Tuesday, November 30, 2021

Manusia Ruangan Kaca

Pagi ini sedikit berbeda. Aku memasuki ruangan kaca itu tanpa menyapa siapapun. Tidak ada yang datang hari ini. Seperti mimpi, kondisi ini ternyata bisa terjadi di pertengahan tahun 2021 yang penuh kejutan. Aku menyalakan komputer, membuka beberapa aplikasi yang kubutuhkan mengisi hari. Ada tautan menuju pekerjaan rutin, kotak surat elektronik, halaman rapat daring yang segera dimulai, dan pemutar musik digital yang baru saja kuperpanjang masa langgannya. Semuanya berusaha mencuri perhatian. Belum sampai setengah hari, aku merasakan kekosongan yang luar biasa pada ruangan ini. Biasanya selalu ada cerita-cerita ajaib yang terdengar di tengah padatnya jam kerja. Penghuni ruangan ini begitu berharga. Mereka adalah tempat dimana kebahagiaan-kebahagiaan kecil tersimpan rapi dan kesedihan-kesedihan besar yang selalu terasa dibagi rata. Mereka seperti layaknya keluarga. Bekerja adalah aktivitas yang begitu menyenangkan apabila dilakukan bersama mereka. Dari pagi hingga menuju pergantian hari, kemungkinan kita sedang sama-sama berada pada halaman website yang sama. Menyelesaikan pekerjaan harian yang kadang terlihat tidak ada titik terangnya. Lagi-lagi, merasa tidak sendirian merupakan sebuah kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Melihat usaha mereka dan aku sendiri yang selalu berusaha memenuhi ekspektasi banyak orang, terkadang terasa melelahkan sekali. Karena akan selalu ada kekurangan yang bisa dinilai, serta kesalahan yang bisa dijatuhkan. Di dalam ruangan kaca, ada banyak cerita soal bagaimana perasaan gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain. Sepertinya kita pernah lupa, kalau kita tentu tidak bisa membuat semua orang senang. 

Ada kalanya hari-hari yang datang selalu dipenuhi suka cita. Makan siang bersama menjadi kegiatan perayaan yang selalu kami sukai. Seluruh pesanan makanan ditaruh di meja tengah yang selalu tampak penuh dengan buku pedoman pekerjaan. Hanya pada waktu siang, meja itu dapat berbagi fungsi menjadi saksi perayaan kecil kami. Sayangnya, itu dulu. Ketika pandemi belum mengubah segala sesuatunya. Tidak menyangka, efek pandemi juga memaksa masuk ruangan kaca ini. Setiap tahun selalu ada masalah yang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tuan rumah pun tidak selalu dalam kondisi siap menerima sesuatu yang datang. Apalagi dengan apa yang terjadi pada pertengahan tahun ini. Siapa yang tidak was-was ketika selama bekerja, suara ambulans terdengar rutin bersahutan melewati depan kantor. Belum lagi dengan gedung sebelah yang pernah dijadikan tempat isolasi dari pemerintah setempat. Dari ruangan kami, melihat orang ber-APD dan mendengar teriakan orang di tengah masa isolasinya, menjadi suatu kebiasaan baru pada saat itu. Banyak hal yang memaksa dicerna cepat-cepat ketika serangkaian kejadian yang terjadi seperti efek domino. Pandemi membuat kami jarang bertemu utuh. Namun kami selalu berusaha bertukar kabar melalui ponsel. Semoga Ibu sehat-sehat ya. Semoga sehat selalu ya. Kata-kata yang mengalami perluasan makna ketika pandemi datang.

