Friday, September 2, 2016

Antara Padang Savana Dieng dan Alun-Alun Kidul Yogyakarta

Antara Padang Savana Dieng dan Alun-alun Kidul Yogyakarta

Holaa....assalamualaikum!

Sesuai janji-janji manis di beberapa postingan terakhir, aku mau melanjutkan cerita liburan selama 5 hari di Dieng-Jogja. Cerita sebelumnya bisa dibaca di Perjalanan Menuju Dieng

Hari kedua pagi buta, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju Bukit Sikunir. Sekitar jam 3 pagi, kami sudah siap untuk berangkat dari homestay Puspa Indah Dieng. Ternyata udara di luar jauh lebih dingin dari hari sebelumnya. Jalanan diselimuti kabut tebal. Gelap sekali, hingga jarak pandang mata terbatas. Oh ya, kami menggunakan motor. Bisa dibayangkan dinginnya seperti apa... Aku pakai kaos, sweater, jaket dan sarung tangan. Tapi tetap menggigil parah. Mungkin karena kondisi badan benar sedang kurang fit. Di tengah perjalanan, gerimis turun dengan sangat tiba-tiba. Membuat kami agak kecewa. Karena yang kami kejar di Bukit Sikunir adalah golden sunrise yang katanya luar biasa indah. Tapi bagaimana bisa terlihat kalau misalnya hujan turun begini? Huhuhu.


Situasi perjalanan menuju Bukit Sikunir terbilang sangat sepi, tidak banyak rumah penduduk di kiri kanan. Yang ada hanya kebun dan tebing. Di tengah perjalanan, kami bertemu rombongan lain dengan tujuan yang sama. Akhirnya kami bergabung dengan mereka alias konvoi menuju Bukit Sikunir. Karena mereka terlihat jauh lebih prepare, huahahaha.... Mereka menggunakan jaket fiber, jas hujan tebal, dan membawa traffic batton stick yang sungguh berguna banget untuk memandu kami yang awam soal konvoi. Karena sebelumnya aku nggak pernah menjadi bagian kelompok touring, konvoi dan semacamnya. Simply karena nggak tertarik. xD

Karena bergabung dengan mereka, aku jadi tahu kalau konvoi pun ada aturannya. Dimulai dari siapa yang memimpin di depan, di sisi kanan kiri, hingga yang paling belakang. Karena kondisinya sangat gelap dan gerimis, kami dianjurkan untuk pelan-pelan. Anyway, aku berada di bangku penumpang ya (teteup..), karena gak bisa mengendarai motor. Brrr..... Itu aja udah menggigil bukan main, apalagi aku gak bawa jas hujan tebal, cuma pakai jas hujan poncho 10.000an beli di Jakarta hasil inisiatif Kak Dety.

Di depan gerbang masuk Bukit Sikunir, hujan makin deras. Akhirnya kami berdiskusi mau lanjut atau menepi dulu. Setelah itu, akhirnya kami memutuskan untuk balik pulang saja ke homestay. Karena, percuma juga kan udah nanjak terus mataharinya nggak muncul? Huhuhu...

Sebelum balik ke homestay, kami menunggu kendaraan lain yang memiliki kesamaan niat. Sehingga bisa turun bareng menuju homestay. Alhamdulillahnya ada...... Jadi kami tetap merasa aman di tengah kabut yang tebal. Oh ya, saking dinginnya... mulut bisa mengeluarkan asap aduuuu norak. Tapi sayangnya, cukup membuat bibir sangat kering dan hidung terasa sangat aneh. Asliii ngeri banget mimisan :( Untungnya nggak. Masih gak kebayang sih gimana kalau jalan-jalan ke Eropa pas winter ya? Masya Allah.

Tiba di homestay, kami langsung ganti bajuuu! Soalnya celana basah kehujanan. Grrr... Abis itu bergelung dengan selimut lagi deh sampai pagi, dan benar ajaaa... mataharinya gak muncul! Huakakaka...

