Wednesday, May 6, 2020

Film The Help - 2011 : Lesson Learned

Beberapa film diciptakan untuk menghibur, beberapa film lainnya diciptakan untuk mengubah hidup banyak orang. Mungkin ini yang aku rasakan setelah selesai nonton The Help. Am I too late to watch this movie? I hope not. Sepanjang nonton film ini, aku malah merasa sedang berada di waktu yang tepat untuk melihatnya. Film ini mengangkat tentang isu diskriminasi ras di Amerika dengan latar tahun 60-an. Pada masa itu, diskriminasi sangat kental terjadi sehari-hari pada para pembantu berkulit hitam di rumah orang-orang berkulit putih di Kota Jackson.


Lebih dari 120 menit pemutaran, kita disuguhkan dengan berbagai macam sarkasme dan lelucon yang dapat membuat kita tertawa sekaligus miris. Film ini ternyata juga mampu mengeluarkan sisi-sisi lain kita sebagai manusia untuk bercermin. Kondisi yang sedang kita alami di sekarang mungkin berbeda. Diskriminasi ras mungkin sudah tidak terlalu nyata terlihat. Tapi tidak menutup kemungkinan masih ada bentuk diskriminasi lain yang secara tidak sadar dilakukan kepada orang sekitar kita. Beberapa adegan yang cukup membuatku tertegun dan memberiku pelajaran adalah sebagai berikut:

- Liburan?
Seorang maid menceritakan kepada teman-temannya kalau ia dijanjikan akan diberikan liburan gratis oleh majikannya. Maid tersebut menceritakan sambil tertawa karena mengetahui apa yang majikannya katakan hanyalah rayuan agar ia mau bekerja. Padahal liburan gratis itu bisa jadi hanya gimmick yang tidak perlu dianggap serius.
Dari adegan tersebut, aku memahami kalau tidak perlu juga untuk mengiming-imingi sesuatu yang terlihat malah merendahkan orang di sekitar kita. They are human, too. Bersikaplah sewajarnya kepada orang yang membantu kita di rumah, di kantor, dan dimanapun itu. Karena mereka juga manusia dewasa yang bernalar. :')

- Pisah toilet
Ada sebuah adegan dimana Hilly sedang bertamu di rumah temannya dan tiba-tiba ia ingin buang air kecil. Namun ia berusaha menahannya, karena tidak ingin menggunakan toilet yang pernah digunakan oleh Aibileen, maid berkulit hitam di rumah itu. Aibileen tersinggung karena mendengar percakapan itu. Sementara pemilik rumah itu mulai berpikir untuk membuatkan satu toilet lagi khusus Aibileen, agar tidak perlu menggunakan toilet yang sama dengan yang lain.
Well, it hurts to see. 
Inilah part yang cukup bikin sesak, apalagi kalau benar-benar pernah terjadi pada masa itu. Seakan-akan kita lupa kalau mereka punya perasaan juga. Tapi mereka berusaha bertahan untuk membuatnya kebal agar dapat tahan bekerja disana demi penghasilan. Life may seems unfair, ya? Padahal kita tahu juga kalau perbuatan sekecil apapun yang kita lakukan terhadap orang lain, akan kembali ke kita. So be careful.

- Kasih sayang bukan sedarah
Pada film ini, kita akan melihat bonding yang kuat antara maid dengan anak majikannya sejak kecil. Mereka memperlakukan bayi-bayi berkulit putih dengan baik. Bahkan juga mengajarkan banyak hal yang tidak diberikan oleh ibu mereka. Di luar hal ini, kita juga pasti pernah dengar atau lihat bagaimana kasih sayang itu tidak selalu muncul dari keluarga. Kemudian kasih sayang itu menjadi oksigen untuk kita bertahan hidup sehari-hari secara tidak sadar.
Para maid ini terlihat tulus melimpahkan kasih sayangnya kepada anak-anak majikannya, tanpa peduli apa yang telah majikannya lakukan terhadapnya. Katanya, jika kita sudah dapat mencintai musuh kita, kita adalah pemenangnya. Hmm.. 

- Tuduhan adalah makanan
Para maid harus siap untuk mendapatkan tuduhan macam-macam tanpa ada bukti kebenarannya. Sedangkan majikan tentu melakukannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sudah menjadi hal yang umum terjadi pada film itu. Terkadang mereka hanya bisa diam meski kecewa, pergi apabila sudah diminta meninggalkan rumah untuk tidak bekerja lagi.
Padahal, mungkin mereka juga butuh hak untuk bicara memberikan penjelasan. Rasanya tidak layak untuk menganggap diri menang atas orang-orang tidak berdaya yang membungkam dirinya untuk kalah.

Masih banyak pelajaran yang bisa didapatkan melalui film The Help ini. Hal yang paling menarik adalah bagaimana para maid membalaskan dendam mereka dengan mencurahkan perasaan mereka kepada Skeeter, sosok yang sangat berpengaruh pada film ini. Melalui cerita ini, aku mengetahui kalau mereka juga ingin didengar dan ditanya atas perasaannya. Kalau kamu punya waktu, please nonton juga film ini ya dan share ke aku!

Anyway selama self isolation ini, aku jadi lebih sering nonton film-film yang sudah lamaaa banget ingin ditonton. Masih banyak yang mau aku share di blog ini hehehe, Hope to see you guys in another post. :D

No comments:

 
Designed by Beautifully Chaotic