Friday, April 19, 2019

6 Langkah Sederhana Memulai Hidup Minimalis


6 langkah memulai hidup minimalis (sumber gambar: Pexels)
Pada suatu pagi, aku bersiap-siap mau pergi ke suatu acara. Lalu ketika buka lemari baju, terpilihlah satu baju yang bisa dibilang favorit karena lumayan sering dipakai. Sementara 80% isi lemari bisa dibilang super jarang dipakai. Karena merasa udah gak cocok, gak muat, atau udah gak sparks joy lagi kalau kata Marie Kondo. Setelah itu, aku langsung merasa kalau ada yang salah sama sistem penyimpananku --atau malah gaya hidupku--. Beberapa hari setelahnya, aku mengeluarkan baju-baju yang sudah memenuhi isi lemari tapi gak terpakai itu, dan mengalihkannya ke orang lain. Momen ini membuatku tersadar kalau sebenarnya aku hanya butuh sedikit baju di lemari! Kemudian aku berusaha mengaplikasikannya untuk barang-barang lain, seperti toiletries dan fashion items lainnya.

Berikut beberapa langkah yang aku lakukan untuk memulai hidup minimalis. Awalnya agak berat, tapi ternyata efeknya luar biasa 😁

1. Evaluasi pengeluaran

Selama ini aku paling anti mencatat pengeluaran dan pemasukan. Alasannya simpel, nanti malah jadi parno! Biarlah uang datang dan mengalir sekehendak kita tanpa dicatat~ Tapi mulai akhir tahun lalu, aku memaksa diri untuk iseng-iseng mencatat ini semua di aplikasi handphone. Aku menggunakan Monefy Pro, bisa dicari di playstore ya! Setiap kali aku membuka aplikasi, jujur rasanya was-was banget tiap lihat balance. Apalagi tiap akhir bulan ketika melihat persentase pengeluaranku mayoritasnya ada dimana. Jujur, kaget banget. Aku cukup mengalami shock therapy, yang akhirnya membuatku yakin untuk memulai hidup minimalis dan mencatat uang keluar dan masuk. Jangan-jangan pengeluaran kita yang terbesar itu sebenarnya nggak penting-penting banget. Nah lho!

Ternyata pos pengeluaranku yang cukup besar itu di bagian transportasi, entertainment, dan toiletries, Aku yakin teman-teman perempuan yang lagi baca blog ini, juga pasti ada yang sama denganku hihihi *cari temen*. Tenang, semua bisa diatasi kok girls! Sekarang coba mulai untuk mencatat segala pengeluaranmu ya, sedikit shock therapy yang ternyata bermanfaat.


2. Ubah moda transportasimu

Berhubung gak bisa sama sekali menyetir kendaraan, jadinya aku selalu tergantung sama transportasi umum. Beberapa tahun belakangan, rasanya lumayan dibikin bahagia sama kehadiran transportasi online. Bahkan dalam sehari bisa 4 kali naik ojek online untuk mobilitas dari rumah - kantor. Alasannya ya karena lebih hemat waktu dan ada banyak promo. Tapi ternyata setelah aku rekap dalam sebulan, pengeluaranku untuk transport tetap besar banget. Even udah pakai berbagai promo. Super sad! 

Kesadaran ini membuatku mengurangi intensitas penggunaan transportasi online. Sekarang aku lebih sering naik transjakarta dan angkot. Walaupun dalam sehari pasti tetap naik ojek online untuk separuh perjalanan rumah-kantor atau sebaliknya. Ternyata naik angkot tuh nggak se-amburegul yang kubayangin sebelumnya. Selama ini aku cuma terlalu terbiasa naik ojek online, jadi agak cranky kalau naik angkot terus abangnya ngetem. Tapi makin lama, ya dinikmatin aja naik angkot di Jakarta. Macet dikit, ngetem dikit, hitung-hitung latihan sabar guys! 😂


Setelah sekitar 3 bulan aku mengubah kebiasaanku, pengeluaran untuk transport pun bisa berkurang 50%. Amazing banget, bisa dialihkan untuk pos pengeluaran lain yang lebih penting kan jadinya!


