Tuesday, September 11, 2018

Mengunjungi Candranaya Old House

Kalau sebelumnya aku pernah ikut walking tour saat liburan ke Jogja, kali ini aku nyobain ikut walking tour di Jakarta. Kenapa? Kan Jakarta segitu-gitu aja? Ada yang menarik emangnya? Beberapa kali dapet pertanyaan semacam ini, kalau dipikir yaaa Jakarta memang seperti yang bisa kita lihat di televisi aja. Sesak, panas, macet, dan tentunya memiliki sejarah. Hal terakhir adalah alasan aku untuk ikutan. Karena sejak masa sekolah dulu, aku sama sekali gak suka pelajaran sejarah. Padahal anak IPS ya kaaan!! Iya begitulah, karena menghafal tahun-tahun penting dan nama-nama pahlawan cukup berat buatku.

Tahun ini, aku merasa perlu banyak berdamai dengan hal-hal yang selama ini cukup aku hindari. Salah satunya belajar sejarah. Aku mulai bisa menerima bacaan sejarah sebagai reading list di tahun ini dan alhamdulillah tercapai sedikit-sedikit. Begitu juga ikutan walking tour begini, cukup membantuku belajar dan menyesal kenapa gak dari dulu aja penasaran sama sejarah. Hehe.

Walking tour kali ini lagi-lagi penyelenggaranya @jktgoodguide (cek di Instagram). Ada beberapa rute yang ditawarkan, dan aku tertarik ikut rute Chinatown. Karena selama ini cuma suka dengar dan lihat bagaimana suasana Pecinan, Glodok di televisi ataupun media sosial. So, here we go! Pada walking tour kali ini, rutenya meliputi Candra Naya old house – Petak Sembilan market – Dharma Bhakti temple – Santa Maria de Fatima church – Toa Se Bio temple – Gloria food alley. Banyak ya? Apalagi di setiap perjalanan menuju ke lokasi, akan selalu ada hal menarik yang bisa kita lihat. Oke, aku akan coba cerita soal Candranaya old house yang buatku paling menarik dari rute ini.
 
Designed by Beautifully Chaotic