Akhirnya kami sarapaaan dengan badan menggigil! Huahaha. Ada seorang teman yang baik banget mau beliin kami sarapan di luar homestay. Jujur sih aku pasrah mau dibeliin makanan apa aja, yang penting bisa nambah energi! Aha. Akhirnya teman yang baik itu, Endang, datang bawa seplastik makanan dengan tusuk sate yang mencuat. Ternyata sarapan pagi ini pakai sateee! UNIK banget kan, di Jakarta mana ada yang jual sate jam 8 pagi hihihi.
Sate Ayam Khas Dieng Wonosobo
Yeay itu dia sate ayam yang jadi menu sarapan pagi di Dieng. Satenya agak berbeda dengan kebanyakan sate ayam yang dijual di Jakarta. Mulai dari bumbu kacangnya yang betul-betul lembut, mungkin diblender ya sampai sehalus itu? Beda sama di Jakarta yang teksturnya lebih kasar, tapi jadi ada rasa lain di mulut hehehe. Selain itu potongan ayamnya pun meuni tipiiiis :( Well, apalagi ini dibakar sempurna. Jadi bagian daging yang bisa dimakan benar-benar tipis, kak!

Bedanya lagi, kalau beli sate di Dieng itu gak dikasih acar. Tapi, langsung ditaburin aja itu bawang merah dan cabe rawit. Ow..ow...ow... Kaget pas buka bungkusnya, karena gak begitu mengidolakan bawang merah! Hahaha... Tapi itu semua tertolong dengan harganya. Sebungkus sate ayam (10 tusuk) dengan lontong, harganya cuma Rp10.000. Akkkkk murah. Alhamdulillah deh jadi hemat selama di Dieng. :D

Setelah sarapan, leyeh-leyeh, nonton tv, kami merasa sayang untuk membiarkan beberapa jam ke depan hanya di dalam homestay. Kenapa? Karena jam 1 siang, aku dan empat orang lainnya harus segera berangkat ke Jogja. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan naik motor, deh. Kemudian kami menemukan Plang Padang Savana Dieng. Wah, boleh juga!

Akhirnya kami memasuki kawasan tersebut dan memarkirkan kendaraan di tempat yang disediakan. Saat itu sepi sekali, bahkan kami tidak dimintai biaya tiket masuk. Yaudah deh, langsung aja kami naik bukit menuju Padang Savana. Suasananya asik banget di perjalanan, meskipun hidung dan bibir lagi kering-keringnya tapi aku tetap excited. 


Trek Menuju Padang Savana Dieng Wonosobo
Begitulah trek yang harus kami lewati menuju Padang Savana Dieng. Tidak begitu mengerikan, Tapi dinginnya udara di sana membuat kami berkali-kali harus mengatur nafas dengan baik. Di tengah perjalanan, salah satu anggota perjalanan merasa tidak sanggup untuk melanjutkan. Kami berusaha untuk mendukung dia tetap naik dengan merangkulnya. Tapi, sepertinya ia benar-benar tidak sanggup.  Akhirnya kami beristirahat sejenak di salah satu tempat singgah yang memiliki bangku-bangku dari batang pohon.
Singgah Sejenak
Saat itu, dua orang di antara kami mengecek jarak yang masih harus ditempuh menuju Padang Savana. Jadilah mereka, Tesi dan Endang, menanjak duluan untuk mencari tahu. Kami meminta mereka untuk memberi tanda kalau Padang Savana sudah dekat atau masih jauh melalui teriakan. Soalnya, kami ada kepikiran untuk turun saja apabila jaraknya masih jauh. Jam sudah menunjukkan pukul 11. Tapi udara sih tetaaap dingin dan Dieng tetap sepi kayak Jakarta jam 6 pagi hihihi...

Suara yang kami nantikan, tidak juga muncul. Kami terus menunggu sampai sekitar 15 menit. Akhirnya, kami memutuskan untuk naik saja! Eh, malah bertemu mereka. Jadi, mereka bilang sudah berteriak dari tadi tapi kami tidak mendengar suara apapun lho, serius! Nah lho, suaranya ditelan siapa?

Mereka bilang, Padang Savana belum dekat. Tapi ada pemandangan yang cukup indah apabila mau menanjak sedikit, tentunya tidak sejauh Padang Savana. Akhirnya kami sedikit menanjak untuk melihat keindahan yang dimaksud. Dan taraaa..........
Dieng dari Atas Bukit Pukul 10.47
Salah satu pemandangan yang bisa dilihat dari ata bukit. Seperti masih pagi sekali, kan? Soal suhu, jangan tanya deh! Suhu selama berada disana kurang lebih 10 derajat C. Hhhh.... Mungkin itu yang membuat kebanyakan warga lebih memilih beraktivitas di rumah. Kebetulan itu hari Minggu, tanggal 14 Agustus 2016.

Dari sisi yang berlawanan, pemandangan yang kami dapatkan tentunya berbeda. Sepertinya sih Bukit Sikunir, deh. Walaupun gak begitu yakin juga. Hahaha! Tapi ketinggian bukit sikunir dengan bukit yang perlu dilalui untuk mencapai Padang Savana tidak begitu jauh. Makanya saat foto di bawah ini diambil, aku merasa sejajar :p Hipotesisnya: foto di bawah adalah Bukit Sikunir. Nyahaha.....
Bukit Sikunir, 14 Agustus 2016
Lihat kabutnyaaaa, tebal banget yah.. Padahal udah jam 11 pagi dan gak ada matahari yang terlihat. Sedih. Tapi, saat berada di bukit dengan keadaan yang tidak begitu terang akan sinarmatahari, aku jadi merasakan sensasi lainnya (cie!). Dengan dipenuhi oksigen, bukit menjadi suatu tempat yang agak magis, bersama hembusan angin yang mencekik dan barisan serangga yang sedang menuju tumbuhan di sisi kiri kanan jalan setapak. Bukit itu sepi dan dingin sekali. Padahal rombongan kami 10 orang. Tapi tidak cukup untuk membuat bukit ini terasa ramai dan hangat.

Setelah puas berfoto-foto dan beristirahat, akhirnya kita turun ke parkiran. Loh, gak jadi ke Padang Savana? Nggak, karena jam 1 kita harus berangkat ke JOGJAAAAAAA~ I need Jogja very soon, karena nggak sanggup sama suhu udara disini. :'D

Ke Jogja naik apa?

Jauh hari sebelumnya, aku sempat bertanya-tanya soal penginapan ke homestay bu Jono Dieng yang katanya famous banget, saking murahnya untuk para backpacker. Selain soal penginapan, aku juga bertanya soal penyewaan kendaraan. Nah, kebetulan sekali adaaa! Dibantu dengan Pak Kelik yang sangat helpful, akhirnya kami bisa menyewa mobil untuk ke Jogja seharga Rp550.000. 

Tepat jam 1, pak supir yang akan mengantar ke Jogja pun datang. Namanya Pak Bangun. Yeay! Sebelum berangkat ke Jogja, kami minta untuk mampir dulu di tempat pembelian oleh-oleh. Sekitar 3 tempat pusat oleh-oleh kita datangiiii~ Ternyata standar harga oleh-oleh di Dieng memang lebih murah deh perasaan. Belanja banyak, gak nembus Rp200.000. I'm happy go lucky girl :D 

Setelah puas pilih-pilih makanan, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil full interior pink. Iya, mobil ini dalamnya pink semua. Berasa mobil hello kitty! :'D Perjalanan menuju Jogja alhamdulillah lancar. Jalanan menurun dari Dieng pun jadi terasa biasa aja, soalnya Pak Bangun nyetirnya alhamdulillah oke. Maklum, kemarin kan naik bus yang supirnya metal terus. Huks.