3. Ketahui kebutuhan kulitmu

Perempuan itu paling lemah deh kalau udah masuk drugstore, belum lagi lihat skin care review yang ada di instastories selebgram. Rasanya pengen merem aja, biar gak perlu swipe up. 😆 Tahun lalu, aku beneran selemah itu. Tiap ada lipstik matte baru, langsung beli dengan diskon 20%. Dan itu bisa terjadi 2x sebulan. Misal harga satu lipstik Rp120.000, bayangin kalau setahun aku abis berapa? Tidak... Dan sedihnya, sebagian lipstik yang udah kubeli dengan impulsif itu ternyata gak cocok di bibir. Patah hati memang banyak tipenya guys~ Akhirnya lipstik-lipstik itu terpojok dan gak terpakai sampai tiba-tiba kadaluwarsa. Setelah itu, aku cuma bertahan dengan dua lipstik yang memang udah cocok sama aku. Saat ini aku paling cocok sama The Balm Meet Matte Hughes sampai repurchase. Bertahanlah sama yang udah pasti cocok aja. Eee maap ini lagi bahas apa?

Belum lagi soal skin care. Tahun lalu aku sempat keracunan produk skin care yang katanya super bagus dan cocok di wajah banyak orang. Langsung dong aku beli juga karena ku juga ingin glowing seperti Lisa.. Eh taunya, di wajahku malah menimbulkan efek jerawat yang gak ada kelarnya. Stres banget kan, jadinya malah ada tambahan pengeluaran untuk perawatan jerawat. Mau nangis aku tu... Gapapa, sekarang aku udah stop pemakaian. Nah tips buat kamu yang mau mencoba high-end skin care, belilah produk share in jar duluuu. Karena kalau beli yang full size takutnya malah gak cocok dan berujung kadaluwarsa karena gak terpakai.


Setelah aku diet make-up dan skin care, satu hal yang aku sadari: sebenarnya kebutuhan kulit kita gak selalu perlu yang mahal. Karena bisa jadi kulit kita udah cocok sama drugstore product. Karena sekarang udah banyak kok drugstore product bahkan produk lokal yang kandungannya benar-benar cocok dengan kebutuhan kulit kita.


4. Nongkrong juga butuh strategi

Karena kafe baru di ujung kota adalah godaan buat kita agar datang~ Akhir pekan selalu penuh dengan jadwal ketemuan sama teman? Mungkin banyak yang sama. Terus janjian di kafe A, B, C. Pas udah dateng dan pesan makanan, kok rasanya gak sesuai ekspektasi? Yha, kita sama lagi. Karena terlalu sering kecewa, lebih baik kita baca-baca review dulu di platform online. Jangan sampai uang yang kita keluarkan jadi sia-sia, guys! Apalagi sekarang malah banyak penawaran diskon untuk makan fancy.

Baca juga: Alacarte: Rahasia Jajan Banyak Tetap Hemat


Kalau misalnya biasa nongkrong seminggu sekali, coba deh diubah jadi dua minggu sekali aja. Pasti langsung terasa kok perbedaannya. Untuk waktu yang kosong, bisa diisi untuk jalan-jalan ke taman atau museum misalnya. Atau sesimpel di rumah aja sambil quality time dengan keluarga. Selalu ada substitusi kegiatan kok untuk tujuan yang baik. Karena belakangan juga aku lebih suka istirahat di rumah, sambil nonton film. Wah, ini juga bisa ngurangin budget untuk pergi ke bioskop!😍


5. Belanja baju sesuai kebutuhan

Nah, ini lagi yang cukup berat... Apalagi tiap lihat ada voal hijab seri baru yang keluar dari brand A, eh ada hijab e-commerce diskon up to 80% juga, Tolooong, aku butuh pegangan! Sesulit itu hidup di era media sosial yha. Been there, kok. Memang ada harga ada kualitas, gak bohong. Sempat beli hijab yang ratusan ribu, happy karena merasa worth it even rada pricey. Tapi lama kelamaan pas lihat di lemari, jadi mikir "dulu kenapa beli hijab ini ya?". Karena hijabnya bermotif, jadi gak mungkin untuk sering dipakai kan. Jadinya bosen juga, akhirnya dimasukin ke Carousell aja. Kalau sekarang, jadi lebih mikir untuk beli signature hijab melihat bakal dipakai cuma beberapa kali doang tuh sayang juga. Akhirnya sekarang cuma fokus beli hijab warna polos untuk pemakaian sehari-hari. Alhamdulillah.