Satu persatu kabar datang dari ruangan kaca, sayangnya bukan sebuah kabar baik yang ditunggu-tunggu. Mohon maaf saya positif. Kabar yang sama dari beberapa orang yang berbeda dalam kurun waktu satu bulan. Setengah anggota dari ruangan kaca akhirnya harus berperang melawan virus yang sedang populer di seluruh dunia ini. Rasanya sisi-sisi kaca ruangan ini ikut berembun kedinginan. Pada akhirnya, kami hanya bisa saling menjaga dengan jarak doa. Hari-hari selanjutnya berjalan terasa lebih berat dari biasanya. Bekerja jadi tidak semenyenangkan sebelumnya. Begitu banyak hal yang perlu diselesaikan bersama-sama. Mereka yang sedang berjuang melawan sakitnya, kulihat masih juga bekerja dengan intensitas yang tidak sedikit. Kami masih sama-sama, kok. Berbagai keluhan datang mengenai hasil kerja kami yang terasa tidak senormal biasanya. Setiap harinya, pesan masuk enggan berhenti membanjiri kotak surat elektronik kami. Tidak ada yang bisa kami pastikan selain berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan keadaan kami yang semoga segera baik-baik saja. Hari-hari di masa ini memaksa kami untuk terus beradaptasi dengan keadaan. Segala formulasi bekerja dilakukan agar tetap bisa terasa menyenangkan dan mencapai tujuan. Di tengah-tengah usaha kami beradaptasi, berita duka datang lagi dari ruangan kaca ini. Salah seorang teman, yang sebenarnya sudah dianggap ibu sendiri, baru saja kehilangan dua anggota keluarganya dalam waktu berdekatan. Lagi-lagi, otak dipaksa mencerna segala kejadian dalam waktu yang amat singkat. Tuhan, badainya belum selesai ya? Bersamaan dengan itu, ruangan kaca kini benar-benar kosong. Seluruh isinya sama sekali tidak bertemu fisik selama adanya pembatasan sosial dari pemerintah setempat. Kami semua berada di rumah dengan perjuangannya masing-masing. Berita duka ini telah menjadi puncak kesedihan di bulan Juli. Terlalu pagi untuk mendengar tangisan di seberang ponsel. Aku yang baru terbangun dari tidur, hampir tidak bisa membedakan apakah berita ini adalah bagian mimpi yang tertinggal? Sayangnya, ini bukan mimpi. Pesan duka terus-menerus menguap dalam notifikasi aplikasi berwarna hijau itu. Seakan-akan menyadarkan aku untuk melakukan sesuatu. Sementara, aku sendiri sudah tidak sanggup untuk menghubungi temanku yang baru saja mengalami kehilangan itu. Hanya satu baris kata-kata yang dapat kukirimkan. Serta karangan bunga dari kantor yang terlihat cantik karena ditambahi banyak mawar merah. Padahal tidak ada permintaan khusus yang kusampaikan pada toko bunga yang kuhubungi pagi-pagi sekali waktu itu. Sepanjang pagi hanya ada tangisan yang belum mereda pada kedua mata. Begitu juga yang terjadi pada tiap penghuni ruangan kaca itu. Kesedihan ini terasa milik kami seluruhnya. Ruang rapat virtual minggu itu tidak hanya dijadikan sebagai media koordinasi pekerjaan, tapi juga media doa bersama untuk yang baru pergi dan ditinggalkan. Kita sama-sama kok, bu.

Setelah hari itu, kami berusaha sedikit demi sedikit merestorasi energi yang sempat hilang tidak sedikit. Setiap harinya, kami makin rutin saling menanyakan kabar dan kondisi keluarga di rumah masing-masing. Hidup harus tetap berjalan, seperti pagi yang selalu datang walau malam terasa lebih panjang menetap. Mengalami kehilangan secara beruntun tentu bukan hal yang mudah untuk bisa diterima baik-baik. Tapi kami selalu berusaha saling meyakinkan kalau segala hal yang telah terjadi ini adalah bagian dari rencana terbaik-Nya.

Aku selalu memiliki keyakinan kalau senang akan tiba pada waktunya, ataukah kesedihan yang membuat kita lebih menghargai senang? Karena setelah melewati momen-momen itu, rasanya setiap momen kebersamaan selanjutnya perlu lebih diingat dan didokumentasikan. Sebagai pengingat kalau kita pernah menang dan senang.

Dua puluh hari setelah kabar duka itu datang, kami sudah hampir bisa merasa baik-baik saja. Hal-hal yang sempat terlewat dan terlupakan akhirnya bisa kami tanggapi dengan baik. Bulan Juli tahun 2021 menjadi salah satu rentang waktu yang akan kuingat sepanjang hidupku. Pada bulan itu, aku mengenal banyak emosi baru melalui manusia pada ruangan kaca. Pada bulan itu, aku mengenal definisi keluarga lainnya yang tidak bisa selalu bertatap muka. Keberadaan mereka telah menjadikanku manusia dalam bentuk yang baru.


Salemba, 20 Juli 2021

1 comment:

Anisa AE said...

Ceritanya related banget sama hampir dua tahun ini yang masih dilanda pandemi. Keren ceritanya. :)

 
Designed by Beautifully Chaotic