Wednesday, August 8, 2018

Manusia Baik


Sabtu lalu bukan akhir pekan yang biasa buatku. Karena di hari itu, salah satu teman dekat akhirnya mengakhiri masa lajangnya di kota kelahirannya, bukan Jakarta. Tapi Karawang. Tanpa keraguan sama sekali, aku berencana pergi kesana dari jauh-jauh hari dengan seorang teman lainnya. Rencana awal, kami akan pergi kesana menggunakan travel.

Semalam sebelumnya, ada perubahan yang mengharuskan kita pergi terpisah. Ia dengan kereta lokal Tj. Priok - Karawang dengan jadwal keberangkatan jam 9.55. Sementara acara resepsi dimulai pukul 11. Baiklah, aku akan tetap berangkat jam 8 pagi dengan travel, khawatir Cikampek macet dsb. Eh, serius ini tuh harus berangkat sendiri?

Travel pada pagi itu tidak begitu penuh. Aku memilih bangku paling belakang dekat jendela. Karena kupikir mungkin ini posisi paling nyaman buat orang yang masih ingin melanjutkan tidurnya. Tapi ternyata salah. Posisi ini malah tepat bagi yang ingin merasakan perubahan kondisi ban saat menabrak sesuatu atau mengerem mendadak. Hmm, kok rasanya kayak naik bis malam begini? Dua setengah jam perjalanan kuhabiskan untuk mendengarkan musik, browsing, berkirim pesan, dan mengetahui update temanku yang sedang menunggu kereta lokal di Tanjung Priok.

Pukul 09.55, temanku mengabarkan kalau keretanya sudah jalan. Sedangkan aku sudah berada di Cikarang di waktu yang sama. Wah, alamat sih ini aku yang bakal kelamaan nunggunya! Demi menghindari kepanikanku, ia membagikan live location melalui whatsapp-nya. Semakin aku memantau lokasinya, semakin bikin aku mikir kapan dia beneran sampai di Karawang. 

Ketika travel memasuki Kota Karawang, aku menengok kiri kanan. Yang terlihat hanya kebun-kebun kosong dan beberapa gedung yang tidak kukenali. Padahal aku berharap dapat menemukan cafe, mc donalds atau apapun tempat yang layak untuk kusinggahi selama satu jam ke depan. Aku malah melewati gedung resepsi temanku, tapi memilih untuk tidak berhenti. Tidak ada tempat yang membuatku ingin memberi aba-aba stop ke Pak Supir. Jalanan makin jauh dan asing. Akhirnya aku turun di sebuah jalan besar, mengikuti penumpang lainnya yang turun di tempat yang sama. Kupikir, ah ada taksi online ini kan? Aman lah.

Pukul 10.30 aku berada di daerah Tanjungpura, sepertinya kawasan menuju terminal besar di Karawang. Sementara kulihat live location temanku, ia masih di Jatinegara. Hiks. Akhirnya dengan pasrah aku memasuki Alfamart terdekat dan membeli segelas teh tarik hangat. Lalu duduk di bangku depan Alfamart, sendirian. Menggunakan masker, berusaha menghindari udara di sana yang begitu panas dan debu jalanan yang terlihat cukup jahat.

Memang cara terbaik untuk killing time di pinggir jalanan berdebu ini hanyalah bermain ponsel. Sambil memperhatikan beberapa orang lain yang ikut singgah untuk merenggangkan badan di tengah touring. Aku merasa menjadi orang asing di antara mereka yang ngobrol menggunakan bahasa daerah.

Satu jam yang terasa cukup panjang, hingga akhirnya temanku mengabarkan kalau ia sudah tiba di Stasiun Karawang. Ia memberi saran agar aku segera memesan transport online dan membagikan live location. Oke, kita akan bertemu di venue ya.

Temanku mengabarkan kalau ia sudah diantar ojek online tanpa atribut ke venue pernikahan. Sementara aku masih kesulitan mendapatkan taksi online. Driver pertama memintaku untuk membatalkan order, katanya lokasi penjemputanku berbahaya. Hah? Bahaya gimana? Setelah itu ada beberapa driver juga yang langsung menbatalkan orderanku tanpa alasan.

Aku harus menunggu sampai orderan kelima, driver satu ini langsung mengontakku untuk mengetahui titik penjemputan. Dengan pengetahuan terbatas, aku hanya mengatakan "Alfamart Tanjungpura". Kemudian ia mengiyakan, seakan-akan ia bakal menjemputku di titik lokasi.

Tidak lama setelah itu, ia kembali menghubungiku. Mengabarkan kalau ia sudah hampir sampai, tapi tidak bisa menjemput di Alfamart. Sudah jam 11.45 dan aku mulai pasrah. Lalu aku menjawab "Saya perlu kemana pak? Tolong jangan cancel ya pak, saya ngga tau lagi harus naik apa ke tempat nikahan selain taksi online."

Kemudian ia memberi arahan kemana aku harus berjalan. Ia menyebut beberapa poin, seperti patung udang, belok kiri, dan tipe mobilnya. Sementara aku sama sekali tidak tahu dimana patung udang yang dimaksud. Aku malah berjalan ke arah kanan, jalanan makin sepi. Tidak ada keramaian maupun gedung-gedung. Hanya ada SPBU yang sudah tutup, warung makan pinggiran, dan beberapa angkot yang berhenti dan menyuruhku masuk.

Kemudian driver itu menelepon lagi, memberi penjelasan cukup panjang. Ah, ternyata arah berjalanku salah! Ia memintaku untuk kembali ke Alfamart, karena pada akhirnya ia juga berada disana. Sedangkan mobilnya diparkir agak jauh dari Alfamart. Sesuai dengan yang ia jelaskan di awal.

Siang itu, mungkin aku sudah cukup bau matahari. Melewati kedai dan tempat tongkrongan supir-supir terminal berkali-kali. Ada rasa takut yang kusembunyikan di balik masker wajah.

Setelah 30 menit bolak-balik berkomunikasi dengan driver, akhirnya aku berangkat juga ke venue. Kemudian driver itu menceritakan ada apa dengan Tanjungpura, perjanjian rute, dan beberapa peristiwa menakutkan lainnya yang bikin aku cukup ngeri.

Sedangkan aku masih bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat ia tetap mengambil orderanku dengan segala risiko? Padahal pulsanya pun sudah terkuras untuk meneleponku, waktu 30 menitnya terbuang untuk menunggu sementara jarak Alfamart - venue nikahan hanya 10 menit. Dan banyak pertanyaan lainnya yang singgah di pikiranku.

Di luar itu, aku merasa sangat bersyukur masih diberi penglihatan untuk meyakini masih adanya manusia baik di luar sana. Mungkin satu banding seribu, setitik dalam jutaan, atau samar seperti racun.

Pukul 12.10 akhirnya aku tiba di venue pernikahan teman baikku. Hari itu menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan di tahun ini, karena melihat temanku akhirnya saling menemukan. Wajahnya memperlihatkan kebahagiaan yang jarang sekali kutemukan. 💕



Share with the world:

1 comment:

NiaNastiti said...

Wah Retno datang ke nikahannya Hana ya. Hana keliatan sumringah banget, hehe. Itu aku jadi penasaran bahaya kenapa daerah situ?

 
Designed by Beautifully Chaotic