Kalau dulu seneng banget mampir ke fast fashion retail, karena hawanya enak banget bisa beli baju sesuai season dan memang lucu-lucu! Makin kesini, udah bisa dikurangi intensitasnya. Psst, sekarang jadi lebih senang belanja di factory outlet. Agak nyesel, kenapa baru sekarang ya? Karena di FO, banyak barang dengan kualitas bagus tapi harganya super miring. Bener-bener mendukung banget buat perubahan gaya hidupku kini~


6. Percayalah kalau kamu yang mengenal dirimu

Kadang kita suka dengan mudah ter-influence pendapat orang, padahal hati nurani menolak. Lalu kita ikuti karena beberapa alasan yang sama sekali gak menguntungkan. Iya, kita semua pasti pernah ada di tahap ini. Menurutku, kita tetap perlu care sama diri kita sendiri. Ketahui apa yang sebenarnya kita butuhkan. Jangan biarkan suara orang lain mengubah apa yang sebenarnya kita udah yakini. Misal kamu udah yakin banget untuk stay for product A, tapi teman kamu bilang ada produk lain yang lebih bagus bla bla bla. Lalu bisa ditebak sendiri kelanjutannya.. Ehe.

Ah, jadinya panjang juga. Tulisan ini murni pengalamanku yang udah aku jalani, dan aku merasa jauh lebih baik saat ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kamu yang baru mau memulai yaa.. Atau malah ada tips tambahan yang seru? Boleh share di kolom komentar ya. Terima kasih! :D

6 comments:

Himawan Sant said...

Sependapat dengan konsep hidup minimalis.
Tadinya akupun jujur bisa dikatakan pemboros ..., apapun diingini dan kalau sudah kepengin itu tandanyaaa .. wajib dibeli.

Sampai-sampai kepikiran ngga bisa tidur gegara mikirin pengin segera beli barang yang diincar.

Tapi sekarang, aku lebih bisa mengendalikan keinginan yang bikin pemborosan begitu.

Diah said...

Sepakat nih sama konsep hidup minimalis.
Sepertinya udah mulai harus mengubah dan mengendalikan banyak hal .


Salam
diahestika.com

Melina Sekarsari said...

Hai, Mbak. Sebagai perempuan, godaan memang kerap datang mendera, ya. Apalagi urusan belanjaan. Soal fashion, dulu aku bisa banget ngerem. Jadi punya banyak tabungan? Nggak, soalnya jajanku banyak, wkwkwk ... Sekarang sudah jadi emak-emak, sudah nggak selera lagi deh jajan-jajan nggak penting. Bayar sekolah anak, mahal, gilak! Wkwkwk ... Semoga semakin kesini aku diberikan hidayah untuk lebih banyak mencoba resep baru biar nggak keranjingan lagi jajan di luar rumah, hihihi ...

dita said...

memang susah ya mengubah hidup jadi minimalis, terutama buat wanita. kalo saya lagi males beresin gitu, langsung yang harus dipikirkan adalah semangat berbaginya.
dengan semangat berbagi maka saya jadi lebih ikhlas buat mengurangi barang yang numpuk.

Retno Andini said...

@Himawan hehe pasti awalnya sulit ya mas, tapi lama-lama bisa juga kalo diusahakan :D

@Diah semangat mba :D

@Melina setelah berkeluarga, prioritasnya jd berubah ya mba. wah iya masak di rumah lebih hemat ya, kalo ini sih aku harus belajar juga XD

@dita banyak tantangan ya mba. setuju, semangat berbagi harus selalu ada, karena manfaatnya jg banyak bgt ya selain untuk mengurangi barang kita yg sudah over hihi

Dyah said...

Buat saya, pengeluaran terbesar adalah ... makan. Secara malas masak.

Kalau soal baju, nggak terlalu. Soalnya saya menganut pola 1 ganti 1. Jadi, kalau beli 1 baju baru, berarti ada 1 baju yang dibuang (misalnya rusak) atau disumbangkan. Jadi isi lemari tidak berlebih. Masalah cuma muncul kalau dapat hadiah atau pemberian baju. Kan nggak mungkin buang yang masih sering dipakai juga. Itu saja yang menambah isi lemari.

 
Designed by Beautifully Chaotic