Thursday, March 19, 2020

Pandemi dan Jakarta

Hampir lupa rasanya, atau malah tidak pernah merasakan sebelumnya, keluar rumah dalam keadaan was-was. Tapi hari tetap harus berlanjut. Perasaan itu terus menghantui, dimulai dari aktivitas pertama yang dilakukan setelah membuka pagar rumah. Apakah helm ojek online yang akan aku pakai ini bersih dan aman? Setelah dipakai, buru-buru kuambil hand sanitizer dari kantong depan tas ranselku. Kusemprotkan kedua telapak tangan untuk membuat diriku merasa lebih tenang.




Aktivitas selanjutnya dilakukan di halte bus yang berisi puluhan orang bergantian masuk dan keluar bus. Mereka menggunakan masker, sibuk melindungi diri sambil sesekali melihat jadwal bus pada layar yang tersedia di sisi kanan halte. Hariku kini penuh prasangka. Mungkin saja aku merasa tidak aman duduk di sebelah bapak itu. Atau bisa juga ibu di sebelahku merasa tidak nyaman berada di dekatku. Pernah sesekali aku batuk dengan kondisi menggunakan masker. Tenggorokanku gatal. Hey, ini wajar saja terjadi kan saat haus? Sepersekian detik kemudian, anak berseragam sekolah di depanku langsung berpindah ke pintu menunggu bus yang lain, sekitar 2 meter dari tempatku berdiri. Sebegitukah rasa takut itu lahir dan tumbuh di diri setiap orang saat ini?


Semakin hari, orang-orang terlihat semakin takut. Corona menjadi topik yang ditemukan di kantor, ruang keluarga, ataupun di koridor halte. Mereka –termasuk aku— saling menjaga jarak antara satu sama lain. Tapi kondisi lama-lama membuat kami merasa tidak dapat terus-terusan melakukan ini. Kami tetap duduk berdempetan saat berada di angkot, bertransaksi dengan uang kertas yang hampir lusuh saat membeli sesuatu, dan hal-hal lainnya yang sungguh tidak bisa dihindari. Setelah itu, aku tetap mencari hand sanitizer untuk kedua tangan. Lama-lama tangan menjadi sangat kering karena terlalu sering terpapar alkohol.


Hari ini merupakan hari terakhir masuk ke kantor sebelum akhirnya diinstruksikan untuk work from home –bagi sebagian orang—. Entah kenapa, langit di luar terlihat lebih memilukan dari biasanya. Sumbangannya berupa hujan deras, jalanan yang tergenang, dan mundurnya waktu tiba di rumah. Di balik jendela angkot, seorang penumpang terlihat ikut bersedih dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa hidup tidak adil, karena tetap mengharuskannya datang ke kantor selama work from home dilaksanakan. Tidak setiap hari sih, tapi ia merasa tanggung jawabnya terlalu berat di tengah kondisi ini. Melihat banyak teman lainnya yang benar-benar dapat bekerja di rumah secara penuh.
Sepertinya ia sedang lupa, kalau di belahan bumi lainnya ada yang lebih pantas untuk menangis saat ini.

Semoga semua dapat segera kembali baik seperti semula, agar ketakutan-ketakutan ini berganti dengan banyak senyum ketenangan.

16 Maret 2020

2 comments:

Gustyanita Pratiwi said...

Wah stay save ya ni
Eno skrg uda jadi pns ya, syukur deh klo uda ada aturan kerja dari rumah

Retno Andini said...

Iya alhamdulillah mba bisa kerja di rumah. Mba Gusty juga stay safe ya :)

 
Designed by Beautifully Chaotic