuah Refleksi Diri

Assalamualaikum readers.


Di luar sana, begitu banyak definisi cantik yang kita dengar. Saking banyaknya, kita kadang sampai bingung sendiri. Kenapa cantik harus seperti A? Kenapa definisi cantik di negara S berbeda dengan di negara D? Begitu juga dengan apa yang kita lihat di tv saat pemilihan ajang Miss Universe dan semacamnya. Finalis acara tersebut secara look tidak terlihat persis sama satu dengan lainnya. Lalu atas standar apa mereka bisa sama-sama berada di panggung megah? Oh ya, dasar penilaian kan dari beberapa bobot. Kecantikan di luar mungkin diperhitungkan, tapi ada value lain yang dipastikan berpengaruh besar untuk menentukan. Apa ya kira-kira?


Mungkin talenta?
Kemampuan berbicara?
Atau justru kepribadian?

Aku yakin, semua sudah tahu jawabannya. Kecantikan  yang tampak di luar tidak akan mampu bersinar jika tidak dibantu dari energi baik di dalam diri. People called it "true beauty".  Cantik dari Hati.

Semakin besar, kita diberi kesempatan untuk lebih banyak mengenal dan mengetahui orang-orang hebat. Ketika mengenal lebih dekat orang-orang tersebut, kita jadi tahu kalau kehebatan dan kecantikan yang terlihat di luar juga didukung dengan kepribadian yang menyenangkan banyak orang. Berikut hal-hal yang kupelajari dari mereka, untuk menjadi cantik luar dalam:

❤️‍ menjadi pribadi yang pandai bersyukur
Terkadang kita lalai, kalau kemampuan bernafas hari ini merupakan salah satu karunia-Nya. Maka dari itu, sepertinya perlu untuk mengingat hal-hal menyenangkan dari yang terkecil. Karena semakin banyak kita bersyukur, Allah akan semakin menambahkan nikmatnya. Luar biasa, kan! :D Cara bersyukur paling mudah adalah dengan menjaga nikmat dari kerusakan. Misalnya seperti kita telah diberi nikmat sehat, cara bersyukurnya adalah dengan menjaga tubuh agar tetap sehat dan terhindar dari sakit.

❤️‍ikhlas atas masa lalu
Cantik dari Hati: Ikhlas

Salah satu yang membuat kita merasa tidak tenang dan gelisah adalah mengingat-ingat terus masa lalu yang kurang baik. Lalu, bagaimana bisa berbagi kebahagiaan kepada orang lain, sementara kita masih sesak dipagari pikiran buruk sendiri? Cara terbaik adalah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Karena setiap diri harus yakin sesuatu yang buruk terjadi untuk digantikan dengan yang lebih baik.

❤️‍ berbagi dengan orang lain
Sejauh ini aku masih meyakini tentang konsep "menularkan kebahagiaan". Ketika kita berbagi dengan orang lain, akan ada energi baik yang akan kembali ke kita. Berbagi tidak harus dengan sesuatu yang bersifat material loh. Contohnya seperti berbagi ilmu. Meskipun ilmu tidak bisa terlihat secara kasat mata, Namun, kalau ilmu itu dibagi kemudian diamalkan, kita bakal punya kesenangan pluuus pahala.

Selain itu, berbagi juga bisa dari hal yang termudah. Dengan berbagi senyum saja, rasanya sudah cukup membuat orang kembali tersenyum kepada kita. Salah satu sabda Rasulullah mengatakan bahwa senyum adalah sarana terbaik untuk menyapa hati manusia dan menebarkan kesejukan hati di sesama insan. :)
❤️‍ berpikiran positif
Memiliki hati yang bersih dapat dicerminkan dari pribadi yang selalu melihat hal positif dari apapun. Karena hati dan otak selalu berhubungan dan mempengaruhi dalam menghasilkan sikap yang kita lakukan. Dengan berpikir positif, ternyata banyak dampaknya dan itu juga menjadi bagian dalam membentuk kepribadian seseorang. Setiap berusaha untuk berpikiran positif, kita menjadi lebih fokus dalam menghadapi masalah. Jadinya tidak membuang-buang waktu dan menguras energi, kan? :D

Berpikir positif juga dapat membuat kita lebih percaya diri dan bahagia. Wah, senangnya! Banyak dampak bagusnya untuk kesehatan juga. Bukan tidak mungkin, kalau ini akan menggiring kita menjadi pribadi yang sukses dan pastinya cantik. Karena selalu dipenuhi rasa optimis.

❤️‍ mendekatkan diri kepada Allah 
Kalau yang ini gak perlu diragukan lagi ya. Semakin banyak beribadah, hati pun senantiasa menjadi lebih tenang. Ketika kita sudah sampai di tahap itu, biasanya sikap kita yang lain pun bisa mengarah untuk lebih positif. Seperti misalnya sikap dalam mengambil keputusan, sikap dalam menghadapi orang lain, dan tentunya sikap dalam menghadapi masalah yang mampir di hidup kita. Lama-kelamaan, kita bisa terbentuk menjadi pribadi yang lebih asertif, deh. Aamiin...

Setelah menulis kelima poin di atas, aku jadi yakin akan sebuah hal: kita sebenarnya sudah tahu apa yang baik untuk diri kita. Lantas, kenapa tidak mulai melakukannya?

Postingan ini sengaja kuberi judul Cantik dari Hati: Sebuah Refleksi Diri. Tujuannya adalah supaya kita dapat mengingat-ingat, hal baik apa yang sebenarnya kita ketahui tapi belum dilakukan. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi untuk sama-sama melakukan refleksi diri. Apalagi ramadhan baru saja berakhir, jadi lebih semangat dong untuk mempertahankan kebaikan yang dilakukan ketika ramadhan. Atau justru malah menambah jenis kebaikan yang bisa dilakukan. Dengan lima poin di atas, aku harap sudah cukup untuk dijadikan basic untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi Cantik dari Hati.


Wardah Blog Competition Banner: Cantik dari Hati
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca sampai akhir.
Wassalamualaikum.

Share with the world:

6 comments:

  1. keren no :D gue ngga kepikiran :D
    makasih ya :D
    btw suka gambar2nya :D

    ReplyDelete
  2. Setuju, cantik dari hati itu yang paling utama, karena wajah dapat dipoles tapi hati nggak, alamiah :)
    Goodluck buat lombanya ya, refleksi yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa bener banget mbak, thank you yaaa😀

      Delete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic