Tuesday, March 15, 2022

Hari-Hari Isolasi Mandiri

Halo! It's been a while..

Alhamdulillah akhirnya bisa kembali mengisi blog ini sebagai tulisan pertama di tahun 2022. Well, padahal udah pertengahan Maret ya! Hehe, karena di tahun ini ternyata banyak sekali kejutan yang terjadi since day one. Ada hal-hal yang nggak pernah kuperkirakan terjadi, malah terjadi. Suatu hari di bulan Februari, aku melihat sebuah gambar dari akun Instagram @thegangoffur, sebuah buku cerita anak, yang isinya kira-kira begini 

"Saat yang terjadi tak sejalan dengan rencana, bukankah itu reminder bahwa kita cuma hamba?"

Deretan kata-kata itu ternyata dapat menenangkan diriku yang saat itu sedang dalam masa isolasi mandiri yang cukup melelahkan. Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan dapat bertahan berhari-hari di dalam satu ruangan dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Berhari-hari, aku mencoba untuk mencari apa yang sebenarnya sedang Allah persiapkan untukku melalui istirahat panjang yang diberikan di bulan Februari. Mungkin aku perlu benar-benar istirahat sejenak. Mungkin ini bonus atas kesibukan di waktu sebelumnya yang telah melewati batas. Atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang belum kudapatkan jawabannya hingga saat membuat postingan ini.

Saat pertama kali mendapatkan hasil PCR yang tidak sesuai harapan, sesungguhnya nggak ada perasaan kecewa sedikitpun. Karena aku sudah merasa berusaha maksimal melewati gelombang 1 dan 2 sampai akhirnya mungkin agak lelah dan kalah pada gelombang 3. It's okay. Aku hanya ingin dapat melakukan isolasi mandiri sesuai anjuran pemerintah dan mengonsumsi obat-obatan yang membuatku yakin kalau virus ini tidak akan tertinggal dan berdampak panjang pada kesehatanku. And the good thing is, sistem telemedicine pada gelombang ketiga ini sudah terbilang baik. Aku bisa dengan mudah mendapatkan obat dari Kemenkes dan tentunya juga dari klinik kantorku. Terima kasih bagi yang sudah bekerja keras untuk membuat semuanya terasa mudah! Semoga bagi teman-teman yang sedang isoman juga merasakan kemudahan akses untuk bantuan kesehatan ya.. Jangan lupa untuk selalu update informasi soal ini.

Meskipun aku nggak kecewa karena positif, tapi perasaan panik itu selalu ada. Aku panik takut menularkan yang lainnya, juga takut membuat banyak orang lainnya panik. Jadi, aku memilih untuk nggak memberitahu banyak orang tentang kondisiku saat itu. Selain teman kantor, mungkin hanya kurang dari 10 orang terdekat yang mengetahuinya dan itu memang disengaja. Just because, I feel secure enough. Walaupun sekarang pada akhirnya jadi tahu juga yah kalau tulisan ini terbaca. LOL.

Pada awal masa isoman, aku ingin menantang diriku untuk lebih produktif. Ingin menyelesaikan banyak bacaan dari buku-buku yang sudah terbuka segelnya namun belum terbaca, ingin menulis dan menggambar apa saja, ingin menonton film. Tapi lagi-lagi, manusia memang cuma bisa berencana. Ternyata badanku memang disuruh untuk beristirahat secara penuh, di luar menuntaskan kewajiban bekerja dalam rangka work from home. Jadi aku hanya bisa tidur, tidur, dan olahraga sesekali. Nggak nyangka juga, aku bisa super lemas dan dehidrasi saat minggu-minggu awal. Ditambah sesak nafas yang rasanya ajaib banget karena membuatku secara nggak sadar menjadi terlatih untuk bernafas dari mulut. :')

Hari-hari isolasi mandiri membantu untuk lebih mengenali diriku sendiri. Ternyata aku nyaman dengan diriku sendiri, tapi ternyata aku juga sangat merindukan interaksi dengan orang lain. Aku butuh bertemu. Dan salah satu hal yang paling kusyukuri, aku memiliki support system yang baik. Mungkin mereka yang telah membuatku tetap waras melewati 20 hari yang begitu berbeda dari hari-hari yang sebelumnya.

1 comment:

Jasa Pengiriman said...

selama isolasi mandiri selalu berfikir positif biar bisa sembuh lebih cepat

 
Designed by Beautifully Chaotic