Tuesday, November 30, 2021

Manusia Ruangan Kaca

Pagi ini sedikit berbeda. Aku memasuki ruangan kaca itu tanpa menyapa siapapun. Tidak ada yang datang hari ini. Seperti mimpi, kondisi ini ternyata bisa terjadi di pertengahan tahun 2021 yang penuh kejutan. Aku menyalakan komputer, membuka beberapa aplikasi yang kubutuhkan mengisi hari. Ada tautan menuju pekerjaan rutin, kotak surat elektronik, halaman rapat daring yang segera dimulai, dan pemutar musik digital yang baru saja kuperpanjang masa langgannya. Semuanya berusaha mencuri perhatian. Belum sampai setengah hari, aku merasakan kekosongan yang luar biasa pada ruangan ini. Biasanya selalu ada cerita-cerita ajaib yang terdengar di tengah padatnya jam kerja. Penghuni ruangan ini begitu berharga. Mereka adalah tempat dimana kebahagiaan-kebahagiaan kecil tersimpan rapi dan kesedihan-kesedihan besar yang selalu terasa dibagi rata. Mereka seperti layaknya keluarga. Bekerja adalah aktivitas yang begitu menyenangkan apabila dilakukan bersama mereka. Dari pagi hingga menuju pergantian hari, kemungkinan kita sedang sama-sama berada pada halaman website yang sama. Menyelesaikan pekerjaan harian yang kadang terlihat tidak ada titik terangnya. Lagi-lagi, merasa tidak sendirian merupakan sebuah kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Melihat usaha mereka dan aku sendiri yang selalu berusaha memenuhi ekspektasi banyak orang, terkadang terasa melelahkan sekali. Karena akan selalu ada kekurangan yang bisa dinilai, serta kesalahan yang bisa dijatuhkan. Di dalam ruangan kaca, ada banyak cerita soal bagaimana perasaan gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain. Sepertinya kita pernah lupa, kalau kita tentu tidak bisa membuat semua orang senang. 

Friday, September 17, 2021

What's Yours Will Find You

Sore ini sedikit mendung tapi senangnya belum begitu terasa bikin gerah. Sebelum keluar gedung kantor, jadi kepikiran untuk naik Transjakarta aja pulang kantor kali ini. Soalnya... yah udah lama banget gak naik TJ pas pulang, alias selama PPKM ini terbiasa naik Grab karena a lil bit parno. Padahal, naik TJ juga aman-aman aja insya Allah karena ada ketentuan prokes yang bikin penumpang merasa lebih safe.

Yaudah yuk, ke Halte Carolus! Sampai lupa rutinitas apa yg biasa dilakukan saat pulang naik TJ. Oh ya, pasang headset buat dengerin Spotify. Terpasanglah salah satu lagunya Kings of Convenience on repeat, karena lagi suka-sukanya. Kondisi di dalam Transjakarta sore itu agak lengang, aku beberapa kali dapat kesempatan untuk duduk. Tapi aku akhirnya memilih untuk duduk saat sudah setengah perjalanan. Aku hanya mendengarkan musik dari ponsel yang kutaruh di kantong celana sebelah kanan. Nggak ada yang aneh. Walau biasanya aku taroh di kantong tas atau jaket karena lebih mudah dijangkau. Iya, sore ini agak berbeda.

Setelah hampir mendekati halte lokasi transit, aku bangun dari kursi sambil memegang pegangan pada besi di atas kepala. Akhirnya aku jalan mendekati pintu keluar bus. Terlihat headset yang kukenakan kini menggantung terputus dengan induknya, alias si ponselku satu-satunya itu. Pantas suara musiknya terhenti. Ketika keluar dari bus dan berada di halte, aku berusaha menyambungkan kembali headset dengan ponselku. 

Lho, tapi ponselku kok nggak ada di kantong? :(

Sunday, July 18, 2021

Hari ini Senang, Besok Belum Tentu

Memasuki bulan ketujuh di tahun 2021, ketika banyak hal asing semakin sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bangun pagi, buka mata, melihat tampilan chat masuk yang memuat berita duka kerabat. Siang hari, di tengah padatnya to-do list yang perlu dikerjakan, terdengar pengumuman dari pengeras suara masjid sekitar rumah tentang kepulangan seorang tetangga. Rasanya begitu egois kalau ingin mengatakan masa ini begitu sulit, karena tentunya kesulitan ini juga dialami banyak orang di luar sana. Terlebih bagi mereka yang menjadi bagian dari kehilangan, kepergian, kepulangan segala hal yang dicintainya.

Mata tidak begitu kering lagi kini, karena keadaan membuatnya belajar menjadi lebih sensitif. Tangisan berkali-kali mengalir bersamaan dengan kesedihan yang seakan-akan tidak ada habisnya. Berapa banyak orang di dunia ini yang ingin menanyakan "sampai kapan?". Kalau saja ada yang memiliki jawaban atas pertanyaan yang terlihat sederhana ini.

Ponsel seperti kebanjiran berita. Sosial media dan messenger sepertinya berlomba-lomba ingin lebih dahulu memberitakan. Alih-alih membuat tenang, malah bikin resah tidak karuan.  Namun tidak ada tempat untuk bersembunyi. Mungkin ini waktunya kita mempergunakan mata, hati, dan telinga sebagai mestinya. Semua terasa secukupnya saja sudah lebih dari cukup.

Kalau hari ini sedih, semoga besok bisa senang. Kalau hari ini senang, simpan senangmu baik-baik karena saudaramu sedang sedih. 


 
Designed by Beautifully Chaotic