Sekitar pukul 5 sore, alhamdulillah kami tiba di Hotel Winotosastro Garden. Lokasinya di Mantrijeron, wilayah kampung turis. Jadi jangan kaget kalau lihat banyak bar dan kafe hits sepanjang jalan.

Tampak Depan Hotel Winotosastro Garden
Begitulah tampak depan tempat kami menginap. Foto diambil pagi hari saat kami mau pulang ke Jakarta. Untuk ukuran hotel bintang tiga, hotel ini memberikan service yang sangat baik. Dari mulai kerapian kamar, fasilitas di dalam kamar, breakfast, dan lainnya oke banget.

Sesampainya di kamar, kami beres-beres, mandi, sholat, dan siap-siap makan malam. Rencananya mau makan di Alun-alun Kidul. Tapi saat perjalanan menuju ke sana, kami menemukan warung tenda pinggir jalan yang menarik karena ramaaaaaaai banget. Namanya Tengkleng Bhenjoyo. Lokasinya masih di Mantrijeron. Ada yang udah pernah coba?

Warung tengkleng ini ramai banget. Kami sampai gak kebagian kursi, jadi makannya sambil lesehan deh. Asiiik. Yang menarik dari warung tengkleng ini, pembeli harus memilh dagingnya sendiri di wajan yang tersedia. Harga per ikat cuma Rp12.000. AMPUUUUN!

Tengkleng Bhenjoyo
Lihat pilihan dagingnya, banyak banget kan dan besar-besar. Hohoho... Kita juga bisa rikues pegawai warungnya. Apakah mau pedas, sedang, atau biasa saja. Aku pilih pedaaas. Ternyata beneran PEDAS. *salah pesan*

Tengkleng Bhenjoyo Siap Disantap
Rasanya? Jangan ditanya. Enak bangeeet. Racikan bumbunya pas dengan porsi yang menurutku gede,.Makanya aku gak habis. Bhahaha... Nggak ding, ini termasuk porsi yang biasa kumakan. Tapi berhubung badan masih kurang enak, jadi gak sanggup buat menghabiskan. Saat itu aku hanya memesan seporsi tengkleng dan teh manis hangat. Kalau tidak salah, jumlah yang harus kubayar Rp15.000. Heaveeeeen! Ini murah banget untuk makanan seenak ini. Ah, pengen lagi!

Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Alun-alun Kidul. Niatnya mau menyeruput wedang ronde. Sesampainya disana, ternyata ramai sekali. Padahal malam Senin lho. Kemudian kami mencari meja yang kosong. Kak Deti, Kak Mei, Kak Septi pesan wedang ronde. Tesi pesan roti bakar. Aku masih kekenyangan :| Yaudah, seru aja duduk sambil dikelilingi kereta-keretaan yang warna-warni. SERUUUU. <3

Kami duduk-duduk di Alun-alun sampai jam setengah 9 malam. Setelah itu balik ke hotel karena capek tsay! Keesokan harinya baru deh explore Gunung Kidul. Dari mulai pantai sampai Embung. Jadi postingan kali ini ditutup sampai sini dulu, ya! Semoga ada kesempatan buat cerita kelanjutannya soal Explore Gunung Kidul. See ya!
Sepeda di Alun-alun Kidul Keraton Jogja

Wassalamualaikum... :D
Share with the world:

5 comments:

  1. Seruuuu banget yah Mbak, perjalanannya. Saya blm pernah mendaki spt itu, jd klo baca ttg pendakian jd ikut dagdigdug juga, berasa ikut dalam cerita, hihihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaa, saya pun jg blm pernah mendaki sebelumnya... lumayan mbaaa, enakan di rumah aja haha

      Delete
  2. Iiih seruuu, dan tos aku pun bukan penyuka bawang hihihihi tengklengnya juga sepertinya yumi, makanan kali ini sakses & ngga failed ya Retno XD

    ReplyDelete

Leave your comment below :)

 
Designed by Beautifully Chaotic